Oleh FAIZ MANSHUR. 
Ketua Odesa Indonesia.
IG Faiz Manshur
IG Odesa Indonesia

Pengalaman Menggerakkan Petani Tanam Pepaya

Tanam pepaya dengan menggerakkan petani adalah langkah baik memperbaiki kehidupan. Ini merupakan usaha konkret mengatasi kemiskinan di desa. Yayasan Odesa Indonesia sejak tahun 2016 bersama ribuan petani melakukan perubahan-perubahan dengan cara yang kami ciptakan dari ruang diskursus bersama petani. Kali ini saya ingin berbagi soal gerakan menanam pepaya dengan target menciptakan kesejahteraan pangan sehat bergizi.

Mengapa pepaya perlu digerakkan? Mengapa petani di Kecamatan Cimenyan tidak menanam pepaya?

Kami melihat salahsatu penyebab kemiskinan itu karena tidak bekerjanya akalbudi menciptakan perbaikan yang bisa dilakukan secara relevan dengan kehidupan orang desa. Fakta objektif telah kita pahami sebelumnya. Penyebab kemiskinan berasal dari ragam latar-belakang. Solusinya pun bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Tanam Pepaya
Tanam Pepaya

Karena kemiskinan lekat dengan pola pikir dan kebiasaan, maka yang terpenting dalam gerakan pembaharuan adalah mengubah cara pandang serta menciptakan kebiasaan-kebiasaan perilaku hidup yang baru.  Pepaya menjadi bagian penting dari solusi kemiskinan karena unsur pangan. Bahkan lebih dari itu, menanam pepaya juga bagian penting dari gerakan ekologi.

Pertama, manfaat pepaya sebagai gizi sangat diperlukan oleh manusia. Dan orang-orang miskin di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung ini tak punya tradisi menanam buah. Menanam pepaya, sebagaimana menanam kelor juga bagian penting dari pemenuhan dasar kebutuhan pangan. Pangan bisa apa saja, tetapi pangan sehat bergizi tentu harus diprioritaskan. Buah-buahan apapun sangat baik ditanam guna meraih gizi, tetapi efektivitas saat petani menanam maupun konsumsi juga harus diperhatikan. Menanam pepaya merupakan perkara mudah. Mengonsumsinya juga sangat mudah. Tidak perlu ada pemberdayaan saat tujuan untuk gizi karena pepaya matang dimakan langsung adalah langkah terbaik memasukkan gizi ke dalam tubuh. Adapun daun dan bunganya juga bisa dimanfaatkan secara mudah dengan cara memasak secara tradisional.

Ketika gerakan menanam pepaya ini diarahkan dalam kepentingan ekonomi juga bukan perkara yang sulit. Petani di Kecamatan Cimenyan mayoritas penanam sayuran. Pasar tradisional sayuran tak terpisahkan dari komoditi daun pepaya maupun buah pepaya. Justru dengan kemudahan ekonomi inilah Yayasan Odesa mendorong petani untuk lebih terpacu untuk rutin mengonsumsi pepaya. Sebab dengan rutin mengonsumsi pepaya persoalan kurang gizi (seimbang) terjawab dengan pepaya. Adapun urusan pasca panen bukan lagi persoalan pelik.

Di luar urusan gizi dan ekonomi, para petani di desa-desa itu juga membutuhkan pertanian yang berkelanjutan. Pepaya memiliki fungsi ekologis karena akarnya baik untuk pemasok gizi tanaman lain di sekitarnya. Rontokan daunnya juga menyuplay kompos yang baik. Demikian juga dengan penyerbukan dan fungsi daun sebagai pengusir atau penampung hama tanaman lain tak diragukan lagi.

Tanam Pepaya
Tanam Pepaya

Dengan melihat tiga fungsi pepaya di masyarakat perdesaan ini, Yayasan Odesa Indonesia mendorong ribuan petani menanam pepaya. Sebagian ditanam di pekarangan sebagian lagi di ladang. Para petani di Kecamatan Cimenyan ini selama puluhan tahun hidup sebagai petani tidak mengenal pepaya kecuali jenis pepaya tradisional. Mereka hanya mendengar pepaya California atau Bangkok tetapi tidak pernah mendapatkan bibitnya.

Ketika diberi bibit pun mereka acuh tak acuh. Tetapi kemudian Yayasan Odesa Indonesia menemukan celah agar petani menyambut gerakan ini. Caranya, para petani inti yang berada di bawah pendamping Odesa membibit pepaya lalu menanamnya di ladang. Dimulai dari skala kecil berjumlah 300 pohon di tahun 2019. Tahun selanjutnya para petani mengetahui hasil panen dan merasakan nikmatnya pepaya. Banyak buah pepaya dari Kebun Odesa yang hilang diambil petani. Ini merupakan indikasi baik bahwa para petani menyukai pepaya.

Tanam Pepaya
Tanam Pepaya

Lama kelamaan para petani terpacu untuk menanam karena merasakan nikmatnya pepaya dimakan di kebun tengah hari. Saat panas terik mereka yang menanam pepaya bisa mendapatkan berkah dari proses menanam. Itulah mengapa pada musim hujan akhir tahun 2021 ini ribuan petani menunggu bibit dari Yayasan Odesa. Mereka antusias menawarkan diri sebagai penanam pepaya. Yang dulu mereka tolak sekarang mereka terima dengan merengek-rengek untuk mendapatkan bibit pepaya.

Fungsi Organisasi Odesa sebagai pengusung gagasan punya tanggungjawab untuk mendaratkan ide besar yang diterima oleh masyarakat. Mensosialisasikan tanaman pangan yang relevan dengan problem hidup orang miskin harus dilakukan secara tepat. Tepat dalam artian memberi manfaat jangka pendek, jangka menengah dan jangka Panjang.

Dari catatan pemikiran dasar dan proses kerja semacam itu, termasuk kategori sulit atau mudah?

Bagi pengurus Odesa, kerja pemberdayaan tidak lagi mempertimbangkan kesulitan. Jika sudah menjadi pakem “kebenaran” harus ditanam, maka itu menjadi kewajiban untuk ditanam dalam ruang pikiran para petani.  Pada awalnya para petani menolak gagasan itu perkara biasa, kita tidak kaget. Mereka enggan melakukan karena hasrat-hasratnya belum senyawa dengan pikiran kita. Penyatuan hasrat bisa dijembatani dengan satu kepentingan yakni dorongan konstan (sebagai watak dasar manusia), yakni “mengatasi rasa lapar”.

Saya percaya bahwa perbedaan hasrat bisa disatukan dengan cara “berbagi makanan”. Kita bisa belajar dari kawanan monyet yang sangat solid dalam menciptakan hubungan komunal karena mereka disatukan oleh solidaritas mencari dan berbagi makan secara baik. Dengan kata lain, makanan yang terbagi secara baik bisa menjadi pemicu gerakan massal melibatkan banyak orang manakala kita makan bersama, bukan mendiskusikan makanan.

Gerakan Tanam Pepaya Cisanggarung

Pertemuan-pertemuan rutin dengan komunikasi yang tepat melibatkan banyak warga harus dilakukan terus-menerus agar apa yang kita yakini juga diyakini para petani. Seperti kelor yang dulu ditolak sekarang menggurita sebagai tanaman pangan di Kecamatan Cimenyan adalah buah dari proses berbasis kerja proses komunikasi dan tindakan nyata.

Menggerakkan banyak orang terlibat dalam proses gerakan baru membutuhkan komunikasi. Apa saja yang perlu dikomunikasikan kepada warga?

1) Menjelaskan bahwa lahan satu meter harus ditanami pohon. Perubahan besar mesti dilakukan dari yang bisa dilakukan hari ini di lahan yang kecil sekalipun.

2) Memberikan contoh konkret dengan kita (pengurus Odesa melakukan dan menunjukkan proses sekaligus hasilnya).

3) Menjelaskan bahwa kita perlu makan buah karena merupakan kebutuhan dasar hidup.

4) Menjelaskan sekaligus memberi contoh bahwa menanam (melakukan tindakan baru) bukan sesuatu yang sulit.

5) Memberikan bantuan bibit sebagai langkah konkret melakukan tindakan baru. Tak akan ada perubahan apalagi sifatnya mobilisasi jika tidak ada contoh nyata yang dilakukan secara bersama.

6) Mengapresiasi mereka sebagai orang baik jika mau merawat tanaman hingga mau memanfaatkan hasilnya untuk memperbaiki keadaan diri. Petani adalah produsen. Daya produksi mereka bisa bisa berkembang baik manakala dimaksimalkan secara tepat sesuai kapasitas mereka, yakni kemampuan bekerja di level budidaya.

Memproduksi buah-buahan bukan saja memperbaiki gizi orang miskin, melainkan juga menyehatkan tanah yang rusak sekaligus memberi dampak baik bagi orang lain karena nanti kelimpahan produksinya akan menjadi jalinan welas-asih melalui perdagangan-karena konsumen bisa mendapatkan sumber pangan dari petani. [Odesa.id]

Siaran Gerakan Tanam Pepaya Odesa

Mengapa Petani Enggan Menanam Pepaya?

Tinggalkan Balasan