Bangun Toilet Agar Tak Menumpang Mandi ke Tetangga

“Bade ka cai? Eta di gigireun bumi aya jamban. Mangga tiasa di dinya we. Abdi mah teu gaduh jamban di lebet bumi,” kata Aki Omreng (84) saat relawan Odesa Indonesia menanyakan tempat buang air kecil. (Mau ke jamban? Itu di samping rumah ada jamban. Silakan bisa di sana saja. Saya tidak punya jamban di dalam rumah).

Yang disebut jamban oleh Aki Omreng adalah sebuah bangunan serupa gubuk kecil, berukuran 1,5 x 1,5 meter. Berdinding bilik (anyaman bambu) lapuk yang ditambal kayu keropos. Atapnya asbes bekas, lantainya beralas tanah. Kloset dibuat seadanya. Ada selembar seng yang sisinya dijepit bilah bambu. Itulah daun pintu tidak berengsel, yang dijadikan tabir jika orang beraktivitas di jamban itu.

Gubuk kecil itulah yang sehari-hari melayani kebutuhan rutin sejumlah warga di Kampung Cikoneng 1 Desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi Kab. Bandung. Berfungsi seperti WC umum bagi warga yang di rumahnya tidak ada sarana Toilet sendiri. Ada pula sarana buang hajat tanpa atap yang hanya ditutupi penghalang alakadarnya.

Jamban umum tanpa toilet ini dipakai puluhan warga. Toiletnya terpisah tanpa air bersih yang memadai. [/caption]

SOLIDARITAS PEMBANGUNAN TOILET AGAR WARGA HIDUP SEHAT

“Ngiring ka jamban” (menumpang mandi dan sejenisnya) adalah istilah yang biasa digunakkan ketika warga yang tak punya sarana Toilet sendiri ikut berkegiatan di jamban milik tetangga. Di kampung tersebut tidak sedikit sarana Toilet seperti yang terdapat di samping rumah Aki Omreng.

Ketiadaan sarana Toilet yang layak, memberi dampak signifikan bagi tumbuhnya lingkungan dengan sanitasi yang buruk dan berdampak pada munculnya beragam penyakit. Kalau kita lihat fakta-fakta penelitian dari berbagai sumber, setidaknya ada 9 penyakit yang akan berdampak pada warga yang keadaan sanitasinya buruk.

1). Bakteri patogen: sangat berbahaya karena bisa menimbulkan TBC dan pneumonia, termasuk tipus dan kolera.
2). Shigellosis: menyebabkan sakit perut dan diare.
3). Tipus: Demam ringan hingga berat berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu.
4). Kolera: Infeksi usus yang dapat menyebabkan diare berair yang menyebabkan dehidrasi.
5). Diare: kotoran berair menyebabkan dehidrasi. Dampaknya bisa fatal bagi anak kecil.
6). Virus merupakan agen infeksi yang dalam situasi buruk sanitasi akan memproduksi lebih banyak virus lain sebagai pemicu penyakit Polio, HIV / AIDS, influenza dan rotavirus.
7). Hepatitis A: Infeksi hati bisa menimbulkan diare dan penyakit kuning.
8). Polio: melemahkan otot, bahkan berujung pada kematian.
9). Protozoa Amoebiasis: Disentri amuba bisa menyebabkan diare ringan dan parah serta kerusakan hati. Sedangkan protozoa Giardiasis menyebabkan infeksi usus kecil dengan berbagai gejala sakit usus seperti diare kronis, kram perut, produksi gas dan sering buang air besar, pucat dan berminyak.
10). Cacing jenis parasit termasuk cacing pita, cacing dan cacing gelang bisa mengintai tubuh anak-anak. Jenis-jenis cacing yang masuk dalam usus ini menjadi problem susutnya berat badan anak, kurang gizi, kurang darah, kerusakan ginjal.

Pengurus Odesa Indonesia berembug dengan warga menentukan lokasi pembangunan Toilet Komunal.

Toilet umum
Membangun sarana Toilet umum adalah jalan keluar yang masuk akal. Namun di lapangan seringkali ditemui persoalan dalam ketersediaan lahan. Untuk membangun sarana seperti itu, dibutuhkan kesiapan warga untuk merelakan lahannya dipakai kepentingan umum.

Dari pengalaman Yayasan Odesa Indonesia melakukan gerakan perbaikan sanitasi ini, menemukan banyak kasus pembangunan sarana Toilet umum tidak bisa dilaksanakan karena lahan yang diperlukan tidak ada. Padahal warga setempat sangat membutuhkannya.

Berdasarkan survey yang dilalukan relawan Odesa Indonesia Rabu (26/8/2020) lalu, di Kampung Cikoneng 1 R 02/ RW 01 setidaknya membutuhkan dua bangunan sarana MCK umum untuk melayani lebih 20 keluarga. Di dua lokasi itu, sudah terdapat lahan yang siap digunakan untuk fasilitas umum.

Pengurus Odesa Indonesia berembug dengan warga menentukan lokasi pembangunan Toilet Komunal. [/caption]

“Untuk kepentingan umum mah, silakan saja lahan saya dipakai,” kata Dedi (42) warga setempat yang menyediakan halaman depan rumahnya untuk jamban umum. Halaman rumah Dedi sebenarnya tidaklah luas. Bahkan sudah terpakai sebagain untuk kandang kambing. Tapi Dedi bersedia menggeser kandang itu ke sisi yang lain.

“Alhamdulillah kami tidak kesulitan soal Toilet. Karena sejak lama sudah ada. Bahkan beberapa tetangga sering menumpang di sini. Sumber air juga punya sendiri, tapi memang pompa airnya kurang kuat. Jadi air yang keluar tidak begitu besar,” ujar Dedi sambil menunjukkan sumur berdiameter 1 meter.

Toha (40) yang bertugas memimpin kegiatan amal pembangunan toilet pada hari itu langsung menyusun rencana. Ukuran toilet yang dibangun rencananya seluas 6×2 meter persegi. Terdiri dari tiga pintu, ditambah tempat untuk mencuci pakaian. Pembangunan akan dimulai pada awal September 2020. Menurut Toha, butuh sekitar 5-7 hari membangun sarana toilet komunal.

Tidak sulit air

Air bersih merupakan syarat penting bagi terciptanya kondisi sanitasi yang sehat. Untuk hal yang satu ini, sebagian besar warga setempat tidak mengalami kesulitan. Jika masuk ke rumah-rumah mereka air jenir keluar dari selang plastik. Mereka tidak pernah ketar-ketir khawatir kehabisan air seperti pelanggan PDAM di kota-kota.

“Ketersediaan air tidak masalah bagi kami. Setiap saat mengalir dari sumbernya di kaki Gunung Manglayang. Dikirim ke perkampungan dengan menggunakan pipa paralon, ditampung di bak, kemudian mengalir ke rumah-rumah melalui selang,” kata Dedi lagi sambil menunjuk ke arah Manglayang, gunung hijau dengan pinus yang lebat, di sebelah utara kampungnya.

Dengan air yang melimpah seperti itu, lalu mengapa sanitasi masih bermasalah? “Setidaknya ada dua faktor penting yang jadi penyebabnya. Pertama, masalah ekonomi. Tidak semua warga mampu membangun sarana Toilet yang layak.

Kedua, tidak ada pengorganisasian yang baik untuk mengatasi masalah tersebut. Ini berkaitan dengan leader, kepemimpinan di tengah masyarakat,” ujar Pembina Odesa Indonesia, Budhiana Kartawijaya.

Budhiana menambahkan, Odesa terlibat dalam upaya mengatasi masalah tersebut dengan membangun sarana Toilet umum. Sejauh ini dalam rentang waktu dua tahun terakhir, sudah terbangun sebanyak 24 Toilet umum di berbagai perkampungan di Kecamatan Cimenyan. Terget idealnya, paling sedikit harus terbangun 70 jamban umum pada tahun 2021.

Biaya pembangunannya berasal dari para dermawan, baik lembaga maupun perorangan. Ahmad Syauqy Ridho, salah seorang relawan Odesa, yakin masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kuat semangatnya untuk berderma membantu saudara mereka yang membutuhkan. Terbukti selama ini penggalangan dana bisa berjalan dengan baik.

Semangat para dermawan itu harus mendapat kanal yang tepat. Membangun jamban umum adalah satunya. Karena persoalan sanitasi masih menjadi masalah besar di Jawa Barat.

Menurut data BPS Jabar tahun 2014 di provinsi ini masih terdapat sekitar 4 juta kepala keluarga yang buang air besar (BAB) sembarangan. “Jika rata-rata setiap rumah terdiri dari 4 jiwa, berarti ada 16 juta warga Jabar yang BAB asal-asalan,” kata Syauqi. (Enton Supriyatna Sind)***

BACA JUGA Kemiskinan Itu Kekal Karena Masalah Air

DONASI PEMBANGUNAN TOILET SEHAT Sumbangan Tepat Sasaran Mengubah Keadaan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*