Kampung Adat Kuta, Ciamis Jawa Barat

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia.

Ada agroforestri di Kampung Adat Kuta, Kabupaten Ciamis. Ada potensi kebaikan ekologi yang harus dijaga kelangsungannya bersama dengan transformasi ekonomi kewargaan. 

Hari minggu 27 desember 2020, saya bersama Ketua Odesa Garut, Ramlan Gumilar mengunjungi Kampung Adat Kuta di Ciamis. Dimulai dari SPBU Imbanegara tempat saya mengisi Bahan Bakar, maps google menunjukkan jarak tempuh 46 km. Setelah sampai di tikungan Kota Banjar tepatnya di jalan Brigjenm. Isa SH (Jalan Nasional) jarak tempuh 17 km ke arah utara menuju Kampung Adat Kuta. Dari sini hanya butuh sekitar 25 menit. Jalanan cukup bagus. Sepi di sepanjang perjalanan itu kami melewati kawasan pertanian agroforestri yang corak pertaniannya merupakan kombinasi ladang, persawahan dan pepohonan besar.

Sampai di Kampung adat menjelang tengah siang suasana sepi. Kami bertemu dengan beberapa warga perempuan karena kebanyakan laki-laki sedang berada di kebun. Ketua Adat yang saya cari kebetulan sedang urusan di kantor Desa. Tetapi kami mendapat ganti teman bicara seorang pemuda tani bernama Nano Hermawan (25 tahun). Warga di sini tampaknya sudah terbiasa melayani tamu, terbukti mereka langsung sigap beranjak menyambut ketika kami menyampa. Mereka pun langsung paham kebutuhan tamu paling segera, yakni memarkir mobil dan menunjukkan toilet.

Dari situ kami bicara tentang pertanian dan persoalan sosial kultural sambil memotret sekian objek di perkampungan adat tersebut. Tujuan utama saya masuk kampung Kuta adalah untuk mengetahui lingkungan hutan di sekitar perkampungan itu karena di Yayasan Odesa Indonesia studi agroforestri menjadi bagian penting pergerakan Odesa.

Lima jam saya berada di sana dan berinteraksi dengan warga tampaknya urusan ekonomi, atau lebih tepatnya kehendak memperbaiki peningkatan pendapatan menjadi kebutuhan yang menonjol. Nano banyak bercerita bahwa karena terisolasi dengan kemajuan di luar, banyak urusan ekonomi tidak mencukupi untuk sebuah kebutuhan yang lebih tinggi.

Pasalnya warga, terutama kalangan muda menaruh perhatian pada modernisasi, seperti transportasi, internet dan juga keinginan wirausaha. Internet cukup baik membantu pemuda tani seperti Nano, hanya saja sinyal masih menjadi problem karena di perbukitan itu sebagian aksesnya “byar pet”.

Nano, Pemuda Tani Kampung Adat Ciamis
Nano, Pemuda Tani Kampung Adat di Ciamis. Sudah menanam kelor beberapa pohon. Saatnya memperbanyak dan mengolah menjadi hasil panen untuk memenuhi gizi masyarakat.

Nano mengatakan kepada saya, ingin punya usaha yang berorientasi pada perdagangan supaya pendapatannya meningkat sehingga keluarganya lebih sejahtera. Salahsatunya, ia mempelajari secara otodidak tentang budidaya lebah madu. Berbekal pengetahuan dari internet, sejak agustus 2020 ia mengembangkan beberapa kotak sarang lebah kecil (lanceng). Ia merasa senang dengan hasilnya karena meningkatnya kotak-kotak tersebut kemudian  menghasilkan jumlah madu yang semakin banyak. Dari panen 2 botol, sekarang ia bisa memanen 6 botol. Penjualannya sementara waktu menunggu peluang bertemu dengan tamu yang datang. Saya pun membeli satu botol, seharga Rp 120.000. Saya juga membeli kopi robusta olahannya seharga 30.000.

Dari pembicaraan dengan Nano, dia sangat antusias untuk urusan ilmu wirausaha tani apalagi setelah saya ceritakan potensi tanaman obat. Tercatat dari obrolan singkat, di sekitar perkampungan dan ladang pinggir hutan banyak tanaman obat yang belum dimaksimalkan. Bahkan tanaman kelor pun sudah ditanam di banyak tempat. Dari prakiraan hitungan saya berkeliling kampung itu setidaknya saya menemukan 28 pohon kelor tua yang biasanya dikonsumsi warga untuk sayuran. Warga mengonsumsi kelor belum terpola karena belum banyak yang tahu rincian manfaatnya. Saya sarankan Nano untuk mempelajari manfaat kelor lebih lanjut  dari internet agar warga lebih sering mengonsumsi dan menanam lebih banyak lagi untuk tujuan pengembangan ekonomi keluarga.

Tanaman-tanaman herbal khas perladangan hutan yang berada di sekitar Kampung Kuta ini serupa dengan tanaman herbal di Kawasan Hutan Wisata Ngropoh Temanggung yang kebetulan Yayasan Odesa Indonesia juga menggarap kegiatan di sana.

 

Madu Kampung Adat
Madu Lebah kampung adat produksi Nano Hermawan.

Kampung Adat Kuta. Dengan sumberdaya petani yang masih kokoh ke depan mesti dilanjutkan dengan penguatan kapasitas kewargaan dalam bidang ekonomi. Karena kemajuan ekonomi sangat erat berkaitan dengan kekuatan ilmu pengetahuan, maka literasi tentang botani harus dikuasai lebih lanjut, terutama oleh petani muda seperti Nanto.

Ramlan Gumilar, Ketua Odesa Garut saya berikan kesempatan untuk menjembatani urusan keilmuan ini. Beberapa benih dan bibit tanaman dari Odesa Indonesia akan segera diberikan kepada Nano agar dikembangkan di sana, terutama Sorgum, Hanjeli, Kelor, Bunga Matahari dan lain sebagainya. Kita punya rencana, Nano segera mempebanyak studi dan berjejaring dengan teman-teman lain supaya pengetahuan dan juga akses perdagangannya lebih cepat maju.

Beberapa hal mendasar yang paling penting dilakukan untuk kemajuan pertanian agroforestri di sana antara lain.

  1. Model bisnis hasil pertanian.
  2. Pengembangan tanaman obat
  3. Pengolahan pasca panen kopi
  4. Promosi kegiatan pertanian dan produk pertanian
  5. Literasi pengetahuan botani untuk pemuda tani []

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*