Anak-Anak Petani Belajar Botani di Masa Pandemi

Anak-anak petani desa itu. Hidup keseharian dengan dunia tanaman dan satwa. Tetapi mengapa lingkungan pertanian kita rusak?

Disebabkan tidak ada ilmu pengetahuan sejak dini tentang seluk-seluk botani. Masyarakat kita agraris, tetapi praktiknya banyak yang barbar, apalagi saat terjadi peralihan dari pertanian ke industri.

Kita bertani tanpa ilmu pengetahuan yang memadai kecuali sekadar membalik tanah dan menjual hasil panen. Ketika pertanian tersudut oleh modernisasi, yang dijual bukan lagi hasil panen, melainkan tanahnya itu sendiri.

Krisis lingkungan melanda seluruh penjuru dunia. Dan Indonesia menjadi bagian dari negara parah karena berada pada posisi 112 dari 178 negara. Jawa Barat sendiri merupakan provinsi yang buruk kualitas lingkungan hidupnya, berada di peringkat 30 dari 33 Provinsi di Indonesia. Sungai-sungai besarnya, seperti Ciliwung, Cisadane, Citandui, Citarum, dari tahun ke tahun menurut data BPS juga berstatus heavy polluted, alias cemar berat. Peran pemerintah dalam urusan ini lemah, tak punya pijakan kerja yang terukur. Serba reaktif dan banyak kerja ke arah seremonial.

Indonesia akan terus terpuruk jika kekuatan sipil tidak mengambil peran langsung.
Mahasiswa-Mahasiswa yang menjadi relawan di Odesa Institute itu mengambil kerja literasi. Mendampingi anak-anak petani di perbukitan yang merupakan salahsatu sumber krisis ekologi. Banjir yang melanda Kota Bandung sebagian berasal dari perbukitan ini (Kabupaten Bandung).

Solusinya, kerja literasi kami hubungkan dengan keseharian mereka. Dengan materi-materi yang praktis anak-anak petani ini kita perkenalkan tentang botani dengan segenap fungsi dan manfaatnya. Goalnya adalah pemahaman tentang pentingnya membangun relasi hidup lintas spesies.

-Yang membuat kita hidup adalah udara. Udara membaik karena fotosintesis. Pohon adalah bagian dari hidup kita. Pohon adalah subjek/aktor kehidupan bumi yang mesti menjadi teman hidup kita.

-Yang membuat kita hidup adalah air. Pohon memainkan peran besar dan air harus dirawat, dibagi, didistribusikan secara tepat sasaran karena setiap bumi di lingkungan lokal kita bukannya tidak ada air, melainkan karena pemanfaatannya tidak tepat sasaran.

-Yang membuat pohon berkembang juga karena hewan/satwa; hewan pemberi manfaat bukan hanya ternak karena pupuknya, melainkan juga hewan-hewan kecil. Yang berada di atas tanah berfungsi dalam hal penyerbukan dan juga menyeimbangkan proses kerja penanggulangan hama. Yang berada di dalam tanah seperti cacing, nematoda, dan jenis hewan predator semuanya berguna untuk keselarasan ekosistem. [Faiz Manshur/Foto Kiki Amirullah)

Kerja Kebudayaan Berbasis Botani

Penentu Keberhasilan Tanaman Berbasis Ekosistem

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*