Kelor untuk Perbaikan Gizi Rakyat Indonesia

Mengapa rakyat Indonesia harus Menanam dan Mengonsumsi Kelor?

Situs Organisasi Pangan Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan, tanaman Moringa Oleifera (Kelor) memiliki banyak kandungan gizi. Daun, biji, kulit hingga akarnya memiliki guna yang baik untuk kesehatan manusia, ternak dan lingkungan.




Pada daunnya, terdapat protein yang sangat banyak, memiliki kandungan vitamin A, B dan C, dan mineral. Karena alasan gizinya itu, pada situs website FAO dituliskan, ibu hamil dan menyusui dianjurkan mengonsumsi kelor, anak-anak kecil juga penting secara rutin makan atau minum kelor. Tujuannya supaya gizinya baik.

Tanaman Kelor sangat mudah ditanam di banyak tempat, kawasan pantai sampai pegunungan pun bisa adaptif. Bahkan di beberapa negara padang pasir seperti Israel, Pakistan, Mesir, India bagian utara juga tumbuh secara baik. Di Indonesia sangat mudah menumbuhkan kelor, apalagi saat tanam di musim penghujan. Petani dari Grup Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) dan Grup Tani Pekarangan Cimenyan (Tapeci), misalnya, bisa memanen pertama kali dari batang stek dalam waktu 2 bulan tanam awal, dan selanjutnya memanen setiap 35 hari (puncak gizi). Pada bijinya juga bisa dikembangkan, membutuhkan waktu 3-4 bulan dalam polybag kemudian bisa dipindah ke ladang, dan mulai bisa dipanen perdana pada usia 8 bulan.

Panen pertama dan kedua biasanya jumlahnya sedikit, antara 1-3 Ons per-pohon. Namun seiring dengan usianya setiap pohon bisa menghasilkan hampir 1 kg daun basah.

FAO memperkaya pengetahuan kita tentang kelor. Katanya, kelor memiliki antibiotik, antitrypanosomal, hypotensive, antispasmodic, antiulcer, antiinflammatory, hypo-cholesterolemic, dan hypoglycemic properties.



Dengan penjelasan itu, Kelor harus didudukan sebagai makanan sehari-hari, bukan obat. Kelor memang bisa mengobati banyak penyakit, dan itu terbukti. Bahkan Yayasan Odesa Indonesia mudah mengajak petani bertanam kelor tanpa tujuan perdagangan karena para petani sudah merasakan manfaat kesehatan setelah mengonsumsi Kelor. Padahal sebelumnya banyak petani Cimenyan Kabupaten Bandung menganggap kelor sebagai tanaman yang gunannya hanya diketahui mengusir setan.
Sekarang pengetahuan tentang usir setan dengan kelor adalah, mengusir setan-setan seperti kanker, kurang gizi, kurang vitamin, kurang energi dan seterusnya.

Selain untuk manusia, Kelor sangat baik untuk hewan. Ayam sakit sehat karena Kelor. Domba cacingan tuntas karena Kelor. Sapi lebih hemat pakan karena Kelor berhasil memasok gizi yang baik. Bahkan kucing dan kelinci pun lebih sehat setelah mengonsumsi kelor.

Pada aspek lingkungan kelor sangat baik untuk pengijauan karena terbukti mampu menjadi penopang lereng tanah, menahan kencangnya hembusan angin, akar dan bijinya bisa menjernihkan air. Bahkan di Zimbabwe telah diuji, lahan pertanian yang sebelumnya rusak karena kimia bisa pulih untuk tanaman organik hanya dalam waktu sekitar 1 tahun. Hal itu karena di sekitar area pertanian tersebut ditanami kelor. Luar biasa peran akar dari kelor ini.

Setelah kita memahami manfaat kelor untuk tubuh manusia, tubuh hewan dan juga lingkungan, bolehlah selanjutnya kita merasakan manfaat lebih, yaitu untuk penghasilan ekonomi dengan menjualnya.

Indonesia butuh banyak Kelor. Banyak rakyat yang kurang gizinya. Banyak sayuran kimia yang gizinya rendah. Indonesia butuh Kelor untuk pemasok gizi keluarga, agar manusia Indonesia lebih sehat. Kelor bisa ditanam tanpa harus mengganti tanaman lain. Kita bisa menanamnya di lahan-lahan tidur. Pekarangan, pinggir jalan, atau pinggir lahan pertanian. Yang tinggal di kota maupun di desa, juga di pinggir pantai, ayo tanam kelor. Jangan lupa makan atau minum setiap hari.[Fm.Odesa.id]

Bacaan Kelor lain bisa diakses di Rubrik Herbal


Komentar

  1. […] tentang kelor bisa dibaca di Kelor untuk Perbaiki Gizi Rakyat Indonesia Manfaat Kelor untuk Pangan dan […]

Tinggalkan Balasan