Kelor: Manfaat Gizi, Obat dan Solusi Stunting

Pada situs website The National Center for Biotechnology Information (NCBI) terpampang sejumlah kajian tentang Kelor (Moringa Oleifera). Salahsatu makalah yang menarik adalah berkaitan penjelasan Kelor pada urusan kemampuan perbaikan gizi dan kemampuan mengobati sejumlah penyakit.

Pada link website Adopsi Moringa tersebut dikatakan, sekalipun tidak ada uji klinis yang ketat terkait dengan kemanjuran Kelor dalam mengobati penyakit tetapi kandungan gizinya sudah sangat banyak membuktikan hal itu.
Mendapatkan Teh Kelor yang Baik




Bukti kemampuan kelor dalam pengobatan tidak semata contoh kasus kekinian, melainkan telah terpampang dalam jejak sejarah ratusan tahun di beberapa negara yang secara tradisional memanfaatkan kelor sebagai makanan atau obat. Memang hanya sedikit negara yang memiliki pengalaman itu dan itupun terkadang hanya pada sekup-sekup lokal masyarakat, seperti yang terjadi di belahan utara India, Nigeria, Mesir, dan beberapa negara lain.

Beberapa manfaat pengobatan kelor baik dari daun, bunga, biji tua misalnya bisa mengobati penyakit kulit, sesak nafas, kanker, infeksi gigi, radang gusi, hipertensi, diabetes dll.

Gizi adalah kata kunci mengapa Kelor menjadi penting kita gali. Secara umum gizi kelor yang kita ketahui adalah karena kelor memiliki Vitamin A yang jumlahnya 4 x lipat daripada wortel, 7x lipat vitamin C dari Jeruk, 4 x Lipat kalsium susu, 3x lipat potassium/kalium pisang,2x protein dari Yogurth, ¾ zat besi dari Bayam ( Trees for Life, 2005) ). Pada banyak penemuan, Kelor juga sangat baik untuk meningkatkan bobot ternak, sangat bagus untuk pupuk daun dan buah, bahkan potensial menjadi pupuk pengusir hama.

Bagaimana mendapatkan gizi Kelor?
Beragam pengalaman yang dihimpung situs ncbi menjelaskan setiap model konsumsi (makan, minum atau menelan) daun dan bijinya merupakan keuntungan. Tidak ada resiko apapun dari semua riset, dan dengan mengonsumsi daun segar, daun kering atau serbuk/bubuk adalah langkah yang semuanya memberi keuntungan dari gizi. Perdebatan antara perbedaan meraih gizi kelor paling hanya berkisar pada antara daun (segar/kering) Vs bubuk. Pada daun segar atau kering terdapat vitamin E, B, C yang bertahan baik dan berkurang ketika menjadi bubuk dan memiliki keunggulan pada kandungan gizi lain.

Tetapi pada akhirnya masyarakat harus dibebaskan dari kerumitan, karena yang terpenting pada usaha ini adalah rutinitas mengonsumsi setiap hari. Pada mereka yang obesitas akan sangat baik untuk menghancurkan lemak. Praktik pada beberapa orang yang mengalami banyak lemak di Cimenyan Kab.Bandung membuktikan seringnya orang mengalami diare kecil saat beberapa hari mengonsumsi daun kelor. Tetapi pada hari ketiga, atau seminggu rata-rata perut normal. Yang terasa misalnya, kebutuhan konsumsi terhadap nasi/beras langsung drastis berkurang, badan lebih bugar dan buang hair besar lebih lancar.

Pada penderita diabetes juga banyak terjadi perubahan yang signifikan di mana badan membaik secara bertahap selama 2 bulan. Juga pada penyandang stroke, rata-rata organ tubuhnya setahap demi setahap membaik setelah 3 mingguan mengonsunsi daun kelor setiap hari. Bahkan secara tegas pada situs FAO disebutkan Kelor adalah solusi untuk ibu menyusui. Dan di Pilipina banyak bidang mendorong ibu hamil dan menyusui mengonsumsi kelor setiap hari.

Fakta-fakta manfaat kelor bagi pengobatan secara kualitatif tersebut perlu disampaikan karena sejauh ini kita belum mendapatkan panduan untuk medis. Tetapi yang terpenting kaidah umumnya adalah bahwa Kelor sama sekali tidak membahayakan untuk dikonsumsi siapapun pada saat kapan saja. Seluruh organisasi formal maupun informal di dunia ini tidak berbicara mengenai dosis pengobatan karena itu memang bukan soal bahan obat, melainkan adalah sumber pangan yang baik untuk menyehatkan tubuh.
moringatree large
Sejak kapan Kelor direkomendasikan PBB?
Mengapa kelor belakangan ini santer mewarnai berita sementara tanamannya tergolong tua? Ini adalah urusan proses ilmu pengetahuan. Sejak tahun 1980an ilmuwan mulai meneliti manfaat kelor. Baru tahun 1990an mulai banyak penemuan-penemuan kandungan gizinya yang baik, dan barulah pada era 2000-an gerakan penelitian mulai semakin menguat melalui lembaga-lembaga swasta bersamaan dengan praktik lapangan perbaikan gizi buruk di Afrika Selatan. Semua dilakukan oleh kalangan LSM. Dan akhirnya dunia mengakui secara formal setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui WHO dan FAO tentunya membuat publikasi dan dorongan setiap negara agar membudidayakan Kelor Moringa FAO. Ada yang cepat responsif seperti Israel Kelor di Negeri Yahweh dan kini mengembangkannya secara massif dan ilmiah di pinggir Laut Mati. Sementara Kuba lebih cepat tanpa menunggu seruan PBB dengan memulai mengembangkan kelor berbasis laboratorium dipimpin langsung oleh Fidel Castro tahun 2011. Mengapa Castro Menanam Kelor? Warisan Kelor Castro
Mendapatkan Teh Kelor yang Baik




Banyak pemerintahan dunia ketiga yang pasif atas ide baru ini, termasuk Indonesia yang sampai sekarang belum punya sikap yang jelas. Sekalipun Menteri Kesehatan saat merespon Gizi Buruk di Asmat Pebruari 2018 lalu sudah mengeluarkan seruan,Gizi Buruk Asmat Kemenkes Singgung Kelor tapi pada saat Presiden Joko Widodo “ngojek” ke Sukabumi dan mengangkat problem stunting di Jawa Barat solusinya masih model lama dengan bicara gizi berbasis susu dan makanan lain yang pengetahuan itu ngetren di era 1970an.Ini artinya pemerintah kita mengalami keterbelakangan dalam hal solusi, termasuk Prabowo Subianto Revolusi Putih Program Ketinggalan Zamanyang masih gemar kampanye susu sementara susu itu selain tidak dibutuhkan Tidak Perlu Susu Sapi juga sangat problem untuk Indonesia karena susahnya kita swasembada ternak. Baca Juga Kebohongan Manfaat Susu Sapi
Banyak Bahaya Susu Sapi

Dunia telah berubah. Ilmu pengetahuan begitu cepat, tapi negara kita lambat dalam hal ini. Padahal dengan gizi kelor urusan stunting dan/atau gizi buruk sekalipun sudah terbukti bisa diatasi. Mulailah menggali pengetahuan yang murah, mudah dan ilmiah berbasis riset. -Faiz Manshur.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*