Manusia Desa dan Kelemahan Produksi

Persoalan Indonesia bukanlah semata urusan Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Presiden, atau berita-berita selebriti. Urusan manusia desa terkait dengan problem pertanian, infrastruktur desa dan kerusakan lingkungan jelas lebih utama untuk dibicarakan kemudian disambut dengan tindakan.

Maka diskursus untuk memecahkan persoalan Indonesia tentang desa dengan menekankan aksi terobosan menjadi sangat penting.

Harus terus diingatkan, bahwa negara sangat lemah dalam memperhatikan persoalan desa sehingga sekarang banyak warga desa yang seharusnya bergantung pada sumber pertanian tidak bisa hidup sejahtera melalui basis produksi pertanian. Salahsatu kasus sederhana misalnya, ada banyak rumah milik petani desa yang kondisinya bagus tetapi kehidupan rumah tangganya miskin. Setelah diteliti dari mana mereka mampu memperbaiki rumahnya, ternyata bukan dari hasil pertanian, melainkan dari hasil lain.

Ada seorang petani yang menjual sapi hasil sumbangan dari Pemerintah. Sapi yang seharusnya dipelihara untuk indukan dijual untuk membangun rumah. Ada banyak domba yang seharusnya dipelihara dijual untuk membeli sepeda motor. Mereka memilih ngojek ketimbang mencari rumput untuk dombanya. Ada juga petani yang bisa memperbaiki rumahnya karena terpaksa menjual tanahnya dan memilih menjadi kuli bangunan atau berdagang. Yang tragis adalah petani menjual tanahnya kepada orang kota, kemudian tetap menggarap tanah itu. Status mereka dari petani dengan modal tanah kemudian anjlog “menjadi kuli di tanah sendiri”. Inilah akar persoalan yang akut sehingga keluarga petani tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMA. Bahkan banyak anak-anak SMP yang jebol sekolah. Perkawinan dini pun merebak. Di desa-desa Kabupaten Bandung, banyak anak-anak perempuan menikah pada usia 16-18 tahun. Lelakinya menikah usia 20-23 tahun.

Situasi perdesaan, bahkan di pulau jawa dan dekat dengan metropolitan Bandung seperti di kawasan Kabupaten Bandung juga sangat mengenaskan. Kalau kita baca tulisan dari situs FAO (Food and Agriculture Organization) seperti pada link ini,FAO maka terang di sana hamparan problem kemiskinan terjawab karena ketidakmampuan negara dalam mengurus warga-negaranya, mengurus lingkungan hidup dan gagal menawarkan gagasan-gagasan dalam memperbaiki keadaan.

Odesa-Indonesia memandang kelemahan mendasar ekonomi bangsa ini berasal dari kelemahan produksi. Banyak produksi yang lemah baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga beras, jagung, kopi,gula, ternak. Bahkan ketika kerusakan alam banyak merajalela di desa-desa mungkin tidak lama lagi kita harus mengimpor air atau udara bersih.

Dalam pertemuan sederhana Sabtu itu, ada ternak sapi yang harus mulai dikembangkan dengan sistem baru. Ada pertanian kopi yang harus digarap dari hulu ke hilir agar produk petani meningkat secara kuantitatif dan kuantitatif. Ada masalah pendidikan, infrastruktur, wirausaha dan persoalan kemiskinan yang juga harus dijadikan landasan kerja pendampingan. Agar Indonesia semakin baik, Desa sebagai hulu harus diperkuat dengan cara pandang baru dan tindakan kreatif.- Mudris

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*