Mang Pendi, Bawang Merah dan Kopi

MANG Pendi (48) –yang akrab disapa Mang Empen- wajahnya sumringah, karena hasil panen bawang merahnya kali ini tergolong berhasil. Menurutnya, kegagalan tanamannya berada di bawah angka 10%. Bawang merah terhampar di teras dan bagian dalam rumahnya. Pemandangan serupa juga tampak di sejumlah rumah tetangga Empen.

“Alhamdulillah, panen sekarang ini termasuk berhasil. Mungkin pada masa tanam kemarin, hujan tidak terlalu sering turun. Jadi tanaman bawang merah tumbuh dengan normal. Sedikit saja yang gagal,” kata warga RW 9, Cikawari Tonggoh, Desa Mekarmanik, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung ini.

Di atas tanah sewaan seluas 200 tumbak, Mang Empen berhasil memanen bawang merah sekitar 1,3 ton. Dari jumlah itu, yang siap dilempar ke bandar sebanyak 1 ton, dan sisanya dijadikan bibit lagi. Pepen dan petani lainnya ingin menjual hasil panennya paling murah seharga Rp 20.000 per kilogram. Namun para bandar yang mulai berdatangan, mematok harga Rp 15.000/kg. Sementara harga di pasaran saat ini sekitar Rp 25.000 – Rp 27.000/kg.




“Belum mau dilepas kalau harganya segitu. Kita lihat perkembangan dulu. Kalau Rp 15.000/kg itu mah terlalu besar minusnya. Kalikan saja, Rp 15.000 x 1.000 kg hasilnya Rp 15 juta. Sementara biaya yang dikeluarkan dari mulai membeli bibit hingga panen, lebih besart dari itu,” kata pria yang menjabat sebagai kepala dusun ini.

Mari kita hitung pengeluaran Mang Pendi pada setiap musim tanam hingga panen bawang merah:
1. Bibit 3 kuintal x Rp 30.000 = Rp 9 juta
2. 70 karung tandon (kotoran ayam) x Rp 22.000 = Rp 1.540.000
3. Pupuk 5 kuintal x Rp 2.200 = Rp 1.100.000
4. Obat tanaman Rp 2,5 juta
5. Tanam bawang 4 orang x Rp 50.000 x 2 hari = Rp 400.000
6. Membersihkan tanaman bawang (ngoyos) 4 x Rp 50.000 x 4 hari
= Rp 800.000
7. Biaya nyetek (nyortir) di kebun, biaya angkut dengan motor, makan
minum dan rokok sekitar Rp 2,5 juta.
Total pengeluaran Rp 17.840.000.

Jadi, memang setiap kali panen sebenarnya tidak ada keuntungan. Malah yang terjadi harus nombok. “Kalau hitungan secara matematika mah, memang tidak pernah untung. Pengeluaran lebih besar daripada hasil penjualan bawang. Tetapi alhamdulillah, kami bisa bertahan hidup dari menanam sayuran ini. Sambil menunggu panen, ya bekerja apa saja yang penting dapur ngebul,” tutur ayah empat anak dan kakek dua cucu ini.

Namun demikian, harapan adanya perbaikan ekonomi keluarganya tetap ada. Sebab itu, Mang Empen ingin menanam kopi sebagai salah satu alternatif. Sudah ada pemilik lahan yang bersedia bekerja sama dengannya. Memang disadarinya, masa tanam hingga panen pertama tanaman kopi cukup lama, bisa sampai 3 tahun. Namun demikian jarak masa panen berikutnya jauh lebih pendek. Satu kali tanam untuk panen yang tidak terhingga. “Setelah urusan panen bawang ini selesai, saya ingin memulai tanam kopi,” katanya.-Enton Supriyatna Sind.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*