Abdul Kabayan dan Pusing Berkelanjutan

Setiap hari senin kepala Abdul Kabayan sering cenut-cenut. Bukan soal urusan pekerjaan di Kantornya di Kawasan elit Kota Bandung itu, melainkan karena mengurusi orang miskin di perdesaan di Cimenyan. Kang Abdul Kabayan yang dulunya bernama Enton Supriyatna ini saban hari senin punya tugas memeriksa laporan kerja relawan Yayasan Odesa Indonesia, tempatnya bergiat mendampingi keluarga Petani Golongan Pra-Sejahtera.

Abdul Kabayan ini oleh Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU) K.H Maman Imanulhaq dijuluki sebagai Gubernur Cimenyan. Menurut Kiai Maman, keterbelakangan Kecamatan Cimenyan Bandung itu tidak cukup diurus oleh Bupati. Tetapi karena Gubernurnya juga tidak mengurus, maka Kang Abdul Kabayan ini didaulat jadi Gubernurnya—sebagai olok-olok terhadap Gubernur de jure yang tak pernah mengerti urusan Rakyat Cimenyan. Kiai Maman bilang, “Kalau sampai tahun 2019 nanti Gubernur de jure-nya belum juga mengurus Kawasan Bandung Utara, maka Kang Abdul Kabayan akan dinobatkan sebagai Presiden Cimenyan.”

Tetapi Itu bukan harapan Kiai Maman. Sebab Kiai Maman sadar, kalau Abdul Kabayan sampai marah dan benar-benar pingin jadi Presiden, Cimenyan bisa merdeka. Dan itu artinya di tengah Jawa Barat akan ada Negara RRC=Republik Rakyat Cimenyan. Sesuatu yang mengerikan bagi NKRI tentunya.

Abdul Kabayan pusing kenapa?

Bayangkan, setiap ada laporan dari relawan yang mendampingi kampung itu, selalu saja ada masalah dengan sikap atau perilaku yang tidak rasional. Dulunya ia sering berpikir positif saja pada setiap laporan terkait dengan urusan petani. Bahkan ia sering menegur relawan agar lebih bersabar. Namun lama kelamaan Abdul Kabayan menemukan fakta ada yang tidak beres dari warga desa yang kebanyakan hidupnya susah itu. Misalnya soal hitungan anggaran. Seharusnya dibelanjakan untuk barang A, ternyata digunakan untuk yang lain. Seharusnya bantuan beras cukup untuk satu minggu, ternyata baru tiga hari sudah habis. Ada juga laporan, beras untuk acara kegiatan seharusnya digunakan pada hari H pelaksanaan, ternyata sudah habis 3 hari sebelum acara dilakukan. Bahkan pernah kejadian, angaran yang sedianya bisa membangun sarana Mandi Cuci dan Kakus(MCK), ternyata tidak jadi digunakan semestinya dengan alasan untuk membayar hutang pekerjaan sebelumnya.

Ada juga kisah tentang Kang Abdul Kabayan yang memberikan pekerjaan pada buruh tani. Seharusnya dengan upah yang diberikan pekerjaannya beres. Tapi begitu lahan pertanian Daun Afrika dan Kelornya diperiksa langsung ternyata cara tanamnya tidak benar. Tanah tidak digemburkan, rumput dibiarkan berkembang tanpa kontrol, dan cara menanamnya tidak sesuai kaidah. Akibatnya Kang Abdul Kabayan mendapat cemooh teman-temannya.

“Katanya Sarjana kok kalah sama buruh tani.” Olokan yang membuat raut muka Abdul Kabayan culun, mirip monyet kedinginan.

Kisah-kisah semacam itu terjadi berulangkali. Abdul Kabayan selalu pusing. Untungnya ada minuman Kelor, sehingga setiap darahnya naik langsung terkontrol.

Hal yang penting dicatat dari kisah Kang Abdul Kabayan ini adalah perihal banyak orang miskin yang mentalnya terus menurus ingin dikasihani. Pernah suatu ketika ada keluarga papa dibantu pembangunan rumahnya. Setelah selesai pembangunan rumahnya, orang itu bilang, “terimakasih Pak Kabayan. Kebetulan tiga bulan lagi anak saya mau menikah. Saya sangat berharap Pak Kabayan membantu pembiayaan pernikahan anak saya.”

Jebret! Kabayan seperti disambar gledek.

Pengalaman lain. Abdul kabayan pernah namanya dicatut seseorang. Orang itu mengambil bahan bangunan titipan orang kota untuk pembangunan rumah keluarga miskin. Setelah ditanyakan kenapa bahan bangunan diambil, katanya membeli dari rekan Kabayan di kota. Padahal tidak ada jual beli bahan bangunan.

Kalau ingat kejadian-kejadian itu sebenarnya Abdul Kabayan ingin marah. Tapi ia sadar marah itu bisa merusak saraf dan itu bisa memboroskan Kelornya. Apalagi panen Kelornya belum begitu bagus.

Dalam menghadapi kepusingan berkelanjutan ini, Abdul Kabayan juga pernah dinasehati oleh sahabatnya, Adipati Budhiana Kartawijaya. “Jangan pusing akang. Itu mereka bohong bukan karena tidak jujur, cuma pingin perhatian. Bohong itu menurut mereka bisa survive. Buktinya setelah tidak melaksanakan kesepakatan mereka memelas dan mengaku. Nah, itu kesempatan Kang Kabayan berbuat baik lagi,” katanya.

Dalam hatinya, Abdul Kabayan memaki, “kucing….. bukan anjing….”

Kabayan yang kehabisan pikir akhirnya mengikuti nasehat yang sebenarnya agak sesat itu. Tapi demi rakjat, ia tetap tulus sekalipun dalam hatinya gerundelan tingkat dewa; “sampai kapankah mereka berubah?”.

Di balik kepusingan berkelanjutan itu, toh Kang Abdul Kabayan tetap tabah. Ia merasa harus bertahan melayani orang miskin karena sebenarnya di antara kemiskinan dan kebodohan ada humor. Dan kalau sudah urusan Humor, Abdul Kabayan akan lupa segalanya. Mobil pun bisa dijual demi kepentingan ideologis ngakak bareng.

Dan sejujurnya, tidak setiap orang yang dibantu selalu buruk perilakunya, atau selalu bodoh tindakannya. Ada yang pinter dan mau belajar seperti Mang Toha alias Pak Ogah yang kalau tertawa suaranya bisa didengar dari radius 4 kilometer. Itulah yang membuat Kang Abdul Kabayan bertahan dan merasa bahagia. Badan tetap tambun, betah keluar masuk rumah-rumah tidak layak huni, dan sekarang sedang sibuk mendata jumlah janda lanjut usia di 10 kampung.[Khoiril]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*