Mengapa Tanaman Pertanian Memerlukan Batu?

OLEH FAIZ MANSHUR. Pegiat Odesa-Indonesia, dan Gerakan Civic-Islam Indonesia.

DI tempat tinggal saya, kawasan Pasir Impun, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, terdapat banyak batu. Bebatuan itu mengisi bagian dalam perbukitan. Hanya berjarak 500 meter, rumah tinggal saya terdapat batu dengan air mengalir, curug batu templek. Dan pada jarak 2 km ke arah utara, terdapat pula galian batu templek (lempengan bebatuan yang diambil dari dalam tanah) yang dijual untuk membangun rumah. Intinya, pada kawasan bebatuan di desa Cikadut dan Mekarmanik itu, beragam tumbuhan bisa subur hidup.

Batu memiliki banyak manfaat, sebagaimana orang membutuhkannya untuk setiap bangunan. Namun ketika saya membaca buku Jared Diamond, agaknya manfaat batu ini cukup mencengangkan. Pada buku Colapse (Senjakala di Pulau Paskah), Profesor geografi dan Ilmu Kesehatan Lingkungan dari Universitas California itu menemukan risetnya tentang hubungan antara bebatuan dan kehidupan pertanian di Pulau Paskah di samudra Atlantik.



Pada pulau yang luasnya hanya 163,6 km² itu, Jared menemukan pola-pola pertanian terkait dengan bebatuan. banyak petani di masa lalu dengan susah payah mengumpulkan batu dengan jarak berkilo-kilo untuk mengurus tanaman pertaniannya dengan tujuan intensifikasi; usaha peningkatan jumlah dan mutu hasil produksi tanpa harus menambah sumber daya ekonomi.

Bumi Subur di kawasan Cimenyan Bandung ini salahsatunya disebabkan oleh faktor bebatuan yang berada dalam perut bumi.
Bumi Subur di kawasan Cimenyan Bandung ini salahsatunya disebabkan oleh faktor bebatuan yang berada dalam perut bumi.

Penelitian dari Chris Stevenson yang dikutip dalam tulisan Jared Diamond itu mengatakan,” batu-batu besar ditumpuk-tumpuk sebagai penahan angin, untuk melindungi tumbuhan agar tidak kering akibat angina Pulau Paskah yang kerap bertiup kencang. Batu-batu yang agak kecil ditumpul untuk menciptakan kebun di atas tanah atau dalam ceruk, untuk bertanam pisang dan juga untuk menyemai biji yang akan ditanam setelah tumbuhan besar.”

Dikisahkan pula, banyak petani di pulau paskah yang mampu menghasilkan panen dalam populasi yang tinggi itu karena kemampuannya memodifikasi luas tanah dengan bebantuan, menyusun budidaya tanaman dengan cara mengisi tanah dengan batu sampai kedalaman 30 cm.

Dunia pertanian di Indonesia selama ini kurang serius memperhatikan hubungan batu dan tanaman. Kalaupun ada justru hanya ditempatkan pada rumus-rumus bercocok tanam skala mikro untuk budidaya bunga hias; orang-orang memasang batu dengan jumlah sedikit di bagian bawah dalam pot. Sementara pengetahuan dari Jared Diamond tersebut menjelaskan bahwa bebatuan mestinya menjadi salahsatu piranti dasar keberhasilan pertanian di ladang-ladang pertanian.



Manfaat bebatuan untuk pertanian

Jared Diamond merangkum pengetahuan tersebut secara menarik. Saya merangkumnya sebagai berikut:

“….Bebatuan menjadikan tanah lebih lembab dengan menutupinya, mengurangi kehilangan air karena penguapan akibat matahari dan angin, serta menggantikan kerak keras di permukaan tanah yang bisa mendorong saluran akibat hujan….”

“….Bebatuan mengurangi fluktuasi suhu tanah siang malam dengan menyerap panas surya saat siang dan melepaskannya saat malam; bebatuan melindungi tanah dari erosi akibat tetesan hujan deras; bebatuan gelap di tanah berwarna lebih terang menghangatkan tanah dengan menyerap panas surya; dan bebatuan juga bisa berperan sebagai pil pupuk yang melepaskan unsur hara perlahan (analog dengan pil vitamin yang melepaskan kandungannya perlahan-lahan, seperti yang sebagian orang telan sehabis sarapan), karena mengandung berbagai mineral yang lama-kelamaan tergelontor ke tanah.…”

Selain merangkum studi dari Pulau Paskah, Jared Diamon juga menuliskan tentang studi menarik dari hasil percobaan-percobaan agrikultur modern di AS Barat Daya yang dirancang untuk memahami mengapa orang-orang Anasazi Kuno menggunakan serasah batu. Kesimpulannya, penerapan serasah batu itu memberikan keuntungan besar bagi para petani.

“Tanah yang ternaungi demikian akhirnya memiliki kandungan kelembaban tanah duakali lipat, suhu tanah maksimum lebih rendah di siang hari, suhu tanah minimum lebih tinggi di malam hari, dan panenan yang lebih banyak bagi kesemua dari 16 spesies tumbuhan yang ditanam—hasil panen rata-rata empat kali lebih banyak pada ke -16 spesies, dan panen 50 kali lebih tinggi pada spesies yang paling diuntungkan oleh kehadiran serasah. Itu keuntungan yang sangat besar.”

Pulau Paskah memiliki sejarah peradaban karena keberhasilannya membangun pertanian dari unsur tanah, batu dan air.
Pulau Paskah memiliki sejarah peradaban karena keberhasilannya membangun pertanian dari unsur tanah, batu dan air.

Akan lebih panjang cerita tentang batu dan pertanian –termasuk peradaban bangsa-bangsa yang maju secara ekonomi seperti yang terungkap dari kisah panjang model pertanian Bangsa Cina yang juga kebanyakan karena kemampuan para petaninya melakukan intensifikasi melalui kombinasi, tanah, bebatuan dan air. -Faiz Manshur

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*