Ambu Dayu Berburu Kelor

IBU Dayu Permata, usianya 64 tahun. Tapi warga Jln. A. H. Nasution sebelah timur Terminal Cicaheum itu lebih akrab dipanggil Ambu Dayu. Selasa (24/7) Ambu datang ke kantor Odesa Indonesia di Sekebalingbing, Cikadut, Cimenyan, Kab. Bandung, bersama anak lelakinya dan seorang cucu. Bertiga naik sepeda motor.

Lalu dia bercerita, sekitar tiga tahun terakhir rasa sakit pada sendi lutut sering menyerangnya. Tentu sangat mengganggu ibu tiga anak yang lincah itu. Apalagi selama ini dia sudah terbiasa naik turun tangga dan melakukan aktivitas di rumahnya tanpa pembantu.

“Nah tadi siang saya nonton tv. Kebetulan acaranya sedang membahas khasiat daun kelor, untuk menyembuhkan beragam penyakit. Termasuk nyeri sendi. Sayangnya, pembudidayaan dan pengolahannya ternyata di Kanada. Tapi anak saya yakin di Bandung juga ada. Lewat google, sampailah kami ke sini,” ungkap Ambu bersemangat.

Maka sore itu Ambu langsung kepincut satu pohon kelor setinggi 1,5 meter, satu kantong daun kelor petik sendiri, teh kelor dalam kemasan dan satu pot tanaman obat lainnya. Keinginannya untuk pulih memang luar biasa.

Soal nyeri sendi dan daun kelor memang berhubungan. Beragam hasil penelitian menyebutkan, daun kelor tergolong unik karena kemampuannya menyediakan nutrisi untuk terapi-nabati. Badan Pangan Dunia Food Organization Agriculture (FAO) mengatakan, kelor sangat penting dijadikan makanan tradisional karena kandungannya sangat kaya akan mineral, fitokimia, dan antioksidan. Ia memiliki kandungan antimikroba, antikanker, melindungi dari radikal bebas, dan meningkatkan rasio kolesterol HDL dan LDL.

Secara praktis kelor sangat baik untuk pengobatan anti radang dan penghilang rasa sakit. Beberapa penelitian juga menyebut kemampuan kelor sangat baik untuk mengatasi kekurangan gizi, anemia, diet tanpa daging, tuberkolosis, asma, bronkitis, antipenuaan, kegelisahan, rangsangan, kemandulan, kesulitan pendengaran, kolera, disentri, diare, radang usus, ikterus, skorbut (scurvy), rasa panas/terbakar pada saluran kencing, penyakit yang mempengaruhi jantung, hati atau ginjal, hipertensi, rasa haus berlebihan, diabetes, sembelit, mual, alergi pada mata atau masalah mata lainnya, wasir, lemah ingatan, kudis, rematik, kurang darah, sakit kepala, tumor.

Pemburu kelor

Ambu Dayu bukan satu-satunya pemburu kelor. Sejak Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) didirikan pertengahan 2017 lalu, kisah-kisah serupa bermunculan. Di bulan Januari lalu misalnya, pasangan lanjut usia Ricard dan Elisa dari Cihampelas yang tiba-tiba menemui Rusmana di kantor Odesa pada Minggu pagi. Elisa sudah lama diserang stroke. Mereka menemui Rusmana yang memang sehari-harinya berkutat di kebun Taoci.

Keduanya tergirang-girang karena sudah dua tahun mencari daun kelor tetapi tidak pernah dapat. “Saya ingin daun kelor segar dan bisa tanam. Tapi tidak pernah mendapatkan. Yang sering saya minum selama ini ya kapsulnya saja. Di sini ternyata ada, saya sangat senang,” ujar Ricard.

Banyak dari pemburu kelor yang sebelumnya sudah tahu manfaatnya. Bahkan mereka sudah sering mengonsumsi produk kelor olahan seperti serbuk kapsul. Namun sebagian dari mereka lebih suka mengonsumsi daun segar kelor untuk lalapan atau diolah sederhana sebagai sayur. Menurut Rusmana, banyak orang yang telah mengonsumsi jenis kelor olahan tetapi yang paling terasa manfaatnya justru pada kondisi segar, atau maksimal hanya diolah dengan cara pengeringan tanpa sinar matahari dalam wujud teh.

Penelitian Mélanie Broin, Asisten Ilmiah dari Jaringan Moringanews, membuktikan, pada proses pengeringan ke serbuk seringkali mematikan beberapa vitamin penting seperti Vitamin C, Vitamin A, Vitamin B, dan potensi antioksidan.




Melani juga memberikan bukti, daun kelor segar atau kering fresh yang sangat baik untuk menghasilkan protein, vitamin, dan mineral pada makanan rumahtangga. Daun kelor segar mengandung setidaknya dua kali lebih banyak protein dibanding susu, dan setengah dari protein pada telur. Daun kelor lebih kaya akan besi dibanding kacang-kacangan dan daging sapi. Lebih kaya akan kalsium dibanding susu. Setidaknya kandungan vitamin A-nya setara dengan wortel, dan lebih kaya akan vitamin C dibanding jeruk. (Enton Supriyatna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*