Toha, Si Gila dari Oray Tapa

“Mang Toha Islam?” tanya saya.
“Istri saya suka pengajian……..”jawabnya nyengir

Namanya Singkat, Toha. Dia seorang peternak sapi dan petani kopi. Tinggalnya di dekat kawasan Wisata Oray Tapa, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Lahir di Waas 39 tahun silam. Punya anak 3.




Saya mengenalnya pada Agustus 2016. Toha termasuk petani yang agak berbeda dari kebanyakan petani lain. Ia pribadi yang menarik diajak bicara; tentang hitungan ternaknya, tentang pengalaman bertanam kopi, dan tentang urusan harga. Sejak awal dia tampak jujur dan lugu, dan selalu ingin tahu hal-hal yang baru.

Salahsatu yang baik dari Toha, ia tidak memprovokasi saya dengan menawarkan tanah, atau mempengaruhi saya untuk membeli sesuatu, juga tidak mengesankan meminta-minta sesuatu. Toha gemar bicara terbuka, kadang mulutnya kelewat berani ngomong.

Misalnya saat saya tanya, mengapa di kampungnya jarang mendapat perhatian pemerintah. Dengan enteng dia jawab, “yang bisa memperhatikan manusia itu ya manusia.” Maksudnya pemerintah itu tidak punya rasa kemanusiaan.

Teman saya Basuki Suhardiman juga pernah dibuat geli saya tanya kepada Toha mengapa tidak ada bantuan bibit dari Pemerintah. Toha menjawab, “Pemerintah mah lucu. Yang butuh ternak dikasih bibit tanaman, yang butuh tanaman dikasih ternak.” Maksudnya salah sasaran.

Toha juga lucu, kalau menyebut Basuki, dia salah menyebut, Pak Subaki….Pak Subaki. Saya pernah ngerjain Toha dengan bertanya:
“Pak Subaki yang mana Kang Toha?” tanya saya.
“Itu yang orang ITB,” jawab Toha.
ITB itu apa Mang?
“ITB itu Sintitut Teknologi Bandung”, jawab Toha.
Di Fakultas Apa mang?
“Kalau gak salah fakultas peternakan….”
“Ya, Pasti Salah……. jawab Saya. Toha pun nyengir.




Tentang Toha yang lucu, saya sampaikan ke teman saya, Basuki Suhardiman, pada setengah tahun kemudian, kandang sapi Toha dibantu untuk diperbesar dan diperbaiki. Tujuan awalnya untuk mengembangkan sapi dan lebih penting lagi kehidupan keluarga Toha lebih sehat. Sebelumnya keluarga Toha hidup di kandang sapi. Kandang sapi dipilih karena lokasinya 1,5 km dari rumahnya. Ia memilih tinggal di kandang sapi karena khawatir sapinya digondol maling. Tinggal di gubuk reyot dan menyatu dengan kandang sapi tentu tak sehat. Sejak Januari 2017 kandang sapinya dipindah ke tempat yang lebih dekat dari perkampungan. Sekarang Toha hidup lebih sehat. Sejalan dengan seringnya kita olok-olok, ia makin berubah bersih. Ia bisa membedakan pakaian saat acara ke kandang, menemui tamu, dan bepergian ke kota. Ia juga makin rapi saat menghadiri acara pertemuan diskusi yang diadakan Odesa-Indonesia.

Saya pernah melihat Toha di kandang sapi. Wajahnya begitu kumuh.
“Itu pantat sapi sama muka apa bedanya, coba ngaca di spion,” kata saya.
Spontan saya lihat muka Toha tertawa lepas, giginya putih keluar.
“Itu kaos enggak pernah diganti. Berbulan-bulan gak dicuci ya?” Tanya saya.
“Wah, kalau di sini mana ada orang nyuci kaos pak. Ganti kaos juga kalau dapat bagian kampanye,” katanya enteng.

Sejalan dengan gaulnya Toha dengan Budhiana Kartawijaya (Litbang Pikiran Rakyat), sekarang tampang Toha makin perlente, apalagi setiap pekan ia mulai berinteraksi dengan orang Kota. Berurusan dengan toko pertanian, berhubungan dengan penjual tanaman Obat di Arcamanik Kota, dan sering ikut pertemuan diskusi ilmiah. Cie….. Tapi khusus gaulnya dengan Pimred Galamedia, Enton Supriyatna, membuat saya diam-diam khawatir karena Pak Enton sering ngajak Toha lebih gila. Maklum, keduanya sama-sama humoris. Berjam-jam bicara seharusnya untuk urusan memasok ilmu pengetahuan malah digunakan untuk sarana ngakak gaya srimulat.




Dulu Toha ngaku lulus SD. Belakangan ketahuan jebolan kelas 4 SD. Toha memang bisa baca, tapi sistemnya mengeja. Berhitungnya tergolong oke, apalagi kalau ngitung laba dagangan. Kalau disuruh laporan oleh Pak Basuki Suhardiman, tulisannya bagus karena yang menulis anaknya. Dan pernah sekali pengalaman laporan keuangan dengan menyantumkan angka satu juta. Saya kaget karena tidak pernah memberi uang nominal satu juta. Setelah saya sodorkan ke Toha, dia mendadak tertawa lepas, “O….maaf…maaf. Nol-nya kurang satu…..hahaha….”

Saya bilang, “Kang Toha mau bikin saya celaka. Nanti saya dikira ambil uang sembilan juta lho”.
Apa jawab Toha? “Maklum pak, orang miskin jarang pegang uang, haha…..”.

Toha memang lucu. Semua teman-teman di Odesa-Indonesia menganggap Toha agak “kelainan” dari kebanyakan petani. Toha paling bisa diajak humor, paling cepat diajak adaptasi dan paling cepat berani mengambil keputusan. Dan yang paling menarik dari Toha adalah cepatnya beradaptasi dengan pemahaman organisasi, atau setidaknya memahami maksud tujuan organisasi Odesa-Indonesia.

Salahsatunya adalah kemauan cepatnya mengubah dari petani biasa menjadi juru bicara ke warga. Toha juga bisa mensosialisasikan gagasan Odesa ke petani. Tentang maksud tujuan sosial, tentang pentingnya mencatat, pentingnya kebersihan hidup, dan penting solidaritas sosial. Salahsatu yang menarik dari perubahan Toha saat ini adalah kepeduliannya pada tetangga-tetangganya yang juga kebanyakan dari keluarga buruh-tani yang masuk golongan keluarga pra-sejahtera.

Dulu awal mula kami berinteraksi dengan Toha tidak melihat sikap sosialnya karena yang diomongkan adalah uang-uang, dan uang, terutama perdagangan sapi kopi, dan perihal rentenir. Tetapi sekarang ia suka laporan kegiatan di mushola, bisa juga menyampaikan kebutuhan rumah tangga tetangganya, dan bisa menetapkan skala prioritas membawa bantuan pakaian atau sembako pada keluarga yang paling tidak mampu. Toha cepat sekali beradaptasi dalam banyak hal. Kalau dulu urusannya hanya sapi dan kopi, sekarang ia bisa juga urusan tanaman obat, polybag, tanaman hias, mengembangkan pohon bambu, kumis kucing dan lain sebagainya.




Saat teman-teman Alumni Elektro ITB-86 mengadakan pembangunan MCK dan Bakti Sosial di Cadas Gantung, Toha paling giat merapat dan membantu tanpa pernah lagi berhitung soal upah. Ia tahu diri kapan harus memasang tarif dan kapan tidak. Kapan ia harus mengurus warga sekitarnya kapan ia harus mengurus ekonomi keluarganya.

Satu hal lagi yang patut dicatat dari Toha adalah bahwa dirinya termasuk dari keluarga yang miskin. Toha pernah cerita ke saya tentang masa lalunya yang suram, hidup serba kekurangan dan keluarganya tak punya tanah yang cukup. Karena tidak punya tanah dan tak punya kemampuan menghasilkan ekonomi di luar pertanian itulah pikiran Toha hanya ingin tanah dan tanah.

Ini berbeda dengan kebanyakan petani yang dulunya punya tanah warisan lalu dijual sehingga jatuh miskin. Sementara Toha yang tak punya tanah warisan justru sekarang memiliki beberapa luas tanah yang ia beli dari sistem cicil. Toha agresif dalam mencari uang dan bisa hemat dalam pengeluaran. Toha juga mengelola tanah milik orang Kota. Kejujurannya membuat dirinya mudah mendapat kepercayaan dari orang, termasuk dari teman-teman Odesa. Kalau petani atau pedagang lain sering menjelek-jelekkan barang dagangan orang lain, Toha tidak. Ia lebih suka bicara apa adanya dan tidak suka bicarakan keburukan orang lain.

Tapi saya khawatir Toha ini agak “gila”. Pasalnya siang malam bisa bekerja tiada henti. Kalau ada orderan pekerjaan dia bisa cepat selesaikan, berbeda dengan petani lain yang terkesan malas dan tidak tertib waktu. Menyuruh Toha bekerja sehari, biasanya selesai setengah hari. Satu pekerjaan yang saya tunggu dua hari, sudah selesai satu hari.

“Mengapa bisa begitu Kang?” tanya saya.
Toha menjawab enteng, “jam delapan malam saya masuk hutan. Jadi paginya sudah selesai,” jawabnya.




Dan yang tak boleh dilupakan adalah jawaban Toha atas pertanyaan saya ini.
“Mang Toha Islam?” tanya saya.
“Istri saya suka pengajian……..”jawabnya nyengir. –[Faiz Manshur]

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kisah Petani Miskin yang Baik Hati – ODESA INDONESIA
  2. Keluarga Pak Badar, Beginilah Keadaan Petani – ODESA INDONESIA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*