Parabola Desa: Indikator yang Tidak Sama Artinya

parabola-cisanggarung2CISANGGARUNG. Setiap melintas ke perkampungan di kawasan Cimenyan, selalu melihat dusun di lembah. Artinya letaknya di bawah jalan. Di atap rumah-rumah itu terpasang antena parabola, yang bagi orang kota merupakan barang mewah.

Tapi,indikator itu tidak selalu sama. Dusun-dusun itu terletak di lembah, sehingga menjadi kawasan blankspot. Tidak satupun siaran televisi nasional yang tertangkap kalau menggunakan antena biasa. Siaran radio bisa terdengar terbatas. Tapi radio sudah tidak menjadi barang hiburan lagi bagi warga dusun-dusun lembah ini.




Turun ke dusun lembah itu, sungguh padat. Jarak antar rumah sangat sempit, dan rumah-rumah berdempetan dengan kandang ternak. Tentu manusia butuh hiburan. Hiburan yang nyata ada di bawah, yaitu di Kota Bandung. Tapi jangankan ke Bandung, menengok dusun lain pun perlu perjuangan. Kontur jalan yang berbukit dan berjaring-jaring, menjadi persoalan sendiri. Mereka harus naik ojek ke mana pun pergi.

Karena itu, parabola adalah satu-satunya pilihan hiburan yang menemani kesunyian dusun terkurung. Mereka memaksakan diri memasang parabola dengan harga Rp 1-2 juta rupiah.
Banyak stasiun TV dunia yang tertangkap. Tapi jarang mereka tonton karena tidak paham bahasanya. Dan yang tertangkap bukan tivi-tivi seperti CNN dan lain-lain itu (seperti di tivi-tivi kabel di kota). Ada siaran tivi Afrika segala.

“Kalau tivi Indonesia paling tivi-tivi seperti ANTV, RCTI, Indosiar dan lain-lain. Malah tivi Bandung mah tidak tertangkap,” kata seorang penduduk kampung Cisanggarung. Dangdut dan sinetron adalah siaran favorit. Berita, apalagi berita politik, tak dapat tempat.




parabola-cisanggarungJadi jangan menuding orang dusun ini tidak mengerti prioritas hidup dengan membeli “barang mewah” parabola. Karena tivi kabel dan parabola bagi masyarakat kota adalah barang bukan prioritas, dan mungkin barang mewah. Tapi, bagi orang dusun, parabola adalah kawan pembunuh sepi.

Tidak selalu indikator itu menunjukkan sesuatu yang sama.-Budhiana Kartawijaya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*