Rumah untuk Rakyat (Bagian pertama dari dua tulisan)

OLEH BUDHIANA KARTAWIJAYA. Ketua Pembina Odesa Indonesia. Wartawan Senior.

Rumah Instan Sederhana yang Harganya Belum Sederhana
Tapi Bisa Jadi Alternatif Buat yang Penghasilannya Tidak Besar

BERMULA dari mimpi untuk melakukan program bedah rumah bagi warga tak mampu, Odesa.id mencoba menelusuri Rumah Instan Sehat dan Sederhana (Risha). Rumah ini adalah inovasi dari kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kami tertarik menelusuri karena masih banyak informasi simpang siur, tentang teknis dan terutama soal harga. Karena di internet besaran harga bervariasi. Untuk tipe 36 misalnya, ada yang mengatakan harganya Rp 35 juta, Rp.50 juta dan sebagainya.
Awal Ramadan lalu, saya bersama Didik Harjogi, Enton Supriyatna Sind dan Nina Lubis mengunjungi aplikator Risha di Cikeruh, Jatinangor Sumedang. Aplikator adalah pihak yang ditunjuk Kementerian PUPR untuk membuat dan memasarkan Risha, dengan kualitas yang sudah ditetapkan kementerian.

rumah risha odesa cimenyan

Risha adalah rumah sistem knock down (foto). Strukturnya sudah dicetak sesuai standar ukuran panjang maupun beratnya. Struktur dasar Risha adalah struktur 9m2 (3mx3m). Tidak seperti rumah konvensional yang pondasinya memanjang, pondasi Risha cukup empat buah coran 80cmx80cmx100cm (lihat foto). Jadi untuk struktur 9m2 itu kita butuh empat coran pondasi. Pihak pembeli yang membuat pondasi itu.

Bila kita ingin memiliki Risha tipe 36m2, artinya kita membeli empat struktur @9m2. Aplikator akan menyelesaikan pembangunan rumah itu dalam waktu 2-3 hari. Semua komponen tingak disambung-sambungkan dengan menggunakan baut dan plat baja.
Selanjutnya aplikator memasang dinding (bata) dan atap (rangka baja dan genting).
Kementerian PUPR sudah menguji Risha. Kualitasnya sudah diakui dunia. Ini terlihat dari pesanan lembaga-lembaga luar negeri yang ikut membantu korban bencana di tanah air. Di Aceh misalnya, lembaga luar negeri sudah membangunkan Risha bagi korban gempa bumi/tsunami. Risha sudah teruji tahan gempa.

Berapa harganya?
Untuk tipe 36, harganya sekitar Rp 90 juta!

Masih terlalu mahal bagi pekerja kelas bawah sekalipun. Apalagi bagi warga tak mampu. Ini belum termasuk harga tanah. Pak Basuki dan Pak Amir dari pihak aplikator pun mengakui, Risha memang belum bisa jadi rumah murah untuk rakyat.

Tampaknya Risha lebih terjangkau oleh keluarga berpenghasilan menengah. Tapi keluarga kaya pun ada yang membeli misalnya: untuk gazebo di kebun atau di vila-nya.
Ada alternatif lain bila uang masih terbatas.

Kita bisa membeli strukturna saja. Per 9m2 nya kira-kira Rp 6,75 juta! Jadi aplikator hanya memasang tiang, plafon atas dan bawah (eh…bener ga istilahnya ya :D).

Pokoknya, kalau struktur saja, artinya kita membeli struktur kubus 3mx3mx3m.
Jadi kalau membeli sruktur 36m2, jatuhnya 4x rp 6,75 = rp 27 juta. Selanjutnya pilihan material untuk dinding dan atap, pembeli sendirilah yang menentukan dan mengerjakannya. Kalau belum sanggup dengan bata, maka dinding bisa dengan GRC.
Enaknya juga kalau kita suatu saat punya rezeki, GRC bisa kita bongkar dan diganti bata atau batako atau apapun.

Juga kalau kemudian dapat rezeki lagi, tinggal tinggal tambah bangunan 9m2, bisa memanjang, atau ke atas menjadi lantai dua.. Tahun depan dapat rezeki lagi, tambah lagi 9m2, dan seterusnya. Ini yang dinamakan rumah tumbuh.

Kalau kita pindah ke daerah lain, Risha juga bisa dicopot dan dibawa pindah.[]

BACA Ada Yang Memelas di Pesanggrahan Cimenyan
BACA Keluarga Pak Aep dan Bu Aas Butuh Uluran Tangan
BACA Dulu Rumahnya dibangun dari Hasil Undian Porkas, Sekarang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*