Keluarga Pak Wahdar, Beginilah Keadaan Petani

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia
Mereka melakoni hidup semampu usaha mereka. Status mereka oleh negara dimasukkan sebagai golongan keluarga Pra-Sejahtera. Tapi seumur hidup tidak pernah mendapatkan tindakan dari negara.

Namanya Wahdar, usianya 47 tahun. Tinggal di Kampung Tareptep, bertani di Kawasan Oray Tapa, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Wahdar termasuk petani yang oleh Toha dipilih untuk bergiat bersama bersama Odesa Indonesia. Saat pembentukan Grup Pertanian Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani), Wahdar menjadi pendamping Toha sebagai sekretaris.

Siang itu saya menemuinya untuk keperluan perluasaan pertanian lebih lanjut. Sebab sebelumnya, penanggungjawab Kegiatan Ekonomi Keluarga Petani dari Odesa-Indonesia, Basuki Suhardiman, memberikan laporan terkait dengan perkembangan kegiatan pertanian yang dilakukan Toha dan Agus pada urusan Sorgum dan Bunga Matahari.

Karena saya memiliki tugas untuk perluasan jejaring basis, saya menemui Pak Wahdar, yang diang itu sedang bersama keluarganya mempersiapkan beberapa jenis tanaman sayuran. Dalam pandangan kami, Pak Wahdar tergolong petani yang cakap dalam kerja, komunikatif, dan memiliki etika yang bagus. Sebelum masuk pembicaraan rencana pertanian barunya, seperti biasa kami ngobrol banyak hal. Salahsatunya adalah soal keluhan hasil pertaniannya yang serba sulit.

“Pak, kalau ada teman yang mau beli tanah itu besan saya mau jual,” kata pria yang memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

badar petani hotani cimenyan e1525009763286

Maksud Pak Wahdar menyampaikan hal itu siapa tahu nanti saya bisa bantu penjualannya ke teman-teman saya dari kota. Tetapi Pak Badar juga tahu, sebenarnya saya dan teman-teman tidak pernah tertarik urusan jual-beli tanah. Bahkan semaksimal mungkin melarang petani menjual tanah sembari kita membantu modeling pertanian baru yang lebih menguntungkan. Kasus jual tanah seperti besan Pak Wahdar ini bukan hal yang baru. Hampir setiap waktu ketemu petani juga ada yang menawarkan penjualan tanah. Semua karena desakan hidup. Ada yang karena dililit hutang, ada yang karena untuk pernikahan anaknya, ada pula yang karena alasan ingin membangun rumahnya yang sudah mau runtuh.




Banyak petani di Cimenyan ini kadang tidak lagi menghargai hak milik sebab mereka berpikir buat apa memiliki tanah kalau bertani juga tidak menyelesaikan masalah ekonomi. Mereka bisa berpikir seperti kebanyakan orang lain, tanah dilepas, toh nanti bisa kerja mengurus ladangnya. Jika tidak diserahi mengurus tanah mereka bisa mencari kerja perkulian sebagai buruh tani. Soal berapa hasilnya, mereka sudah tahu, bahwa bekerja di tanah sendiri atau di tanah orang lain itu sama-sama tidak mengubah keadaan hidup mereka. Nah, karena sama-sama miskin, dengan menjual tanah itulah mereka bisa sedikit lapang terbayar hutangnya, atau bisa mengawinkan anaknya, atau membenahi rumahnya.

Lepas pembicaraan santai, kami berbincang soal rencana tanaman baru. “Maaf Pak Dar, janji saya agak lambat karena ketersediaan bibit bunga matahari masih sedikit. Bibit kelor juga harus menunggu empat bulan. Jadi kita mulai bulan mei ini saja semuanya. Satu persatu harus dimulai. Kami modali bibitnya, modali tenaga kerjanya supaya dapat uang di awal. Pak Wahdar selanjutnya mengurus perawatan dan pupuknya. Nanti soal hasil panen kami semua yang membeli,” jelas saya singkat sebagai pengulangan standar kerja relasi antara pengurus Odesa-Indonesia dengan para petani.

Pak Wahdar setuju hal itu karena sudah sering kami komunikasikan modelnya. Petani yang sudah aktif berkomunikasi dengan pengurus Odesa-Indonesia mudah setuju karena program Odesa Indonesia realistis. Kami punya prinsip, jangan membebani petani yang hidupnya sudah banyak beban. Bibit harus gratis. Jangan persulit disuruh ambil jauh. Kita antarkan sampai ke lokasi. Kemudian kerjanya juga diberi insentif sekalipun akan ditanam sendiri. Karena mereka punya ternak dan pupuk tercukupi, maka kita tidak usah memodali pupuk. Lagian dalam konsep pertanian Odesa-Indonesia tidak akan menggunakan pupuk komersil. Semua sudah ada standarisarinya. Apalagi bertanam tanaman herbal, tak perlulah repot-repot pupuk kimia yang harus dibeli. Sudah ada cara yang baku sebagai standar operasional pelaksanaan. Dan yang terpenting nanti hasil panen diuruskan sebelum mereka mampu mengurus sendiri. Kalau misalnya ada kegagalan jangan bebani kegagalan, sebisa mungkin harus dikasih penghasilan sekalipun hasilnya belum menguntungkan. Itulah sikap kami supaya mereka bisa bangkit dari keterpurukan.

Lebih tiga bulan tidak ketemu keluarga Wahdar karena saya mencukupkan hubungan dengan Toha. Tetapi untuk urusan yang prinsipil kadang saya harus tetap komunikasi langsung, termasuk berbicara didengar anak, menantu dan istrinya. Hal itu ternyata membuat situasi lebih bagus. Sebab selama ini mereka bekerja memakai asas kekeluargaan, bukan asal profesi. Mereka adalah golongan peasant (petani kecil) yang mengurus ekonominya bersama anak, istri, saudara dan kerabat sebelum mereka mampu membayar orang lain. Hidup matinya mereka bersatu dalam setiap kegiatan. Dengan cara itu mereka bisa berhemat biaya, karena pada petani golongan kecil seperti Pak Wahdar ini jangankan modal satu juta rupiah. Untuk memodali dengan tiga ratus ribu rupiah saja urusan bisa bikin pusing tujuh keliling.

Dulu waktu kami pertama mengenal kehidupan petani di Cimenyan, terkadang sulit mengerti arah hidup dan model ekonominya. Mereka bisa bertani secara baik, rajin bekerja, terlibat aktif penuh antusias. Sukaduka hidup mereka jalani dengan mengolah tanah. Mereka baik dalam artian memikirkan hidup untuk lebih baik. Naasnya, modernisasi di Kota yang terus merayap ke perdesaan (berjarak hanya 14 Km dari Pusat Kota Bandung) tidak serta mereka melibatkan mereka dalam kesempatan penuh peluang perdagangan. Hasil panen mereka tidak pernah jelas untuk sebuah perolehan keuntungan.




Mereka bekerja tanpa berpikir beralih profesi karena kemampuan dan batinnya sudah lekat dengan dunianya sejak mereka lahir. Bagi mereka menjadi pengolah tanah mengembangkan ternak kecil dan budidaya tanaman adalah urusan hidup dan mati karena itu tiada berpikir beralih profesi. Orang seperti Pak Badar tak memprotes nasibnya, tetapi mereka mendadak lemas manakala kita interograsi berapa modal dan berapa keuntungan dalam waktu yang ditentukan itu.

Pak Wahdar termasuk orang yang mendadak lesu setiapkali ditanyakan keuntungan bertani. Mereka berekonomi untuk urusan yang paling penting, yaitu makan, dan kecukupan rumah tangga—sekalipun jauh dari kecukupan secara stabil.

Mungkin urusan makan bisa diburu dalam keadaan apapun, tetapi urusan listrik, pakaian, sanitasi, termasuk perbaikan rumah benar-benar sulit. Hasil tani yang utama adalah untuk makan sekeluarga dan sisanya untuk modal tani lagi, termasuk membayar sewa tanah yang dikelolanya, sebesar lima juta rupiah setiap tahunnya. Itu saja. Maka jangan tanyakan urusan sekolah. Sekolah bagi petani seperti Pak Badar adalah beban, yang itu menyebalkan jika terus-menerus dibicarakan, apalagi dengan pertanyaan, “mengapa anaknya tidak bersekolah”.

“Tani, ya begini-begini saja. Asal kerja saja. Ndak bisa mikir yang lain,” keluhnya.

Sepengetahuan kami selama dua tahun berelasi dengan puluhan petani, mereka ingin maju. Tetapi tidak tahu bagaimana cara berekonomi yang maju dengan kemampuan yang ada dari mereka. Bekerja di luar desanya sudah tertutup karena beragam faktor keluarga. Soal kerja di luar, bagi Badar adalah masa lalu. Di usianya yang sudah lewat 40 tahun, sebagaimana petani lain, ia akan konsentrasi hidup mati di desanya.

Tetangganya, Toha, sudah melangkah sebagai pembibit Bunga Matahari,menanam kelor, berjualan kopi, ternak sapi, dan usaha kecil lainnya yang melibatkan keluarganya juga. Sekarang Wahdar akan memperluas pertanian baru yang dikembangkan Toha dengan menanam Bunga Matahari, Kelor, Sorgum dan menyusul jenis-jenis tanaman lain.[]

Baca Kalau Indonesia Mau Bangkit Harus Mampu Mengurus Ini
Baca Toha Si Gila dari Oraytapa
Baca Cara Menilai Keterbelakangan Petani



1 Trackback / Pingback

  1. Agar Pertanian Bisa Mengatasi Kemiskinan dan Krisis Lingkungan – Odesa Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*