Oleh ENTON SUPRIYATNA SIND. 
Pendamping Petani Odesa Indonesia
IG Enton Supriyatna
 IG Odesa Indonesia

Pengorganisasian petani untuk tujuan perubahan pola tanam sangat dibutuhkan. Butuh komunikasi intensif dan saling pengertian.

Mobil Blazer yang kami kendarai terpaksa berhenti, beberapa puluh meter dari sebuah belokan di tepi hutan Arcamanik, Merakdampit, Cimenyan, Kab. Bandung, Minggu (12/12/2021) sore kemarin. Kabut tebal seusai hujan, membatasi jarak pandang ideal. Hanya sekitar empat meter ke depan masih tampak terlihat. Selebihnya gelap. Kebun-kebun sayur yang hijau sudah tidak kelihatan.

Berbahaya mengemudi dalam kondisi seperti itu. Apalagi jalanan sempit dan kiri kanan banyak jurang. Lebih baik menikmati kemewahan ini, berlama-lama berada dalam balutana kabut. Ketika masuk ke kawasan hutan pinus di Bandung utara itu, sensasinya lebih lebih “greng” lagi. Serasa menjadi bagian dari film horor.

Dari ketebalan kabut ada bayangan putih menuju tempat kami berdiri. Semakin mendekat. Ternyata seorang lelaki berkaos putih, bercelana dan topi warna gelap. “Dari mana, Pak?” tanya saya mendahului. “Biasa, pulang dari kebun,” jawabnya. Kantong platisk hitam menggelantung di punggungnya.

Nama lelaki tersebut Hamdan (60), penduduk RW 09 Cikawari, Desa Mekarmanik, Cimenyan. Setiap hari dia masuk keluar hutan pinus untuk mencapai lahan kebunnya. Sekitar pukul 06.00 dia sudah menyusuri jalan setapak, menyisir pinggir dua perbukitan. Kurang dari setengah jam Hamdan sudah sampai di tujuan.

“Saya menanam kentang di lahan yang tidak luas. Hanya beberapa puluh tumbak. Itu juga bukan lahan milik sendiri. Saya menyewanya Rp 3.000 per tumbak. Lumayan buat sehari-hari mah,” ujar Hamdan. Maka rute hariannya, rumah-hutan-kebun. Pulang sekitar pukul 16.00. Sehabis magrib langsung beristirahat, lelap.

Sudah dua tahun terakhir ini Hamdan menggeluti dunia pertanian. Sebelumnya bekerja serabutan. Apa saja dilakukannya, yang penting bisa makan. Ketika rintik hujan mulai turun, Hamdan permisi pulang dan bergegas ke arah selatan menuju kampungnya. Sebelum benar-benar hilang dalam kabut, saya berteriak, “Usia Pak Hamdan berapa tahun?” “Ya, 60 sajalah…” jawabnya sambil melambaikan tangan.

Pohon jeruk

Berbeda dengan Hamdan, Iyan Wiyadi (43) mungkin lebih beruntung. Warga Merakdampit, Desa Cimenyan, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung ini, punya ladang pertanian sendiri. Luasnya sekitar 500 tumbak (7.000 m2) yang digarap bersama saudara-saudaranya. Saat kami mengunjunginya kemarin, dia baru pulang dari kebun sayur. Seduhan kopi dan kentang rebus, menemani obrolan sambil menunggu hujan reda.

Ayah beranak dua ini, sudah beberapa kali terlibat dalam kegiatan penghijauan. Iyan menjadi salah seorang penggerak para petani. Kami berbincang tentang kemungkinan menyalurkan bibit pohon jeruk kepada Iyan dan sejumlah petani lainnya. Syaratnya, pohon-pohon tersebut ditanam di lahan tani mereka, di antara sayuran, dan benar-benar dipelihara dengan baik.

Tanaman buah-buahan, bermanfaat untuk lingkungan sebagai penguat tanah, juga hasilnya bisa dinikmati penanamnya. Iyan setuju dan akan mengajak sejawatnya untuk berkegiatan serupa. Selama ini, petani bukan tidak mau menanam buah-buahan. Namun tidak punya anggaran, selain untuk membeli bibit sayuran dan pupuknya.

“Saya akan ajak teman-teman untuk ikut serta,” katanya sambil mengupas kulit kentang rebus.

Dengan segala keterbatasan, relawan Odesa Indonesia mengajak para petani untuk ikut terlibat dalam penghijauan di kawasan Bandung utara. Pembagian bibit buah-buahan secara gratis adalah salah satu cara yang ditempuh. Beberapa jenis pohon buah hasil sumbangan dermawan yang disalurkan Odesa Indonesia selama ini antara lain, sirsak, nangka, jeruk, durian, jambu, sukun, mangga, pepaya, dan juga tanaman herbal kelor. Tak ketinggalan tanaman pangan penghasil biji seperti jengkol dan pete. Meskipun skalanya tidak besar, dan petani yang terlibat masih jauh dari ideal, namun pola seperti ini jauh lebih baik dibandingkan berdiam diri.

Di beberapa kampung, para relawan menemui satu dua orang petani yang bisa menjadi penggerak. Berbincang santai di rumah mereka. “Kami berharap di setiap kampung ada aktor perubahan. Diharapkan mereka bisa menularkan semangatnya kepada yang lain,” ujar Ujang Rusmana, petani Cisangarung, yang juga relawan Odesa Indonesia. []

Petani Bisa Menjadi Agen Perubahan Ekologi

Kegiatan Aksi Tanam Odesa di Merak Dampit Aksi Tanam Odesa di Merak Dampit Cimenyan

Tinggalkan Balasan