Festival dan Ritual adalah Survival

 

Oleh BUDHIANA KARTAWIJAYA. 
Ketua Pembina Odesa Indonesia

Mereka mencari rezeki di kota, membagikannya di desa. Ekonomi bawah pun merangkak naik. Manusia berproduksi membentuk kekayaan, kemudian mendistribusikan sebagian hartanya ke kampung. Handai taulan pun mengonsumsinya.

Media menyebutkan, dalam mudik kali ini uang 40 triliun merembes ke desa-desa. Bentuknya angpao, Tujangan hari raya (THR), uang bakti, zakat, infak, sadaqah.

Uang-uang itu dibelanjakan di warung tetangga, atau pasar lokal. Tukang kebun, tukang parkir, tukang cilok, tukang baso, janda tua, tak ada yang luput dari rezeki ini. Pendek kata, Idulfitri adalah instrumen keuangan inklusif, semua tersasar.

Mesin ekonomi terbawah pun berputar. Idulfitri menjadikan uang itu tidak beredar di kota-kota saja, tidak tertahan di segolongan kecil saja.

Manusia adalah mahluk ekonomi., dia mahluk yang hidup dalam siklus produksi-distribusi-konsumsi. Secara antropologi, setiap tahap siklus ini ada ritual, ada festival. Manusia purba memulai berburu (produksi) ke hutan, dengan mantera dan doa minta perlindungan kepada arwah penjaga hutan.

Setelah dapat buruan, ada upcara membagi-bagikan daging buruan (distribusi), dan kemudian berkumpul bersama melakukan tarian dan festival kecil atau besar untuk menyantap bersama daging buruan (konsumsi).

Pada masyarakat tani, ada upacara sebelum tanam padi. Waktu mau panen, ada upacara, dan setelah panen ada upacara.

Pada nelayan juga begitu, sebelum melaut ada ritual baca mantera, pulang melaut ada ritual membagi ikan. Kemudian ada upacara kampung untuk pesta ikan bersama.

Pada masyarakat pemburu ada larangan berburu pada hari tertentu, pada masyarakat tani ada larangan bertani pada hari atau bulan tertentu. Pada masyarakat nelayan ada minggu-minggu tertentu yang tidak boleh melaut.

Ada ritualnya, kadang ada puasanya. Larangan-larangan ini berfungsi untuk menyembuhkan (healing) bumi sehabis diburu dan digarap.

Burung, lebah, kupu-kupu, mikroba kemudian bertugas memulihkan bumi tanpa ada gangguan. Tanah pertanian punya kesempatan untuk pulih. Ikan dan udang punya kesempatan bertelur.

Begitu, Idulfitri, Iduladha, aqeqah, puasa, zakat dan lain-lain adalah ritual, adalah festival. Hikmahnya: mensakralkan produksi, distribusi dan konsumsi.

Dengan festival dan ritual, kelanggengan produksi, distribusi dan konsumsi jadi langgeng, berkelanjutan. Maka keamanan pangan terjaga.

Apa jadinya jika manusia tidak punya festival?

Produksi akan jadi tidak sakral, tidak akan ada distribusi dan konsumsi massif. Ekonomi orang lemah tidak akan berjalan.

Aset hanya beredar di kalangan tertentu. Kesenjangan akan melebar. Kehidupan sosial pun akan hancur.

Demikianlah Ramadan dan Idulfitri. Keduanya adalah dua festival besar yang memelihara keseimbangan sosial.

Kita adalah manusia ritual, dan manusia festival. Kita harus menghormati festival dan ritual kelompok adat, agama, dan etnik yang berbeda-beda.

Karena ritual dan festival adalah soal survival, soal kelanjutan manusia, alam dan kemakmuran: people-planet-prosperity.

Selamat menikmati kehangatan kopi pagi di kampung, sampai hari libur rampung.

Gerakan Odesa dalam Mengatasi Kemiskinan

Pilihan Kontribusi Donasi untuk Gerakan Odesa

Tinggalkan Balasan