Microogreen Mengatasi Kekurangan Pakan Sapi

Masalah ternak petani kecil (peasan) adalah problem tenaga dan waktu karena ketersediaan pakan yang instabil. Menambah jumlah ternak adalah menambah beban. Yayasan Odesa Indonesia menawarkan gagasan penyediaan pangan berbasis microgreen, termasuk jenis pangan pendukung lain seperti sorgum dan Bunga Matahari.

TADI sore (Minggu 29 Juli 2018) berbincang dengan keluarga Mang Toha, petani di Kampung Waas, Desa Mekarmanik, Kec. Cimenyan, Kab Bandung, yang juga memelihara sapi potong, yang sebagian besar sapi titipan. Di kandangnya terdapat 26 ekor sapi. Seekor sapi setiap hari sekurangnya harus menyantap 40 kg rumput. Berarti untuk 26 hewan ternak itu harus tersedia sebanyak 1.040 kg alias 1,04 ton per hari.

Menyediakan pakan ternak sebanyak itu bukanlah perkara enteng. Karena di lingkungan sekitarnya tidak lagi terdapat rumput yang dibutuhkan. Maka Toha harus bergerak lebih jauh keluar wilayah Cimenyan. Tentu mustahil menggunakan sepeda motor. Menyewa mobil bak terbuka adalah jalan keluar yang paling mungkin.

Sekali perburuan rumput, Toha harus merogoh kocek Rp 250 ribu, belum termasuk uang bensin. Sementara sekitar 1 ton rumput yang dikumpulkannya paling lama hanya cukup untuk dua hari. Setelah itu dia harus kembali pontang-panting mencari makanan untuk sapinya. Seharian dia bisa berada di Majalaya (Bandung selatan) atau Tanjungsari Sumedang, baru pulang larut malam.

Jika dua hari sekali dia harus mencari rumput dengan menggunakan mobil sewaan, berarti dalam sebulan Toha mengeluarkan biaya angkut sebesar Rp 3.750.000. Belum lagi biaya untuk makanan tambahan agar sapi lebih sehat dan gemuk. Bagi petani kecil dan konvensional seperti dirinya, jumlah tersebut tentulah membuat sesak dada. Tapi tidak ada pilihan lain.

Dengan kondisi sulitnya rumput, sementara para peternak banyak yang tidak memiliki kemampuan lebih mencari pakan, tidak heran jika sering ditemukan fisik sapi yang tidak bagus. Risiko lebih lanjutnya, tentulah berpengaruh pada harga jual. Maka keuntungan berlipat yang sewajarnya diperoleh pun melayang.

Kesulitan rumput di kawasan Cimenyan akhir-akhir ini, diakui Sumpena, warga Cisanggarung Cikadut. Menurutnya, sekitar tahun 2009 pakan untuk ternak masih bisa diperoleh di perbukitan atau tegalan yang dipenuhi rumput. Namun seiring pembangunan fisik yang terus merangsek, lahan tempat tumbuh rumput pun terus berkurang.

Microgreen sebagai alternatif

Menurut pendamping ekonomi Yayasan Odesa Indonesia, Basuki Suhardiman, para pembuat kebijakan dalam bidang peternakan, banyak yang tidak mengetahui secara detail masalah-masalah yang dihadapi para petani di tingkat bawah. Termasuk kesulitan memenuhi kebutuhan pakan ternak.

Kekurangan daging sapi, seringkali diatasi dengan membuka selebar-lebarnya kran impor. Sekian lama tidak juga ditemukan cara jitu untuk memenuhi kebutuhan itu dengan mengandalkan produksi sendiri. Meski Basuki sendiri mengakui, ada sejumlah faktor lain yang menyebabkan impor harus tetap dilakukan.

Menyinggung tentang pakan ternak, Basuki menekankan perlunya segera diupayakan penyediaan pakan yang tidak bergantung pada rumput. Yaitu dengan mengalihkannya pada microgreen. Sejumlah negara seperti Australia dan Amerika Serikat sudah lama mengembangkan microgreen.

Microgreen adalah sayur-sayuran yang dipanen di awal, antara 7-14 hari ketika tumbuh beberapa inci dan baru keluar dari tahap kecambah. Para koki ternama biasa menggunakan microgreens sebagai penghias makanan. Banyak pula yang menjadikannya bahan dalam salad. Ada banyak jenis tumbuhan yang bisa dijadikan microgreen seperti arugula, lfalfa, selada, kacang hijau, kapri, kedelai, dan bunga matahari.

“Microgreen ini mengandung empat hingga enam kali lebih banyak nutrisi dibandingkan tanaman yang sudah tumbuh besar. Selain bagus untuk manusia, bagus pula untuk ternak. Sekaligus menjadi salah satu cara mengatasi makin berkurangnya rumput,” ujar Basuki.

Basuki juga memperlihatkan dua kantong microgreen yang berbahan kacang hijau hasil budi dayanya. Kemudian Basuki mengunyah tumbuhan muda yang segar itu. “Saya sudah membuktikan, ternak sangat menyukainya. Tapi sayangnya, harga kacang hijau masih mahal. Saat ini sekitar Rp 25.000 per kg,” tutur Peneliti Comlabs ITB ini.

Menurutnya, sudah waktunya pemerintah memikirkan hal tersebut. Peran pemerintah sangat dibutuhkan, antara lain untuk menekan harga kacang hijau atau bahan microgreen lainnya. Dengan demikian, pakan ternak alternatif ini bisa diproduksi dengan murah.(Enton Supriyatna/odesa.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*