Berpikir Lain: luar kotak, Inklusif Radikal

faizmanshur civicislamOleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia
Ada keadaan yang harus kita selesaikan, bukan dengan ilmu yang sudah ada, melainkan dengan ilmu yang didapat dengan cara memproduksi sendiri dari galian masalah yang kita hadapi. Butuh pemikiran “kesadaran lain.”

Kesadaran, bukan semata kecerdasan berpikir, inilah yang paling penting kita miliki karena akan lebih menjamin setiap pengetahuan sebagai kekuatan untuk mengubah keadaan. Adapun komponen kedua setelah kesadaran adalah kemauan memilih hal yang baru.

Dan cara baru ini saya salahsatunya saya dapatkan dari buah pemikiran Lin wells, pengajar di National Defense University Amerika Serikat. Pemikiran Lin Wells yang dijelaskan oleh Thomas L. Friedman dalam bukunya “Thank You For Being Late” (2016); bahwa untuk kita berpendapat atau menjelaskan dunia dengan berpegang dengan dua pilihan, ke dalam atau luar satu kotak penjelasan sempit atau disiplin ilmu itu aneh.

Ada tiga cara berpikir mengenai suatu masalah: “di dalam kotak”, “di luar kotak”, dan “tidak ada kotak”. Menurut Wells, salahsatunya pendekatan berkelanjutan untuk memikirkan masalah zaman sekarang adalah “berpikir tanpa kotak.” Maksudnya bukan tidak punya opini tertentu, melainkan beropini dengan keingintahuan yang tanpa batas atau keragaman disiplin yang bisa dipakai untuk mengetahui cara kerja mesin. Oleh Friedman pendekatan ini disebut “inklusif radikal” (radically inclusive).

Pendekatan ini melibatkan sebanyak-banyaknya orang, proses, disiplin ilmu, organisasi, dan teknologi relevan ke dalam analisis,-faktor-faktor yang sering dipisahkan atau diabaikan.

Bagi saya gagasan Lin Wells maupun tafsir inklusif radikal ala Friedman ini menarik karena bisa memberikan model praksis dari rahim pengetahuan multidisipliner yang telah lama kita dengar. Kedua gagasan ini bermakna penting karena membuka pemikiran kita untuk memiliki kesempatan lebih banyak cara dalam mengatasi masalah.

Seseorang yang berani keluar pakem dari kungkungan model pemikirannya sendiri, atau sadar bertindak cepat berpikir lain demi kesuksesan mengatasi masalah adalah tindakan paling penting. Kita bisa keluar dari jenis berpikir metafisis yang ujungnya menghambat tindakan menuju arah pemikiran konstruktif subjektif yang lebih menguntungkan sekalipun beresiko salah.

Mengingat radikal inklusif, saya jadi ingat pandangan teman satu organisasi saya, Budhiana Kartawijaya di Odesa-Indonesia, yang bicara tentang pentingnya mengubah pakem jurnalisme menjadi lebih baik.

Bagaimana jurnalisme harus bekerja di zaman sekarang ini? Hal yang mendasar dalam jurnalisme menurut Budhiana tidak boleh sekadar menjadi anjing penjaga, melainkan harus juga bisa bekerja sebagai bagian dari proses transformasi sosial, atau bekerja konkret terlibat menyelesaikan masalah.

Hal ini penting digagas karena masalah-masalah di lapangan itu kompleks dan lebih banyak unsur serendipity-nya sehingga tidak cukup awak media massa hanya melihat dari satu sudut pandang, apalagi jurnalis kemudian disibukkan oleh mengejar narasumber di kampus karena adanya kebutuhan meminjam mulut untuk menyuarakan persoalan, sementara intelektual di kampus itu belum karuan mengerti masalah yang ada di masyarakat.

Kita butuh cara lain dalam menyingkap fakta dan memproduksi data. Misalnya orang miskin hanya dikategorikan sebagai miskin pendapatan ekonomi dan negara hanya dituntut pada sisi hak ekonomi. Atau lebih sempit lagi, orang miskin hanya diulas sebagai objek dengan cara eksploitatif seperti pada tayangan-tayangan reality-show televisi. Bagi Kang Budhiana, kerja jurnalisme harus menemukan satupersatu penyebab dan di situlah jurnalis atau institusi media bisa menemukan solusi untuk mengatasi persoalannya.

Mesin perubahan
Di organisasi kami, Odesa-Indonesia, pendekatan berorganisasinya berjalan “tanpa kotak” yang pakem sesuai standar kerja keumuman organisasi. Kami berhimpun dengan sumberdaya manusia yang acak, tetapi memiliki komitmen pada satu titik masalah yang oleh Thomas L.Friedman disebut mesin itu. Kemiskinan pinggir kota adalah sebuah “mesin” yang bekerja di bawah mesin negara dan “mesin kultural sosial/antropologi”.

Sikap Odesa-Indonesia adalah memahami satu persatu elemen di dalam mesin tersebut dalam waktu panjang sambil aktif bergerak harian menyelesaikan masalah yang konkret melalui agen perubahan sosial sukarelawan dan juga membentuk subjek di tingkat lokal untuk berproses mengenali dirinya, masalahnya dan mencari solusi.

Ketertarikan kami untuk fokus pada usaha memahami masalah di akar rumput (bukan sekadar desa secara makro) melainkan masuk ke urusan dapur keluarga petani pra-sejahtera memungkinkan kami memproduksi kotak gerakan jenis lain. Memiliki ideologi berhaluan republikan, mengawal visi kemanusiaan, dan mendesain program dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan yang merusak potensi kemanusiaan.

Tahun 2016 lalu, organisasi kami ini kita pasang label Odesa. Pertimbangannya simple tapi konkret dengan tujuan dasarnya, yaitu fokus dengan urusan manusia desa. Kata O yang pertama merujuk pada kepanjang “Orang” dengan maksud menyasar pada Sumber Daya Manusia.

Makna lain dari O adalah Organizer/Organizing, organisasi harus bermakna sebagai gerak pengorganisasian. Ada juga O bermakna lain, yakni Organik, sebagai pengertian tanggungjawab para intelektual untuk berkomitmen membumi dalam ruang gerakan. Selain itu huruf O juga bermakna Online Desa, sebagai simbol modernisasi agar masyarakat desa yang terorganisir berkat kiprah organik para pengurus ini bisa mengantarkan masyarakat mampu berdaptasi dengan teknologi dan dunia modern yang lebih luas.

Cahaya dan Bahan Bakar
Sikap kami dalam berorganisasi adalah menerjemahkan gagasan ke dalam praktik dengan semangat “membumi dalam kebersamaan.” Ini adalah bagian dari tafsir melihat persoalan sebagai mesin dan kami menjawab dengan menggerakkan mesin keorganisasian.

Mesin kami gerakkan dengan dua sayap. Kami mengelola api dengan dua target, pertama memproduksi cahaya (pencerahan) untuk penunjuk jalan terang membebaskan masyarakat dari belenggu “mesin kemiskinan budaya” dan memproduksi energi api itu sebagai bahan bakar menggerakkan “mesin budaya” ke arah keadaban pada gerakan penguatan budidaya tanaman pangan, ternak, literasi dan teknologi.

Kita wujudkan tindakan itu dalam desain gerakan pendampingan sumberdaya manusia ketimbang langsung mengurus sumberdaya alam karena kami percaya alam ini akan baik kalau manusianya memiliki kualitas kebaikan.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*