Hanjeli, Literasi dan Nyi Roro Kidul

“Tidak boleh pakai baju hijau kalau berenang di sini mah,” kata Auliya Azzahra (6), ketika matanya terpagut pada gambar pantai dengan ombaknya, saat membuka-buka halaman buku “Samudra” , Minggu (18/4/2021) di pelataran mesjid Kampung Singkur, Desa Mekarmanik, Cimenyan, Kab. Bandung.

“Kenapa tidak boleh berenang di situ?” kata Aditiya Pratama, salah seorang fasilitator Odesa Indonesia, heran. “Soalnya, warna hijau kan kesenangan Nyi Roro Kidul. Kalau ada yang pakai baju hijau nanti dia ambil,” jawab Auliya. “Kata siapa itu?” Aditiya penasaran. “Kata Tik Tok,” jawab gadis cilik itu polos, menyebut salah satu aplikasi di media sosial. Nyi Roro Kidul adalah legenda tentang perempuan dari alam gaib yang berjuluk Ratu Pantai Selasan.

Auliya belum bisa membaca dan belum sekolah. Akan tetapi keingintahuannya cukup tinggi. Dia lebih “wanter” untuk bicara dibanding anak-anak seusianya. Belum mampu membaca tidak menghalanginya untuk ikut menikmati buku bacaan. Auliya memilih buku yang banyak gambarnya. Imajinasinya berkembang, dan akan berceloteh ketika melihat gambar-gambar itu.

Belasan anak Kampung Singkur itu, adalah peserta Sekolah Sabtu-Minggu (Samin) yang biasa digelar Odesa Indonesia pagi. Namun karena bulan Ramadan, maka kegiatannya digeser menjadi sore hari hingga waktu buka puasa. Meskipun dalam kondisi puasa, kegiatan literasi tetap berlangsung.

Sore itu, setiap anak dipersilakan untuk memilih buku bacaan yang disukainya. Kemudian diminta untuk menceritakan kembali isinya. Tidak terkecuali anak-anak yang belum bisa membaca. Dengan hanya melihat gambar-gambar, mereka bercerita sesuai dengan imajinasinya.

“Gambarnya jorang. Tidak boleh begini,” kata Nur Asyifa (6), yang juga belum bisa membaca, sambil menunjuk ilustrasi wanita yang mengenakan pakaian renang di pantai. Jorang adalah kata dalam bahasa Sunda yang bisa berarti porno. Gadis cilik ini ingin menjadi seorang polisi wanita (polwan), ketika Tasban Doloan, bintara pembina desa (Babinsa), berkisah tentang tentara.

Ayam mati

Di Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, kegiatan yang sama juga berlangsung sehari sebelumnya. Bertempat di halaman sekretariat Odesa. Setiap anak ditanya tentang pengalaman puasa mereka. Ada seorang anak perempuan kelas 4 SD yang mengisahkan puasa yang dijalani dengan penuh pada Ramadan tahun kemarin.

“Eh ari kamu, enggak penuh ah. Pan kamu sama aku nemu mangga muda waktu itu. Terus kita makan bareng siang-siang,” tiba-tiba teman sebayanya menginterupsi. “Hahahaha….iya ya, aku lupa. Pernah makan sirop juga kan. Jadi, berapa hari ya kita puasanya,” ujarnya merelat sambil tergelak.

Selain membaca buku dan menceritakannya kembali, anak-anak Kampung Cisanggarung pun menyimak kisah dari Nadhila, fasilitator yang juga seorang dokter hewan lulusan Universitas Airlangga Surabaya. Nadhila bercerita tentang dunia hewan yang dikaitkan dengan pemeliharaan kesehatannya.

“Kalau misalnya di rumah ada kucing yang kerjanya tidur melulu atau tidak aktif seperti biasanya, kita harus curiga. Jangan-jangan hewan itu sakit. Nah, dokter hewan yang menanganinya. Dokter hewan juga suka memeriksa kesehatan satwa-satwa di kebun binatang,” ujar Nadhila.

Tiba-tiba seorang gadis berumur sekitar 6 tahun nyeletuk, ”Kalau kakak dokter, kenapa atuh tidak ditolong anak ayam yang mati itu. Kasihan dia ditinggalin yang lain,” ujarnya sambil menunjuk seekor anak ayam yang tergolek di bawah pohon jeruk. “Oh ya? Itu kan sudah mati. Tapi kalau masih hidup pun, kakak tidak bawa obat-obatannya ke sini,” jawabnya.

Bubur hanjeli

Kegiatan Sekolah Samin juga diisi dengan pengenalan tumbuh-tumbuhan yang banyak manfaatnya bagi kesehatan, semisal kelor, hanjeli, dan sorgum. Tanaman-tanaman tersebut pada masanya sangat akrab dengan warga Cimenyan. Hal itu dikatakan sejumlah orangtua setempat. Namun seiring perkembangan zaman, kemudian terlupakan.

Beberapa anak mengakui orangtuanya sering memasak daun kelor, yang dipetik dari pohon di halaman rumah mereka. Katanya, daun kelor segar itu dibikin sayur. Terkadang dicampur dengan telor ayam. Akan tetapi mereka belum mengetahui ihwal sorgum dan hanjeli. Banyak yang mengerutkan dahi ketika diperlihatkan gambarnya.

Beberapa waktu lalu, Odesa Indonesia membagikan bibit kelor, sorgum dan hanjeli kepada sejumlah petani. Sebagian dari mereka menanamnya di lahan kebun dan merawatnya dengan baik. Ada yang dikonsumsi untuk keperluan sendiri, tapi ada pula yang secara serius membudidayakannya dengan bekerja sama dengan Odesa.

Sebagai bentuk upaya mengenalkan kembali pangan lokal kepada anak-anak, para fasilitator menyiapkan takjil berupa bubur hanjeli. Biji hanjeli yang keras itu, diolah sedemikian rupa sehingga lunak seperti halnya bubur beras. Setiap anak mendapatkan satu “pincuk” bubur hanjeli yang dibungkus daun pisang.

Begitu azan magbrib berkumandang, serentak mereka membuka bungkusan tersebut. Ada keraguan ketika melihat bentuk sajian itu, saling pandang. Tapi setelah mencicipinya, mereka pun tidak membiarkannya tersisa. “Enak geuning nya bubur hanjeli teh,” kata mereka sambil bersiap-siap salat magrib.

Usai sembahyang, dalam udara dingin Bandung utara dan cahaya temaram, para fasilitator itu menuruni perbukitan dengan sepeda motornya. Beruntung hari tidak hujan, sehingga tidak ada yang harus terjatuh karena jalanan licin seperti beberapa waktu lalu. Mereka harus bersiap lagi untuk kegiatan serupa di kampung lain pada hari-hari berikutnya. [Enton Supriyatna. Wartawan Senior. Pendiri Yayasan Odesa Indonesia)

Tinggalkan Balasan