Kenangan Sindangmulih (1)

Sepanjang sejarahnya, rumah di Sindangmulih tidak pernah lebih 20 buah suhunan dengan jumlah penduduknya sekitar 60 orang

Kampung itu tidaklah besar. Bahkan boleh dibilang sebagai kampung terkecil diantara tetangga-tetangganya. Namanya Sindangmulih. Termasuk dalam wilayah Desa Sukamenak, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 8 km ke arah timur dari pusat kota. Setelah Kota Tasikmalaya terbentuk, Sindangmulih termasuk di dalamnya. Kini sesudah Cibeureum dimekarkan, kampung itu menjadi bagian Kec. Purbaratu.

Sepanjang sejarahnya, rumah di kampung tersebut tidak pernah lebih 20 buah suhunan dengan jumlah penduduknya sekitar 60 orang. Lokasi kampung berada di pinggir jalan desa dan dikelilingi sawah. Gunung Galunggung yang berada jauh di sebelah barat kota, terlihat menjulang dengan jelas jika hari cerah.

Warga kampung yang sudah dewasa sebagian besar bekerja serabutan. Hanya beberapa orang saja yang memiliki pekerjaan tetap seperti guru. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai buruh bangunan, pemilik sawah, petani penggarap atau tukang ojek. Rata-rata anak kampung itu mampu menamatkan pendidikan hingga SMA. Sebagian kecil mampu sampai perguruan tinggi dan bekerja sesuai ilmunya. Tapi mereka tidak menetap di kampung itu, jadi perantau.
Sepanjang usia kemerdekaan negeri ini, belum pernah ada warga Sindangmulih yang permanen tinggal di situ, mampu menunaikan ibadah haji. Memang tidak ada waga yang secara materi menonjol dari yang lainnya. Tapi juga tidak ada yang kondisi ekonominya benar-benar buruk. Tidak kaya, namun tidak pernah terjadi warga yang menderita kelaparan.

Seluruh penghuni kampung terikat tali kekerabatan. Mereka berasal dari sumber yang sama. Orang Sunda bilang masih sakocoran (satu aliran). Baru akhir-akhir ini saja ada empat atau lima rumah baru berdiri di seberang jalan. Para penghuni baru itu berasal dari tempat lain dan berada di luar kerabat dekat.

Di kampung itulah saya dilahirkan 51 tahun lalu, 23 hari sebelum pemberontakan G 30 S/ PKI. Pada usia 5-6 tahun, saya masih ingat persis, jalan yang melintasi Sindangmulih masih berbatu. Gerobak sapi masih menjadi salah satu alat transportasi untuk mengangkut barang. Biasanya pada subuh hari mereka berangkat dengan lampu cempor sebagai alat penerangan, dan pulang menjelang magrib atau kadang-kadang hingga lewat isya.

Listrik saat itu memang belum menyentuh kampung kami. Sedangkan peningkatan mutu jalan dengan cara pengerasan tanah dan batu baru dilakukan sekitar tahun 1976. Material itu diperoleh dari sebuah bukit di Kampung Gunung Depok, tetangga kampung. Pengerjaan dilaksanakan secara swadaya plus bantuan peminjaman stoomwals. Atau dalam bahasa kami ketika itu disebut, setum.

Puluhan tahun jalur jalan itu tidak pernah tersentuh aspal secara serius. Memang pernah ada pengaspalan, tapi betul-betul alakadarnya. Asal mengoles saja. Baru belakangan ini, aspal mulus membentang. Tapi akiat buruknya, pengendara motor jadi keenakan tancap gas dengan suara knalpot bising meraung.

Sebagaimana anak-anak lainnya di kampung itu, saya masuk sekolah dasar di SD V di Kampung Nagrog, sekitar 1 km dari Sindangmulih. Namun di SD itu saya hanya sampai kelas II dan selanjutnya sekolah SD Angkasa, dekat Lanud Cibeureum. Kebetulan ayah saya (kami memanggilnya Bapa) menjadi kepala sekolah di SD yang mayoritas muridnya adalah anak-anak kolong itu. Mereka adalah anak-anak tentara dari Kompleks Asrama Kopasgat (Korp Pasukan Gerak Cepat, pasukan elit TNI AU dulu). Kakak saya dan adik-adik saya juga sekolah di tempat itu.

Hingga kelas IV SD, keluarga saya masih menumpang di rumah Uwak Endang. Sebuah rumah panggung peninggalan nenek. Di rumah tersebut lahir kakak, saya dan dua orang adik. Lokasinya di tengah kampung berdekatan dengan masjid. Di belakangan rumah ada kebun milik keluarga. Di dalamnya terdapat pohon dukuh, pohon kelapa, kedondong, pisang dan beberapa jenis lainnya. Juga beberapa kolam.

Di depan rumah ada pohon belimbing yang berbuah lebat dan rasanya manis. Sedangkan di samping kiri, ada pohon jambu yang cabang-cabangnya bisa digunakan penyangga rumah-rumahan. Kadang-kadang saya tertidur siang hari di atas pohon tersebut.

Baru sekitar pertengahan tahun 1975, Bapa membeli tanah di pinggir jalan. Pada awalnya berupa kolam. Setelah dibeli kemudian disaeur (diurug) dan di atasnya didirikan sebuah rumah. Di rumah itu pula, lahir dua adik lainnya.-Enton Supriyatna Sind.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*