Orang Miskin Menonton Kemakmuran

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

“Itu katanya miskin, tapi punya ponsel,” kata seorang teman. Ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai cara mempertanyakan apakah seseorang itu sungguh miskin atau tidak.  Kadang juga kita menyanggah kemiskinan seseorang karena rumahnya tembok. Bahkan ada yang mempersoalkan kemiskinan itu karena pakaian orang miskin itu tampak bagus.

Rupanya banyak dari kita yang mengenal kemiskinan karena penampilan luar, bukan fakta kemiskinan itu sendiri. Orang sering lupa bahwa kemiskinan baik dari teori agama (islam misalnya) karena “kekal/tetap-nya” keadaaan tidak memiliki sesuatu.

Dalam Islam diperjelas kategori miskin adalah orang yang memiliki pekerjaan tetapi penghasilannya “tetap kurang” (untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya). Di bawah miskin ada fakir, pekerjaan tidak tetap dan penghasilannya juga tidak tetap. Keduanya sama-sama didudukkan oleh agama Islam sebagai persoalan.

Pada teori-teori modern, perihal kemiskinan juga bukan karena soal memiliki ponsel atau keadaan rumah, apalagi busana. Orang bisa saja punya ponsel tapi kita tahu kemiskinan urusan paling dasar adalah makanan. Seberapa terpenuhi gizinya menjadi titik tolak ukuran utama. Mungkin nanti kepemilikan ponsel bisa menjadi indikator kemiskinan manakala orang sudah mau makan handphone.

Pada urusan kemiskinan sesungguhnya kita hanya bisa tahu manakala rangkaian keadaan hidupnya kita hitung, bukan sekadar menghubungkan dengan kepemikan ponsel.

Lain waktu kita bisa bicarakan soal ragam kemiskinan. Hal yang ingin saya tulis hubungan antara ponsel dengan si miskin adalah bahwa sekarang orang miskin tampak makmur dengan ponselnya. Di sebelah utara kota Bandung dua tahun lalu sinyal tidak masuk. Tetapi sekarang sinyal mulai menyebar. Para petani terutama anak-anaknya memiliki ponsel. Apakah kemudian ini pertanda kemakmuran? Tunggu dulu.

Aditya Aditiya Pratama  seorang guru muda yang menjadi relawan pendidikan Yayasan Odesa Indonesia  melayani  anak-anak petani miskin menyampaikan dua hal kepada saya:

  • Rata-rata harga ponselnya di bawah 1juta. Rata-rata Ram 1 atau 2 Gb. Beli second. Sebagian nyicil 3 atau 6 bulan. Rata-rata konsumsi kuota Rp 100.000, tetapi tidak selalu aktif saat tidak tidak bisa belanja kuota.
  • Konsumsi informasinya pada youtube, facebook main WA. Apa yang dilihat? Video lucu, kepoin facebook orang, menonton gaya hidup selebritis kaya, dan menggosip di WA serta berbagi link-link berita yang sensasional termasuk berita bohong.

Dua hal itu memperlihatkan adanya keadaan minimnya daya beli tetapi menjadikan informasi dan komunikasi sebagai kebutuhan primer dan pada point kedua merupakan cermin perilaku. Apa sesungguhnya dari perilaku orang ekonomi cekak ini?

Inilah yang penting kita gali lebih jauh. Pasalnya orang miskin dengan ponselnya bukan untuk melepaskan kekekalan keadaan masakin-nya mainkan lebih banyak untuk kesenangan/kelezatan hidup. Suka-suka sesaat setelah itu urusan masa depannya terabaikan. Ngomong-ngomong perilaku ini juga banyak dimiliki kelas menengah. Banyak informasi dan efektif komunikasi tetapi tidak menambah kehidupan ekonomi dan sosialnya semakin bagus. Bahkan hadirnya Teknologi semakin menambah pertikaian dan kemadharatan.

Fenomena kemajuan teknologi atau kemajuan pembangunan fisik sudah menjadi problem sejak lama. Banyak pembangunan maju tetapi bukan lantas memakmurkan kelompok miskin. Sama dengan pertumbuhan ekonomi tetapi bukan menumbuhkan kemakmuran bagi orang miskin. Hidup di zaman maju tetapi persoalan masa lalu tetap bercocol. Dan pemerintah Indonesia untuk masalah tidak peduli keadaan masyarakat bawah ini, tergolong jagoan.

Politisi datang silih berganti. Modernitas global berjalan cepat menyebarkan konsumerisme dan sejumlah pragmatisme. Mereka yang berada di lingkar kekuasaan merespon kecepatan modernisasi itu, tetapi tidak mau/mampu menghubungkan dengan problem rakyat jelata. Ada banyak uang negara bergerak diserap. Tetapi sedikit sekali yang terhubung dengan urusan orang miskin.

Orang miskin dengan ponselnya bukannya makmur tetapi mereka menonton kemakmuran orang-orang di kota. Karena laku hidup bergaya itu tampak menyenangkan mereka pun meniru. Niru gayanya, bukan niru proses kemakmurannya. Itulah mengapa banyak orang miskin gaya hidupnya cepat berubah. Dengan teknologi kita bisa efektif bergaya.

Urusan kemakmuran?

Mungkin laku orang miskin itu seperti pejabat-pejabat kita cakap memamerkan kemajuan negeri lain kemudian berbusa-busa memprogram proyek digitalisasi tanpa berpikir relevansinya dengan penanggulangan kemiskinan.[]

Tinggalkan Balasan