Anak-anak Pinggir Hutan ini Butuh Bantuan Buku

Sejak Masjid Nurul Iman diperbaiki dan dipenuhi aktivitas kegiatan, anak-anak desa pedalaman pinggir hutan itu ternyata semangat belajarnya tinggi. Butuh uluran tangan untuk bantuan pustaka dan alat peraga.

Pernahkah Anda ke Puncak Bintang, Kawasan Perbukitan Utara Bandung? Kalau pernah, mungkin tatapan mata Anda pernah mengarah ke sebelah timur. Pada bukit terdekat terlihat rumah-rumah penduduk. Itu namanya kampung Cikawari. Lalu di sebelahnya, agak tenggelam dari permukaan, sedikit genteng-genteng rumah terlihat. Ada kampung Pondok Buahbatu dan Parabonan.

Di Kampung Pondok Buahbatu, terdapat kehidupan warga desa. Persis di bawah hutan Arcamanik, terusan dari Puncak Bintang yang kira-kira berjarak 3 Km. Tapi di sana tidak ada jalan tembus. Hanya dari arah Pasir Impun/Lapas Sukamiskin, kampung Pondok Buahbatu itu bisa didatangi dengan kendaraan.

Khoiril Anwar, seorang pegiat Odesa-Indonesia sejak akhir tahun 2016 lalu mulai mengajar anak-anak desa di Masjid Nurul Iman tersebut. Seminggu duakali ia mengajar. Pelajaran Bahasa Inggris dan pelajaran agama.

“Kondisi anak-anak pedalaman di sana memprihatinkan, sebagaimana pula yang terjadi di kampung-kampung sekitarnya. Maka di Pondok Buahbatu itulah perlu digarap pendampingan dengan edukasi,”kata Khoiril.

Setelah Masjid berdiri, walaupun masih kurang tempat belajar/madrasah, WC dan benteng depan masjid, namun kegiatan sudah mulai marak. Ada perubahan ke arah yang lebih baik.

“Tahun lalu belum ada kegiatan-kegiatan positif harian di sini. Semua urusan hanya ladang dan jual barang. Sekarang ada kegiatan yang bisa menyatukan warga gotong-royong. Sejak bapak-bapak dari Odesa-Indonesia, ITB dan para Wartawan sering ke sini, masjid berdiri. Kemajuan pesat kami rasakan, termasuk bidang pertanian,” kata Nanang Muhammad Yusuf, guru ngaji Masjid Pondok Buahbatu.

Butuh Uluran Derma
Menurut Khoiril, banyak anak-anak desa di kawasan Mekarmanik dan Cimenyan yang tidak sekolah. Kalaupun sekolah hanya tamatan SD. Untuk masuk SMP jarang karena jarak terlalu jauh, orang tua tidak mampu, dan juga kendala kultural. Pola hidupnya masih tertinggal.

“Pondok buahbatu diperlukan pendampingan jangka panjang, apalagi di sini warga rata-rata tidak memiliki kemampuan ekonomi yang baik kecuali untuk makan,”kata Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pasundan tersebut.

Sebagai guru ngaji yang mendampingi anak-anak desa itu, Khoiril berharap ada pihak yang membantu kebutuhan anak-anak desa di Pondok Buahbatu tersebut. Kebutuhannya antara lain buku tulis, alat tulis (bolpoint/spidol/pensil pewarna), penggaris, globe, laptop, dan alat peraga pendidikan lainnya yang mendukung untuk edukasi. Selain itu juga butuh Al-qur’an, sajadah, karpet, rak buku perpustakaan, buku-buku bacaan seperti cerita rakyat, majalah atau buku pertanian, buku-buku tips memasak dan lain sebagainya.

“Saya menyarankan bantuan sebaiknya dalam bentuk barang. Namun jika dalam bentuk uang juga tidak masalah.Nanti kita belanjakan. Jika dianggarkan prakiraan kebutuhannya mencapai Rp 15.000.000. Silahkan donatur menyumbang semampunya,” kata Khoiril.

Jika ada teman-teman yang berkenan membantu bisa menghubungi langsung Tlp/WA Khoiril Anwar: 0852-2050-2937 []

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan