Kawin Tumpuk Cabe-Cabean

PATI: Cara kawin tumbuhan ternyata mirip mahluk hidup lain: manusia dan hewan. Sama-sama melalui proses pedekate (adaptasi), rangsangan, dan nganu. Standar alamiah seperti itu diterapkan oleh Mbah Minto dalam mengelola usaha pembibitan cabe unggul. Ia membuat ritual asmara bagi pohon cabe sereligius mungkin, dengan harapan bisa menghasilkan generasi baru yang berkualitas bagus, tidak seperti kimcil.

Mbah Minto berhasil membuat bibit cabe unggul melalui perjalanan panjang yang syur. Diawali dengan ta’ruf pohon cabe hitam dari Cianjur dengan beberapa calon pasangan cabe Jawa. Ta’ruf dilakukan karena keluarga cabe memang tidak mengenal pacaran model cabe-cabean. Selama dua malam pasangan pohon cabe menjalani masa adaptasi dalam kamar romantis berkerodong kelambu. Setelah itu bunga jantan dan betina didekatkan. Bila terjadi tanda-tanda perangsangan, seperti kepala sari jantan merekah, putik sari betina tampak becek lengket dan bergoyang-goyang pertanda jodoh. Lalu hubungan asmara keduanya akan lebih cabul mencapai klimaks.

Kepala bunga jantan yang sudah matang akan merekah, berwarna kuning dan berbau menyengat, seperti milik manusia, serta terlihat ada tepung halus (pollen). Ujung putik betina menjadi lengket untuk menangkap pollen yang nyemprot dari pejantan. Setelah itu tangkai putik akan menghubungkan ujung putik dengan ovarium di dasar putik. Ovarium ini mengandung sel reproduksi betina.

andy yoes kawin tumpuk

Mbah Minto sangat telaten dan betul-betul menikmati proses persilangan cabe secara alamiah dengan metode perkawinan tumpuk. Dia tidak mau membuat bibit cabe model kultur jaringan. Baginya perkawinan tumbuhan secara manusiawi juga akan membentuk karakter keluarga seperti manusia: sakinah-mawardah-warahmah.

Terbukti upaya Mbak Manto berhasil melahirkan generasi cabe unggul yang kemudian diberi nama “Malehnong”, artinya pemuliaan cabe yang “Maleh (berubah) menjadi generasi lebih baik di Winong, kabupaten Pati. Level pedas Malehnong di bawah cabe setan, ia bisa berbuah lebih banyak karena periode petiknya bisa mencapai 8 kali dalam rentang waktu 18 bulan, dan dalam satu periode bisa dipetik berkali-kali.-Andy Yoes Nugroho.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*