Di Sebelah Utara Kota Bandung, Masih Banyak Orang Kekurangan Pangan

Dalam Kategori Keluarga Pra-Sejahtera (Sangat Miskin) ada level kesengsaraan paling akut, yaitu kekurangan pangan.

Bulan Mei 2018 ini, saya ingin mencatat beberapa kisah hidup orang desa pinggiran Kota Bandung (Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung). Saya khawatir kalau tidak dicatat nanti akan semakin banyak berserakan fakta yang terbuang. Catatan ini merupakan kumpulan kegiatan teman-teman Yayasan Odesa-Indonesia yang bergiat urusan ekonomi, kesehatan dan pendidikan di Bandung Utara.

Dari Cisanggarung terdapat laporan tentang keluarga, janda beranak dua yang kesulitan pangan. Berjubel keluarga Pra-Sejahtera adalah fenomena yang kita lihat sehari-hari. Tapi melaporkan kekurangan pangan adalah membuat bulu kuduk kita merinding. Alam yang subur tetapi ada laporan tentang susahnya pangan.

“Ini keluarga mengaku dan meminta pak. Kata kang Rus. Dan saya tahu memang sering kesulitan. Ibu itu bekerja buruh tani, tapi job kerjaan kan tidak jelas. Ngutang di warung sudah pasti malu karena berjimbun pinjaman. Kalau soal kurang memang biasa, tapi ini berbeda karena benar-benar sering kekurangan banget,” katanya.

Kang Rus juga mulai mendata lebih serius di beberapa kampung Desa Cikadut bagian utara tentang kondisi keluarga pra-sejahtera yang benar-benar sengsara. Kang Rus juga mulai aktif menegur RT dan RWnya yang tidak peduli pada persoalan mendasar seperti ini. Yayasan Odesa Indonesia akan lebih mendalam lagi dalam menggali persoalan masyarakat. Kalau soal rumah tidak layak huni dan kesulitan air adalah urusan massal dan strateginya harus lebih makro level kampung. Sedangkan urusan kesulitan makan tentu harus lebih detail disidak satu persatu keluarga. Hanya dalam waktu seminggu Kang Rus melaporkan ada 6 keluarga yang sengsara di dua kampung. Kesimpulannya, mereka harus diberi tunjangan. Sebab sekalipun mereka status miskin tidak pernah mendapatkan bantuan beras raskin sekalipun. “Negara lemah data,” kata Budhiana Kartawijaya.

Lalu Kang Shori di Cikadut selatan melaporkan keluarga seperti di atas. Kisahnya tidak jauh-jauh. Ada misalnya janda beranak tiga yang pekerjaannya pembantu rumah tangga berpenghasilan 450.000. Urusan beras menjadi pokok. Sering kesulitan beras dan bahan pangan lauk-pauk. Ada juga buruh tani yang sama sekali tidak jelas penghasilannya dan mengandalkan pangan dari kebun-kebun dengan keliling mencari sayuran. Dapat uang terkadang saja saat ada pekerjaan.Setelah dihitung pendapatan perbulan hanya sekitar 300-400 ribu untuk kehidupan bersama 1 anaknya. Laporan bulan mei untuk 3 kampung Cikadut daerah selatan terdapat 18 janda yang beban hidupnya terkonsentrasi pada masalah pangan.

Sebenarnya tidak akan sulit menemukan keluarga sengsara dalam hal pangan. Sebab dari indikasi makro level kampung kami sudah biasa dengan fakta kemiskinan, di mulai dari sanitasi, jenis rumah, pekerjaan, dan pendidikan. Juga sering sekali menemukan orang mudah sakit yang menguras biaya ongkos ojeg atau sewa mobil ke puskesmas atau rumah sakit.

Kita akan terus meningkatkan pelayanan pada keluarga Pra-Sejahtera (Sangat Miskin) dan sengsara ini. Dari penggalian data yang terkumpul di Odesa sampai bulan mei ini, terdapat 82 keluarga yang mengalami kesengsaraan akut di Desa Cikadut. Sementara pendataan di Desa Mekarmanik jumlahnya sudah mencapai 160 keluarga. Desa Cimenyan dengan gurita Kemiskinan yang lebih luas baru kita dapatkan 120 keluarga. Desa Mekarsaluyu kita dapatnya 23 Keluarga. Setiap pekan selalu bertanam jumlahnya. Pokok bantuan yang terpenting dalam hal ini adalah bahan pangan rutin, sesekali dibantu pakaian, dan perlu juga uang.[Khoiril Anwar]

1 Trackback / Pingback

  1. Yayasan Odesa Indonesia Penyalur Bantuan Fakir Miskin Tepat Sasaran – ODESA INDONESIA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*