Saatnya Sekolah Alam Tanam Kelor

faizmanshur civicislamOleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia
Pertengahan tahun 2016 lalu, Yayasan Odesa Indonesia di Cimenyan Kabupaten Bandung menetapkan kelor (moringa Oleifera) sebagai salahsatu pilihan kegiatan penting dalam pertanian. Fakta di lapangan menunjukkan banyak warga buruh-tani di Kecamatan Cimenyan mengalami kekurangan gizi. Fisik lemah, banyak orang mudah sakit, tenaga kerja tidak optimal, banyak orang terkena katarak, dan lain sebagainya. Bermula dari kebutuhan untuk menciptakan sumber pangan yang berkualitas yang mudah ditanam serta kemungkinan untuk peningkatan ekonomi bertanam kelor menjadi kebutuhan.



Petani didorong membibit dan menanam kelor karena hasil penelusuran kami atas riset-riset dunia modern menunjukkan kelor menyediakan multivitamin sehingga disebut Superfood. Ibu-ibu rumah tangga desa diajarkan cara memasak daun kelor. Anak-anak peserta kursus diberikan teh atau pudding kelor. Dan remaja desa digerakkan menanam kelor di pekarangan masing-masing.

Dunia medis telah banyak bicara tentang manfaat kelor, untuk tubuh manusia, untuk ternak besar maupun ternak kecil dan juga untuk perikanan. Lebih jauh lagi kelor sangat baik untuk penghijauan karena memiliki kemampuan menyuburkan tanah sekitar dan mengembalikan kerusakan tanah dari pertanian yang telah rusak oleh kimia. Kami telah melangkah jauh dengan mengondisikan masyarakat mengonsumsi kelor.

Perbaikan kesehatan pada mereka yang minat mengonsumsi kelor telah luas terbukti di Cimenyan. Demikian juga pada eksperimen pupuk organik. Bersanding dengan urine kelinci, cairan dari daun kelor menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih baik, hasil buah meningkat dan hama pun teratasi secara cepat.

Mascha Davis MPH, RDN, seorang Ahli Nutrisi Resmi dan seorang humanitarian, pendiri Nomadista Nutrition, dalam sebuah tulisannya berjudul “Anda menginginkan Superfood Baru? Temui Kelor.” Dalam tulisan itu ia menjelaskan beberapa hal penting tentang kandungan gizi kelor.

Pertama, ia sampaikan tentang sembilam asam amino esensial yang biasanya hanya ditemui di dalam daging atau ikan. Namun kelor memiliki unsur asam amino esensial tersebut. Kemudian pada kelor terdapat banyak sekali kandungan vitamin dan mineral yang luar biasa. Kelor memiliki kandungan antioksidan dan berbagai polifenol, asam fenolik serta flavonoid dan glukosinolat yang memberikan banyak efek positif. Penelitian menunjukkan bahwa zat ini menurunkan kadar gula darah, mengatur tekanan darah dan kolesterol dan bertindak sebagai antipenir, antitumor dan agen antiinflamasi.

Sementara pada jurnal Phytotherapy Research tertuang sebuah temuan, pada pohon kelor itu terdapat kulit kayu, getah, akar, daun, biji, dan bunya dari tanaman kelor bisa digunakan untuk mengobati beragam penyakit seperti endema, peradangan gusi, radang tenggorokan, radang sendi, gangguan pencernaan, penyakit degenerative, diabetes, asma, penyakit ayan, anemia. Kelor juga memiliki kandungan yang bisa melawan banteri, virus, dan parasit. Itulah mengapa kelor disebut Pohon Ajaib (miracle tree) karena bisa menjawab problem organ tubuh manusia pada fungsi hati, kulit, rambut, tulang, ginjal, mata dan kanker.

Organisasi kemasyarakatan, Green World Campaign (GWC) Greenworld menjadikan kelor sebagai gerakan eko-pertanian untuk memperbaiki lahan-lahan yang rusak di berbagai negara. Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan ekonomi warga desa. Bahkan salah seorang pendirinya, Marc Barasch, sudah mendirikan perusahaan sosial yang mengurus kelor untuk perbaikan gizi masyarakat di Nigeria dengan sistem pertanian agroforesti tradisional.

Sekolah Alam Harus Tahu Kelor
Kelor adalah tanaman yang penting untuk digalakkan di kalangan remaja. Anak-anak remaja itu, dalam beberapa tahun ke depan akan hidup lepas dari orang tuanya. Jika mereka menjadi petani, kelor akan menjadi salahsatu bagian penting mereka dalam membangun rumah tangga yang bergizi, membangun ekonomi dengan pasca-panen kelor, dan akan lebih sehat dengan cara yang murah. Remaja di perkotaan juga akan lepas dari orang tuanya, dan ini penting mereka mendapatkan sumber pangan, sumber ekonomi dan pengetahuan tentang pangan bergizi tinggi berkualitas Superfood.
kelor odesa taoci bandung
Siswa sekolah SMP dan SMA, apalagi sekolah alam di Indonesia belum begitu akrab dengan kelor. Terutama sekolah alam, tentu sebuah ketertinggalan manakala tidak memiliki program khusus untuk menghasilkan superfood. Mereka butuh gizi yang baik pada masa-masa pertumbuhan dan perkebangan biologis. Anak-anak dan remaja juga memiliki kesadaran yang lebih terbuka dalam hal apapun, termasuk kegiatan bercocok tanam dengan catatan semua kegiatan harus menyenangkan. Pengalaman kegiatan pertanian kelor di Yayasan Odesa Indonesia membuktikan, anak-anak remaja ini lebih progresif dalam hal menyerap pengetahuan dan lebih konkret bertindak ketimbang orangtua mereka yang penuh pertimbangan dan lambat bertindak.

Di banyak negara maju, pendidikan tentang gizi sudah mulai diajarkan secara baik. Bahkan di beberapa sekolah yang khusus untuk menjawab persoalan masyarakat, sekolah-sekolah swasta yang lebih mudah melakukan eksperimen kurikulum menjadikan kelor sebagai bagian pengetahuan terpenting dengan tujuan siswa memamahami sumber pangan berkualitas ini.

Tahun 2011 lalu misalnya, seorang artis kenamaan asal Amerika Serikat, Madonna juga menggerakkan pendidikan budidaya tanam kelor di Malawi. Ia memberikan suntikan modal 9 juta USD untuk menjamin kelangsungan sekolah yang mayoritas siswanya adalah anak-anak keluarga miskin dan tertimpa bencana Aids/HIV. Kita tahu, kelor sekarang sudah luas dikenal sebagai bahan baku medis untuk menjawab problem virus ganas yang menyerang kekebalan tubuh manusia itu. Madonna menanam kelor karena ia mendengar masukan-masukan para ahli pendidikan dan menjadikan kelor sebagai solusi untuk perbaikan gizi masyarakat.
MADONA KELOR
Dua tahun lalu, Yayasan Odesa Indonesia kesulitan akan bibit kelor. Berburu batang sebagai bibit mungkin lebih cepat, tetapi memiliki dua resiko besar. Pertama tidak efektif karena pencarian membuktuhkan waktu lama dan membutuhkan banyak biaya. Kedua, hanya 30 persen yang bisa tumbuh secara baik.

Karena alasan itu, pada bulan April 2017, Yayasan Odesa Indonesia mendirikan Grup Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) yang bertujuan memproduksi bibit-bibit tanaman obat, dan kelor menjadi salahsatu perhatian awal. Kini pada bulan pebruari, bibit kelor telah melimpah. Selain ditujukan untuk ditanam di kalangan petani di Cimenyan, bibit kelor ini juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan warga luar Cimenyan, terutama di perkotaan yang membutuhkan bibit kelor. Dengan bibit dari biji tersebut, otomatis akan muncul banyak perbaikan tanaman.

Kita butuh pertanian yang berdaya guna, memberi manfaat berlipat-lipat. Kelor menyediakan sumber nutrisi untuk perbaikan gizi manusia, gizi ternak, perbaikan air, perbaikan tanah, dan juga penghijauan secara berkelanjutan sehingga bisa menjadi salahsatu solusi masa depan kehidupan bangsa Indonesia. Melalui gerakan pendidikan kita bisa berharap hal itu terjadi. Dan Sekolah-sekolah SMP dan SMA, terutama sekolah alam harus memainkan kelor untuk program ini, bukan sekadar untuk mengonsumsi, tapi lebih jauh harus bermanfaat untuk bekal pengetahuan gizi dan lingkungan.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*