Agustinus Wibowo dan Kisah-Kisah Survival Hidup Manusia

Agustinus Wibowo dan Kisah-Kisah Survival Hidup Manusia-. Sewaktu saya menerima pemberian buku ini dari Ibu Yuliani Liputo, Redaktur Penerbit Mizan, Maret 2024 lalu, spontan saya bilang, ini layak saya baca. Saya tertarik bukan karena judulnya, tetapi karena membaca subjudulnya berikut daftar isinya.  Judul “Kita dan Mereka” tentu tidak menjelaskan apa-apa, tetapi membaca kata identitas pada bagian subjudulnya, “Perjalanan Menelurusi Akar Identitas dan Konflik Manusia” itulah yang membuat saya ingin membacanya.

Agustinus Wibowo
Buku Kita dan Mereka Karya Agustinus Wibowo 668 Halaman.

Sejenak mengamati sampul dan daftar isi spontan saya mempertanyakan ketebalan buku ini.  Tebal 668 halaman bisa jadi sebuah kekurangan bisa pula kelebihan. Bisa jadi buku tebal itu hanya untuk dokumentasi yang mempertimbangkan keutuhan seperti tumpukan arsip negara yang tak dibaca banyak orang, tapi bisa jadi karena alasan setiap naskah diperpanjang karena alasan nilai. 

Sekarang saya menulis ulasan atas buku ini karena memang sepantasnya buku ini diberikan nilai lebih dan saya perlu mengabarkan kepada Anda bahwa buku ini layak dibaca untuk dua segmen utama: 

1) peminat sejarah; lokal, nasional maupun internasional. Teman-teman yang punya minat sejarah dari sangat penting membaca buku ini. Kita akan mendapatkan ragam kisah tentang sejarah hidup bangsa-bangsa dengan pendekatan yang realis sekaligus ilmiah.

Agustinus punya kemampuan yang bagus dalam membingkai sejarah pada setiap suku bangsa dengan arah untuk melihat sisi keunikan, bukan sisi kelemahan. Cara pandang Agustinus dalam melihat realitas (sisi ontologisnya) lebih mengedepankan cara pandang etnografi.  Kehendak subjektifnya untuk menceritakan sesuatu selalu punya alasan logis (dengan narasi struktur sejarah) sekaligus bijaksana (dengan pendekatan etnografinya).

Ketika realitas tersebut terasa aneh karena laku hidup masyarakatnya terlihat kelainan -karena alasan survival- Agustinus menelisik lebih dalam tentang hal itu dengan menyertakan argumentasi yang kuat. Agustinus memiliki kemampuan yang baik untuk menyerap sejarah sebagai sesuatu yang bisa “digunakan” untuk cara pandang hidup pembacanya.

2) Kelompok kedua yang perlu membaca buku ini adalah para jurnalis. Naskah-naskah dalam buku ini bisa menjadi pelajaran penting bagi para wartawan untuk menghargai setiap pekerjaannya. Bagi jurnalis, setiap perjalanan dengan realitas-realitas sosialnya mestinya dihargai sebagai aset ilmu pengetahuan sehingga catatan harus detail dan disertakan riset eksternal untuk menghidupkan realitas tersebut.

Buku ini baik karena kemampuan mengkomunikasikan pengetahuan yang berat menjadi ringan.  Dan ini sering saya temukan dari karya para jurnalis yang bekerja untuk tujuan sains. Ada banyak jurnalis yang selain serius dalam investigasi sekaligus serius dalam riset berbasis sains sehingga pada akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan yang fenomenal. Michael Pollan misalnya. 

Pada bagian prolog, Agustinus Wibowo bukan saja mahir memilih tema menarik-, melainkan kemampuannya menunjukkan isi dari otaknya yang kaya akan pengetahuan sejarah, filsafaf dan antropologinya  Berlanjut pada bagian kedua dengan tulisan tentang sejarah Cina berjudul Tembok dan bagian selanjutnya berjudul Nomad semakin meyakinkan saya bahwa buku ini merupakan karya penting. Kebetulan saya sering membaca kisah tentang Cina dan Mongol sehingga cukup punya keberanian untuk menilai isi dari dua bagian dari buku ini dan kemudian melanjutkan membacanya. 

Lebih lanjut mengenai ulasan buku ini, saya sertakan tulisan esai saya yang terpublikasikan di Harian Koran Gala Jawa Barat berjudul Identitas Agustinus

Identitas Agustinus

Oleh Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia. 

Apakah Anda termasuk orang yang masih senang mencari identitas diri? Jika iya, saya tunjukkan salahsatu buku yang menarik untuk usaha menemukan identitas. Judulnya “Kita dan Mereka: Perjalanan Menelusuri Akar Identitas dan Konflik Manusia.”

Buku ini ditulis oleh Agustinus Wibowo, diterbitkan PT Mizan Pustaka. Editornya Yuliani Liputo, Ahmad Baiquni dan Panji Haryadi. Saya tergerak untuk merekomendasikan buku ini karena sudah membaca dan memetik dua manfaat. Pertama, untuk up-date pengetahuan tentang sejarah masyarakat. Kedua, untuk pendalaman pemaknaan tentang hakikat diri.

Buku yang tebalnya 668 halaman ini menceritakan hamparan kisah kehidupan masyarakat; Cina, Kirgiz Afganistan, Koridor Wakhan Afganistan, Papua, Malaysia-Indonesia, Papua dan Afrika, Iran, Israel, Palestina, Mongolia, Belanda, India, Suriname dan beberapa bangsa Asia Tengah lainnya. Setiap naskah memiliki muatan keadaan objektif dengan menyertakan perekaman atas nilai-nilai moral, ideologi, spiritual, politik, dan identitas. 

Dari sisi penulisan tergolong cakap karena memiliki tiga kualifikasi yang biasanya hanya mampu dilakukan oleh penulis yang memiliki keteguhan untuk menghasilkan idealisme dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga kemampuan itu adalah, 1) kemampuan menerapkan jurnalisme sastrawi sehingga menghasilkan bacaan yang enak dibaca, 2) kemampuan menyertakan riset ilmiah dengan penyeleksian literatur secara tepat, dan 3) kemampuan menerapkan kerja etnografi sehingga apa yang disaksikannya bisa laras dengan penelitian-penelitian sebelumnya. 

Tiga hal ini menurut saya yang menjadi nilai lebih sehingga buku ini tidak pas kalau disebut buku “perjalanan fisik” yang muatannya hanya cerita “jalan-jalan”. Dari buku ini kita justru mendapatkan “oleh-oleh” berharga tentang kenyataan objektif etnik, ras, suku, bangsa, tentu dengan rupa-rupa argumentasi sainstifik serta peluang menafsirkan lebih humanis.

Bukan soal berapa negara yang ditulis. melainkan tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam sebuah kompleksitas setiap masyarakat untuk kemudian bisa kita tarik sebagai cara pandang baru; bahwa dalam ruang kehidupan yang berbeda-beda itu kita mesti selalu membuka diri untuk memandang sesuatu secara berbeda. Bahkan lebih sekadar dari usaha menunjukkan pentingnya memandang dengan cara lain, Agustinus sangat ambisius untuk menghasilkan jawaban atas pertanyaan “apa itu sesungguhnya hidup manusia”.

Di atas pertanyaan filosofis inilah Agustinus mengedepankan tema identitas sebagai sesuatu yang penting karena ragam persoalan seperti ancaman, konflik hingga perang merupakan masalah yang sifatnya menyejarah dalam kehidupan manusia. Tema identitas menjadi relevan karena sekarang pun keadaan politik demokrasi kontemporer tak kunjung lepas dari urusan identitas. Kita pun bisa kembali membaca ulang buku Francis Fukuyama Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment. 

Sebenarnya, manusia atau bahkan masyarakat yang memilih identitas -jika dikaitkan dengan usaha survival atau usaha penemuan jati diri hidup manusia- tidak serta-merta selalu mendapatkan jalan keluar. Sebab hakikat seseorang selalu memiliki ragam identitas dan identitas itu sifatnya selalu dinamis. Karena itu, identitas diri manusia mesti harus dilihat secara komprehensif dan kritis agar ia bisa menjadi jalan keluar, bukan justru menimbulkan masalah sebagaimana yang dikisahkan dalam buku ini.

Membaca buku ini kita akan mendapatkan argumentasi yang menantang dengan sebuah pertanyaan penting: apakah kita akan melihat identitas sebagai isi sementara faktanya adalah kaleng atau segera merevisinya? []

Empat Pilar Peradaban Odesa Indonesia. Sebuah Gagasan Dasar

Ulasan Buku dari Penerbit Mizan

Pentingnya Mempelajari Sejarah Danghyang Semar (1)

Strategi Kebudayaan Membangun Peradaban. Gagasan Faiz Manshur

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja