Tetap Menanam, Karena itulah Yang Bisa Dilakukan

Kincir air berputar, kakinya menancap di tengah ratusan tanaman bawang merah yang siap panen dalam hitungan hari. Bawang itu tumbuh di lereng pegunungan Bandung Utara. Tepatnya di Kampung Singkur, Desa Mekarmanik, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di tepi kebun tersebut berdiri gubuk kecil.

Di sanalah Engkos Kosasih (60) berteduh di tengah siang yang terik, ditemani tiga cucunya yang masing-masing berumur sekitar 7 tahun-an. Engkos duduk di bangku kayu teras gubuk, membelakangi ratusan tanaman bawang miliknya.

“Tinggal tunggu beberapa hari lagi bisa panen bawangnya,” kata Engkos saat ditemui pada Jumat (11/9/2020). Akan tibanya masa panen itu ditandai dengan mengeringnya pucuk daun bawang merah tersebut. Daun-daunnya masih basah karena Engkos baru saja menyemprotnya dengan pestisida.

Bawang merah, sebagaimana kentang, jagung, dan kubis, sudah menjadi tanaman andalan Engkos. Tiga komoditas tersebut biasanya ditanam bergiliran, kecuali kubis. Tanaman ini terlampau murah perawatannya sehingga bisa dibuat sebagai tanaman tambahan.

“Sekarang saya menanam bawang merah, sedangkan kubis sebagai sampingannya”, kata Engkos.

Meski harga empat komoditas itu tak bisa ditebak, ia tak punya pilihan selain berkebun. Pekerjaan hariannya sebagai sopir truk di proyek sedang sepi. Terakhir, ia bekerja untuk pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung. Proyek tersebut mesti terhenti sejak wabah Covid-19 sampai ke Indonesia.

“Karena Covid saya diberhentikan, soalnya proyek itu bikin batasan jumlah pekerjanya,” lanjut Engkos.

Sebagaimana yang diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan pada April 2020 kepada bisnis.com, bahwa proyek tersebut tertunda hingga waktu yang belum ditentukan.


Harapan pada Bawang

Bawang merah lokal memang tak semahal varietas brebes. Engkos tak ambil pusing, ia memilih benih lokal karena menyesuaikan modal yang dipegangnya. Bawang itu ia tanam di atas lahan 0,21 hektare atau setara dengan 2.100 m2, yang menghabiskan 200 kuintal benih. Nilainya mencapai Rp 6 juta, diikuti dengan modal pupuk kandang Rp 1,2 juta, pupuk kimia Rp 250 ribu, dan perawatan selama dua bulan sebanyak Rp 2 juta.

Engkos menghabiskan Rp 9,45 juta untuk menanam bawang. Modal ini belum dihitung dengan biaya hidup selama tiga bulan. Bila per bulan Rp 2 juta, maka biaya hidup selama masa tanam bawang adalah Rp 6 juta. Kemudian ia juga perlu menyisihkan uang sebanyak Rp 300 ribu per tiga bulan untuk menabung biaya uang sewa lahan per tahun.

Menurut perkiraan, kali ini Engkos akan panen bawang sebanyak delapan kuintal. Bila harga saat panen stabil di angka Rp 25 ribu /kg, maka hasil penjualannya mencapai Rp 20 juta. Laba bersih yang dikantongi Engkos adalah Rp 4,25 juta. Keuntungan rata-rata per bulan berarti Rp 1,4 juta.

Mencoba jeruk lemon
Demi menghindari kerugian, Engkos memutar keuntungan bawang dengan menanam kubis, sementara tetangganya, Syarif (54) mencoba peruntungan dari jeruk lemon. Tanaman tersebut ia sandingkan dengan bawang merah dan kubis. Kini jeruknya sedang berbuah. Warnanya masih hijau, perlu beberapa bulan lagi untuk dipanen. Sedangkan bawangnya akan dipanen pada pekan ini.

“Sekarang saya menanam sayuran jadi pekerjaan sambilan saja, yang utamanya adalah jeruk,” kata Syarif saat ditemui di kebunnya di hari yang sama.

Ide menanam jeruk ini ia dapat dari tetangganya, Ikim. Panennya konon mencapai 3 ton per tahun. Angka itu menarik minat Syarif untuk mengikuti jejak tetangganya tersebut. Ia menancapkan 670 bibit jeruk lemon sejak 17 bulan yang lalu. Dengan lahan seluas 1,12 hektare, ia bisa menanam bawang merah dan kubis di sela-sela jeruk tersebut.

“Jeruknya baru panen pertama 4,5 kuintal, ya belum balik modal,” ucap Syarif.

Untuk biaya tanam awal saja ia butuh setidaknya Rp 2 juta rupiah. Modal itu belum termasuk biaya pengerjaannya. Ditambah, belum dihitung biaya perawatan selama setahun. Nilai dari 4,5 kuintal jeruk yang sudah dipanen tersebut baru mencapai angka Rp3,5 juta.

Selain itu, Syarif juga merasa perlu menanam tanaman keras. Di musim hujan, tanah kebun garapannya tersebut sering terbawa air hujan. Sedangkan saat kemarau, ia tak punya tempat berteduh. Terbukti bahwa tanaman ini bagus untuk menangkal erosi. Dalam waktu 17 bulan saja, akarnya sudah merambat hingga dua meter.

“Akar jeruk ini sudah merambat hingga dua meter,” ucapnya sambil menuding letak akar tersebut.

Sulit Pupuk

Masalah yang dihadapi Engkos dan Syarif di musim ini sama. Mereka sulit mendapatkan pupuk yang digunakan khusus untuk masa awal tanam. Masalah ini tidak pernah ada titik temunya. Engkos maupun Syarif sama-sama kecewa dengan kinerja pemerintah. Mereka merasa tidak diperhatikan. Tak ada program tanam, tak ada penyuluhan, dan tak ada kepastian harga jual komoditas pertanian.

“Ya pemerintah sekarang lebih terasa memojokkan petani dibanding mengayomi,” kata Syarif. [abdul hamid/odesa.id]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*