Problem Petani Kopi, Kurang Modal dan Harga Jual Rendah

Tanaman Kopi di Kawasan Utara Kabupaten Bandung

suherman5
Petani lambat maju karena hambatan seringkali terbentur hambatan. Hambatan modal usaha menjadi salahsatu problem yang belum terurai sampai saat ini.  Itulah yang jadi pemikiran mendasar Suherman (60 tahun), Penasehat Kelompok Tani Hutan Giri Senang Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung.



“Modal itu bagian dari kesempatan yang harus diwujudkan. Sebab kalau kesempatan menambah jumlah tanaman, memperluas lahan, merawat tanaman itu tidak dilakukan, pasti akan sulit berkembang. Petani kopi di sini secara keilmuan sudah bagus. Tapi kalau modal untuk pupuk saja tidak ada, bagaimana petani mau gerak maju?, ” kata Mantan Kades Desa Girimekar dua periode yang dikenal berjiwa sosial ini kepada Odesa.id Selasa (11/10/2016).

Suherman menceritakan, terdapat 200 anggota petani dari Kelompok Tani Hutan Giri Senang yang kini sudah mengalami kemajuan dalam urusan perkopian. Berkat usaha keras, kesabaran dan ketekunan budidaya dan mengolah kopi secara baik, petani di kawasan Gunung Palasari itu banyak menorehkan kemajuan. Tapi ketika petani butuh modal pupuk saja misalnya, mengalami kesulitan uang.

“Seringkali pemerintah memberikan solusi dengan sistem kredit formal. Dari dua sisi itu bermasalah. Pertama diminta agunan. Itu sangat menyulitkan. Kalau KTP, KK, surat nikah, termasuk surat yasin punya. Tapi kalau diminta agunan sertifikat dll itu tidak akan nyambung dengan petani,” katanya bergurau.

Hambatan kedua menurut Suherman adalah soal cicilan model bulanan. Menurutnya itu juga tidak klop dengan sistem keuangan kaum tani yang arus keuangannya berbeda dengan industri perkotaan.

“Uang petani itu ya sesuai panen. Kalau panen 7 bulan diminta perbulan setor ya enggak nyambung. Saran saya pemerintah harus mengerti kebutuhan kaum tani. Ayolah pejabat, turun langsung ke petani supaya ngerti masalahnya,” katanya.

Rendah harga
Problem lain dari petani kopi menurut Suherman adalah soal harga jual yang rendah. Ia katakan, saat ini masalah perdagangan masih jadi hambatan karena harga kopi di pasaran dikunci pada level rendah. Sementara ia tahu bahwa harga jual kopi ekspor sangat tinggi. Padahal menurut Herman, kopi di kawasannya sudah lebih dari emas karena banyaknya pesanan tetapi stok seringkali kurang memenuhi kebutuhan konsumen. Sayangnya, sekalipun begitu, daya tawar petani tetap lemah.

“Ini persoalan yang harus kita urai bersama. Petani sampai tahap mampu mengolah hasil olahan, bahkan mendapat penghargaan, bertemu dengan pejabat tinggi sampai presiden tapi fakta di lapangan tidak membuat petani berpenghasilan lebih.  Itulah mengapa saat mau butuh modal satu sampai dua juta saja petani kopi kesulitan,” keluhnya.



Menghadapi persoalan itu, saat ini ia ingin lebih jauh aktif berjejaring dengan kemitraan untuk mengurai mata-rantai kusut permodalan dan perdagangan kopi.

“Semoga dalam waktu dekat ini ada tindakan yang bisa merumuskan model baru tentang kredit dan juga mengatasi persoalan harga rendah hasil panen kopi,” terangnya.[]-Yuni

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*