Perbaikan Kualitas Kopi, Urus Petani

Basuki Suhardiman

Oleh Basuki Suhardiman. Pegiat Odesa-Indonesia. Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB)

Bicara persoalan kopi kita masih berurusan dengan problem fundamental rendahnya hasil panen kopi yang berkualitas. Kata rendah bukan berarti merendahkan sebab dalam takaran produk global terdapat parameter yang pasti. Memang dari beberapa cupping-test kopi berasal dari Indonesia pernah berhasil menduduki rangking pertama di dunia. Namun yang demikian itu bukan suatu indikasi utama keberhasilan. Banyak fakta menyebutkan tentang kualitas rendah kopi Indonesia. Satu data ringkas misalnya bisa dibaca dari tulisan ini http://www.ico.org/improving_quality.asp

Evaluasi produk kopi muncul setiap waktu. Berbagai pemberitaan dari konferensi internasional atau data bertebaran di situs-situs perkopian internasional. Saya dan teman-teman Odesa-Indonesia Bandung juga mendapatkan fakta lapangan untuk membuktikan hal itu langsung dari kalangan petani di kawasan utara Kabupaten Bandung. Jangankan untuk produk berkualitas yang telah ditentukan standar internasional. Sekadar memenuhi pabrikan skala kecil saja kualitas kopi belum menggembirakan. Begitu kita mendapatkan kualitas, seringkali pasokan kuantitatifnya lemah sehingga pabrikan mengalami kekurangan pasokan.




Di banyak petani pedalaman, hasil panen kopi yang niatnya kita suguhkan untuk memuliakan konsumen tidak diurus dengan cara-cara yang mulia. Maka tidak mengherankan kalau pengolah kopi sebenarnya akan terus dirundung problem kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Siklus panen kopi paling cepat hanya 8 bulan per tahun (rata-rata 10-11 bulan) dan hanya sedikit kopi yang layak diprogres dalam pengelolaan industri modern karena pasokan kualitas sangat minim.

Target mencapai kopi berkualitas menjadi pilihan utama tanpa harus mengabaikan sisi kuantitas. Strategi perbaikan pada sisi kualitas menjadi pilihan utama karena nanti bisa dijadikan percontohan konkret untuk membedakan kopi yang baik dan kopi yang buruk. Dari situlah nanti bisa dikembangkan ke arah pencapaian kuantitatif/massal.

Akar masalah tersebut berasal dari hulu; produksi tanaman berlanjut pada urusan pasca panen yang masih dikelola asal-asalan. Hasil panen kurang bermutu itu disebabkan petani yang minim pengetahuan, tidak merapat pada sistem yang terstandarisasi, termasuk tidak berdaptasi dengan teknologi yang mendukung. Pemerintah Indonesia (tidak seperti di Brazil) belum punya agenda untuk masuk menyelesaikan masalah tersebut secara mendalam sehingga yang dilakukan seringkali hanya agenda even-even, pamer kopi. Biasanya pameran sekadar memamerkan sedikit barang, sementara kebutuhan stok besar (kuantitas) yang berkualitas tidak pernah muncul dalam percaturan perdagangan kopi internasional. Kalangan swasta yang melek urusan kopi sebenarnya banyak yang mengetahui perkara di balik ketidakberdayaan produksi pertanian ini. Namun hanya sedikit kemauan untuk membenahi urusan hulu; terlibat bersama petani mengurus masalah-masalah kopi dari mulai penyiapan bibit, model bercocok tanam, problem pupuk, hingga urusan penghasilan hidup di luar kopi.



Kita tahu, masalah kopi tidak berdiri sendiri. Ada problem Sumber Daya Manusia (SDM), ekonomi petani, lingkungan, dan pasar. Namun yang paling pokok dari semua masalah itu solusi awalnya harus dimulai dari mengurus SDM; mengurus petani-petani di pelosok pegunungan; mendampingi proses mereka bercocok tanam, mengurus lahan, menyiapkan alokasi pupuk, menjawab kebutuhan modal/kredit, urusan ternak, transportasi, manajemen ekonomi hingga urusan-urusan yang melingkupi problem keluarga petani seperti biaya sekolah anaknya dan seterusnya.

Pendampingan yang Membumi

Deretan problem itu bukan hantu yang abstrak. Masalah-masalah itu nyata bisa ditemui selagi kita mau menjalin interaksi yang “membumi” bersama petani. Dan dari sanalah untuk kita berbenah sebenarnya tidak sulit. Bahkan kita akan mendapatkan kekayaan ilmu pengetahuan dari proses belajar bersama petani. Tanpa prinsip “pembumian dalam pendampingan” problematika hidup petani kopi tidak akan terjawab secara tuntas.

Tidak perlu merasa berat, susah dan sejumlah keluhkesah lainnya. Besarnya problem dengan matarantai yang kusut harus diurai satu persatu dengan ketelatenan dan kesabaran. Ada panen kita menikmati, tentu saja saat ada problem kita harus mau untuk menyelesaikan. Soal cara tidak perlu berdebat karena itu bisa didapatkan dalam praktik. Bahkan pengalaman kami mengorganisir petani untuk perbaikan perkopian di Cimenyan dan beberapa tempat lain tidak mengalami hambatan yang berarti karena melalui musyawarah dan tukar pikiran sesama petani terbukti ampuh menyelesaikan persoalan. Seringkali di luar dugaan, petani bisa menyelesaikan masalah secara bersama. Sekali lagi, jika itu ada mediator/fasilitator yang mendampingi (membawa ilmu pengetahuan, mengajak diskusi, dan kesediaan memimpin kegiatan) dari pihak luar.

Salahsatu konkret dari kami misalnya, petani punya kesulitan pupuk untuk tanam dan pemeliharaan. Beban itu disebabkan kelemahan ternak. Langkah yang kita tempuh adalah menjaringkan hubungan dengan peternak yang punya pasokan pupuk, saling pengertian dan kerjasama dengan model barter atau menghutang lunak yang ditanggung secara kolektif. Urusan selesai. Bibit bisa ditanam. Itulah yang kita lakukan berbeda dengan sekadar membantu bibit. Berbeda juga dengan sekadar membantu pelatihan/penyuluhan. Odesa-Indonesia punya model gerakan integrated-coaching karena keberangkatan gerakan kita berasal dari paham integrated-farming. Model ini misalnya menghasilkan efisiensi. Sebagai contoh kita punya pengalaman berharga. Pupuk yang seharusnya dibeli dengan harga 4,4 juta, ternyata hanya cukup dibiayai dengan harga Rp 550.000.

pelatihan-kopi-sentak-dulang3

Selain ternak, problem petani kopi juga terhubung dengan beras (pangan). Panen kopi yang waktunya lama membuat petani kesulitan modal hidup di ruang domestik keluarganya. Petani kebanyakan belum merdeka karena modal cekak mempersempit pilihan. Ketersediaan uang yang hanya pada kisaran angka Rp 1 juta membuat para petani mengalami dilema. Jika uang digunakan untuk modal tani, maka keluarganya kesulitan beras dan biaya harian sekolah anaknya. Jika membeli beras otomatis tanaman kopi dibiarkan, dan itu beresiko pohon kopi tidak akan berkembang baik. Maka, menyelesaikan masalah petani kopi juga harus bicara soal pasokan beras supaya petani tidak lagi bertekuk lutut pada bandar yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi kemudian muncul rasa tidak enak dari para petani jika hasil panennya tidak disetor kepada bandar. Idealnya memang harus ada perbankan yang sesuai dengan model ekonomi petani kopi. Tapi dengan insentif modal kecil kita bisa meminjamkan uang lunak sampai musim panen raya para petani sudah mendapatkan solusi.

Ada pula model lain yang harus diatasi, yaitu pemborosan biaya akibat ketidakadilan struktural dari infrastruktur yang buruk di perdesaan. Misalnya di desa-desa pedalaman itu keluarga petani sangat boros mengeluarkan uang untuk anak-anak sekolahnya karena tidak ada angkutan umum. Setiap anak SMP harus memiliki motor dan itu artinya cicilan membebani mereka. Jarak sekolah yang jauh dengan jalanan rusak seperti yang terjadi di kawasan Desa Mekarmanik, Desa Cimenyan, Cilengkrang dan lain sebagainya menjadi problem besar bagi petani kopi.

Ada pula anomali di lapangan. Selama ini petani kopi mengeluhkan harga kopi yang rendah dan berharap harganya meninggi. Harapan seperti itu membuat kita miris karena di satu sisi mereka ingin harga tinggi sementara hasil panennya tidak sesuai dengan mutu tinggi. Oleh karena itu, selain tetap harus mendesakkan agenda perbaikan untuk mencapai kualitas, strategi mengurangi biaya hidup menjadi agenda utama. Sekolah harus masuk desa, bukan anak-anak petani sekadar diiming-imingi sekolah gratis sampai SMP tapi biaya hariannya sangat boros. Buat apa sekolah gratis kalau biaya transportasi tetap menguras penghasilan petani akibat pemerintah tidak menjawab problem transportasi?

Sukarelawan lintas bidang

Tindakan-tindakan bernilai dalam pendampingan petani kopi harus bersandar pada imajinasi yang bernilai (virtue) kemanusiaan. Untuk apa sumberdaya alam pertanian kopi itu kita urus dan kita kembangkan? Kopi merupakan tanaman yang dibutuhkan penduduk planet bumi. Ia hidup dalam ruang lingkup yang terbatas (kawasan terdekat katulistiwa). Ini merupakan anugerah besar bangsa Indonesia. Pertanian dan industri kopi bisa menjadi modal sosial untuk mensejahterakan kaum tani; membendung migrasi warga desa ke kota-kota jika ada maksimalisasi produksi yang baik dan massal di perdesaan.

Mengurus tanaman kopi dan pasca panen di perdesaan artinya akan membuat warga desa memiliki kehidupan yang lebih baik dan terjauhkan dari siklus ekonomi perkulian industri rendahan di kota-kota. Tanaman kopi juga bisa menjawab problem lingkungan hidup/penghijauan karena membutuhkan tanaman pendamping yang tinggi. Bahkan dengan sejuta pohon kopi misalnya, kita bisa menggerakkan budidaya tanaman obat yang jumlahnya bisa mencapai antara 3-6 kali lipat dari jumlah pohon kopi di sekitarnya. Dari model integrasi pertanian seperti itu kita bisa membayangkan tentang indahnya pesona pertanian Nusantara. Tindakan kecil inilah kita bisa menjadikannya sebagai model dan modal memperbaiki keadaan, mengejar ketertinggalan ekonomi kaum tani.




Membenahi matarantai problem kopi juga tidak cukup dilakukan oleh orang/subjek yang berpengalaman dalam urusan kopi, melainkan juga butuh subjek-subjek lain karena memang urusan kopi/pertanian tidak lepas dari persoalan lain.

Ada masalah pendidikan karena itu butuh sukarelawan bidang pendidikan. Ada problem sanitasi air bersih di kampung-kampung tertinggal karena itu butuh sukarelawan teknologi tepat guna. Ada problem keuangan karena itu petani menunggu kiprah sukarelawan ahli keuangan/perbankan. Ada problem pasokan gas melon yang setiap waktu kekurangan, maka dibutuhkan inisiatif pendirian biogas yang tepat dan murah. Ada problem kualitas guru di desa kurang berkembang ilmu pengetahuannya, maka dibutuhkan trainer-trainer untuk upgrading guru desa. Ada problem kesehatan manusia dan ternak karena itu para petani butuh sukarelawan dari dokter manusia dan dokter hewan untuk membagi ilmu dan amal konkret di kalangan petani desa. Demikian seterusnya.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*