Tani Pekarangan di Edible Town Andernach

Oleh: IRAWATI PRILLIA. Ibu rumah tangga merangkap pekerja laboratorium. Tinggal di sebuah desa bernama Stockheim, kota Düren, di barat Jerman. Kumpulan catatannya bisa dibaca di https://www.keluargapelancong.net/

Andernach, sebuah kota berpenduduk sekitar 30 ribu jiwa di tepian Sungai Rhein Jerman, adalah kota dengan sejarah lebih dari 2 ribu tahun. Memiliki banyak sekali atraksi wisata. Sebut saja sebuah menara setinggi 56 meter yang gagal diledakkan bala tentara Perancis di masa silam, kran pelabuhan dari abad 16, Alte Krahnen, sisa kastil berserta taman di dalamnya, dan air muncrat alami Geysir Andernach. Akan tetapi, tujuan utama kami ke Andernach bukan untuk menyaksikan itu semua. Melainkan untuk melihat dari dekat kebun-kebun tanaman pangan di pusat kota dari program Essbare Stadt (Edible Town) Andernach.

Andernach dan Kota Kassel merupakan dua kota pertama yang memulai gerakan edible town di Jerman. Satu gerakan berawal dari Britania Raya. Di kota Todmorden tepatnya. Sebuah kota tua di Yorkshire. Dua wanita bermimpi „menghidupkan kembali“ kota tua tempat tinggal mereka di tahun 2008. Impian yang kemudian dibagikan dan diwujudkan dengan rencana membuka kebun di sekitar mereka. Yang mereka lakukan adalah: mengambil alih lahan umum tak terpakai atau tidak menarik penampakannya, tanami dengan komoditi yang bisa dimanfaatkan oleh warga. Ide sederhana bertajuk Incredible Edible Todmorden kemudian diikuti oleh banyak warga kota lainnya. Lalu menular ke kota-kota lain di Inggris, hingga seluruh dunia. Saat ini, lebih dari 500 kota di dunia berada dalam payung gerakan Incredible Edible.

Akan tetapi, jika Todmorden dan Kassel dimulai dari inisiatif masyarakat, Andernach berbeda. Inisiatif datang dari pemerintah kota. Tahun 2010 dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Tahun Biodiversitas. Sebagai bentuk partisipasi, Lutz Kosack, Perencana Kota dan Lansekap Andernach, ingin memberikan pengalaman berbeda bagi warga kotanya. Beliau ingin agar tema keanekaragaman hayati lebih mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Ditanamlah 101 macam tanaman tomat di sepanjang tembok kota tua Andernach. Ketika tiba masa panen, masyarakat sekitar diundang untuk ikut memanen hasilnya.

Sukses dengan tanaman tomat, setiap tahun bertambah jenis komoditi ditanam. Kacang-kacangan, bawang, anggur, kentang, dan masih banyak lagi. Terkini, tidak hanya wilayah publik sekitar tembok penuh tanaman yang bisa dimakan, di pusat kota terdapat pot-pot super besar dan bedeng-bedeng mobile berisi tanaman sayur mayur, herba, hingga aneka bunga. Hasilnya boleh dipetik oleh warga kota. Asal tidak merusak dan untuk dimanfaatkan sendiri.

Semua proyek tani pekarangan kota Andernach direncanakan dan dibayai pemerintah kota. Tanaman-tanamannya kebanyakan dirawat oleh tukang kebun pemerintah. Mereka bekerja sama dengan sebuah organisasi untuk mendidik dan memperkerjakan para pengangguran. Sebagai tambahan, pemerintah kota menginisiasi proyek Kebun Permakultur di pinggiran Andernach. Di Kebun Permakultur, orang bisa membeli sebagian hasil panen di sana. Total, lebih dari 14 hektar lahan Andernach dimanfaatkan untuk pertanian kota.  Berkat komitmen, ketersediaan dana, dan pekerja dari pemerintah maka program edible town Andernach ini bisa bertahan lebih dari satu dasawarsa. Menurut Lutz Kosack, banyak program seperti ini mandeg setelah eforia selesai. Sebab program edible town memerlukan biaya sekaligus tenaga kerja.

Kekhawatiran awal akan terjadinya vandalisme, serta gangguan stabilitas pengusaha sayur mayur dan buah-buahan tidak terjadi di Andernach. Bagi penduduk lokal, pekarangan umum menjadi tempat rekreasi, berkumpul bersama teman atau keluarga sambil memetik sayuran atau buah, Sekalian belajar mengenai urban farming. Pertanian pekarangan kota kemudian menjadi salah satu atraksi wisata Andernach. Tidak sedikit orang datang mengunjungi Andernach karenanya. Termasuk juga saya. Di situs kota Andernach, tersedia peta khusus Essbare Stadt. Memberikan informasi  mengenai lokasi pekarangan umum. Selain bahasa Jerman, informasinya tersedia pula dalam bahasa Inggris dan Perancis. Pemerintah kota juga menyediakan tur khusus berbayar. Diikuti ratusan grup setiap tahun.

Memiliki waktu terbatas untuk mengeskplor kota, kami hanya ingin menyusuri kebun-kebun di sepanjang tembok kota tua Andernach. Kadang di bagian dalam tembok, kadang di bagian luarnya. Kami memulai tur jalan kaki dari Helmwartsturm. Salah satu jalan masuk ke kota tua dengan sebuah jembatan kayu di atasnya. Sebuah menara batu beratap kerucut berdiri bagian samping. Sebelum masuk ke arah kota tua, kami duduk-duduk sebentar di dekat kolam luas di luar tembok. Dikelilingi tanaman, kolamnya terlihat alami. Di sore yang panas itu, beberapa penduduk kota memilih duduk di bangku dalam naungan pohon besar.

Di banyak sudut pusat kota kami temui banyak sekali bedeng-bedeng tanaman besar terbuat dari kayu. Isi tanamannya campuran. Tanaman herba bersebelahan dengan bunga-bunga. Sayuran berdekatan dengan buah-buahan berjenis buah beri. Misalnya saja, Swiss Chard ditanam disamping Peterseli. Meski berbaur dengan isi kota lainnya, bedeng-bedeng itu tidak terlihat mengganggu pemandangan. Malah terasa lebih harmonis. Antara tembok kota tua, bangunan-bangunan dan monumen bersejarah kota, tempat-tempat usaha. Sesekali kami temui satu dua orang memetik sayuran dan menyimpannya dalam wadah bawaan.

Tanaman-tanaman merambat mendapatkan perlakukan khusus. Mereka dibuatkan pilar-pilar rambatan tinggi. Sekalian berfungsi sebagai pagar. Bisa juga dijadikan objek foto menarik. Sulur-sulur tanaman anggur merambat di bagian depan dinding dan jendela gedung balai kota Andernach. Sementara di pot-pot panjang di depan jendela lantai atas balai kota ditanami sayur mayur dan tanaman herba. Saya membayangkan para pegawai balai kota makan siang ditemani lalapan mentah yang baru dipetik dari luar jendela mereka.

Di satu halaman kami menemukan beberapa petak lahan didedikasikan untuk bunga-bunga warna pink dan kuning. Sebagian besar mereka sedang mekar merekah. Dikelilingi lebah-lebah liar, kupu-kupu, dan serangga lain. Petak-petak lahan di sampingnya berisi tanaman buah-buahan: Apel, Pir, dan Ceri. Tak jauh dari situ terbentang petak tanaman obat-obatan. Saya terkejut melihat batang pohon pisang tumbuh nyaris menempel tembok. Tingginya sudah lebih dari satu meter. Saya taksir, dari jenis pisang yang lumayan tahan suhu udara dingin.

Satu spot saya jadikan favorit di antara pekarangan umum Andernach. Letaknya di sebelah sebuah warung Döner Kebab. Ada sebuah jalan di antara warung tersebut dan tembok kota tua. Tepat disamping tembok membujur lahan tanam memanjang. Tanamannya campuran. Ada buah Tin, tanaman mirip Bunga Matahari namun berumbi, Jerussalem Artichoke, serta bunga-bunga Mawar liar yang bisa diambil bijinya. Di antara  tanaman dipasang bangku panjang. Teduh sekali kala cuaca sedang panas. Kami duduk-duduk di sana sembari makan Döner Kebab a la Turki.

Memasuki sebuah gerbang, kami menemukan  taman cantik, bagai sebuah secret garden. Taman ini dikelilingi dinding batu kuno. Pohon-pohon besar tumbuh di tepian. Dua remaja sedang duduk dan bercengkerama di sebuah bangku taman. Kami segera berfoto bersama ratusan bunga mawar yang sedang berbunga. Tempat itu adalah taman bekas istana Andernach. Bagian luar reruntuhan kastil tersebut tak kalah indah. Bunga-bunga liar sengaja ditanam. Saya melihat kotak-kotak kayu untuk budidaya lebah. Berada dalam sebuah lahan berpagar. Kabarnya, mereka pun punya tempat pemeliharaan ayam. Sayang kami tak menemukan kebun berkandang ayam itu.

Menyenangkan sekali kegiatan mengeksplor pekarangan luas kota Andernach. Pengunjung bisa sedikit belajar mengenai tanaman lewat papan-papan informasi yang didirikan di beberapa tempat. Di musim panas, banyak tanaman budidaya berupa sayur dan buah sudah cukup besar untuk dipanen. Mengundang kita ikut memetik. Saya ikut memetik buah Stroberi. Ikut merasakan hasil kerja keras pemerintah kota Andernach dan warganya. Sama sekali tak terlihat tulisan dilarang menginjak rumput atau dilarang memetik tanaman. Lutz Kosack beserta tim tidak hanya berhasil mengajarkan keragaman hayati secara nyata. Namun juga menghasilkan pekarangan kota yang menyehatkan,  sedap dipandang mata.[]

Tinggalkan Balasan