Mengapa Manusia Suka Pohon Namun Tak Suka Menanam?

Faiz Manshur (Ketua Odesa Indonesia) di kebun kopi
               Oleh Faiz Manshur                    (Ketua Odesa Indonesia)

Mengapa manusia menyukai pohon tetapi tak suka menanam?

Rasa suka itu ada karena naluri manusia membutuhkan. Kebutuhannya pun kuat karena dilandasi oleh dua unsur, biologis dan psikologis.

Manusia hidup bukan hanya berurusan dengan cara survive yang pragmatis, melainkan -setelah survival-nya terpenuhi- ia akan selalu membutuhkan relasi dengan unsur eksternal lain. Jangankan terhadap pohon yang secara material memberi pemenuhan baik dalam oksigen maupun pangan. Terhadap relasi eksternal yang sifatnya non-material pun manusia membutuhkannya, misalnya dengan relasi eksternal “dunia gaib”. Itulah mengapa banyak orang tertarik dengan dunia hantu. Dan urusan hantu belum seru kalau tidak dikaitkan dengan profesinya sebagai penghuni pohon.

Mengapa Manusia Suka Pohon Namun Tak Suka Menanam

Secara umum, kesukaan manusia terhadap pohon adalah urusan ketenangan dan kenyamanan. Kehidupan di gurun atau perkotaan minim pohon jelas mengurangi kenyamanan hidup. Pada masyarakat kurang pohon, dipastikan kehidupannya cenderung lebih tertekan, individualis, pragmatis, kurang empati, dan bahkan menurunkan kebahagiaan.

Tingkat stres mudah meningkat karena kurang pohon mudah menyebabkan kantuk dan lelah. Kekurangan pohon dalam keseharian menyebabkan koneksi dengan alam terputus sehingga pikirannya menginginkan cepat-cepat berlibur. Ini bisa mengangu produktivitas karena setiap hari bekerja merasa tersiksa dan hari idamannya bukan menikmati pekerjaan tetapi menginginkan lepas pekerjaan dan ingin liburan menghambur ke kebun, sawah, hutan dan lokasi alamiah lainnya.

Dari sisi biologis, kesadaran purba setiap spesies cenderung terancam dari sisi pangan karena sumber hidup dasar manusia sangat bergantung pada tanaman (termasuk pada satwa). Satwa adalah sumber penting kehidupan manusia untuk protein termasuk kawan keseharian, tetapi ia harus menyertakan eksistensi pohon. Tak ada kenikmatan yang sempurna juga misalnya manusia merasa puas dengan pengunaan teknologi tetapi di sekelilingnya minim pepohonan. Pohon adalah unsur mendasar sekaligus unsur penyempurna interaksi manusia dengan pihak eksternal.

Baca juga: Menanam Pohon Buah Sebagai Penanganan Kemiskinan

Stephen Kaplan dan Rachel Kaplan, ilmuwan psikologi School of Natural Resourses Univeristy Of Michigan pernah melalukan penelitian dan memberikan jawaban mengapa pohon menjadi sangat penting bagi keseharian manusia karena memiliki daya tarik halus bagi organ tubuh. Setiap waktu, manusia membutuhkan interaksi visual dengan pohon karena dari peran pohon sangat membantu otak beristirahat dari kerja kognitif yang melelahkan.

Dekatnya manusia dengan pohon akan mengurangi stres dan meningkatkan konsentrasi otak. Penelitian di Jepang yang kemudian hasilnya mempengaruhi pemerintah Jepang menggerakkan menanam pohon adalah dari usaha menciptakan kebahagiaan bagi warga adalah karena mereka percaya pada efek medis dari kegiatan Shinrin Yoku atau mandi hutan yang bisa menurunkan kortisol (hormon stres), menstabilkan detak jantung, dan tekanan darah.

Pohon Buah Lokal Untuk Petani Miskin

Urusan pohon menjadi urusan naluriah karena berkait dengan kebutuhan (primer), bukan sekadar keinginan (sekunder). Masalahnya, mengapa manusia tidak suka menanam pohon dan cenderung menikmati pohon yang ada? Bahkan, seseorang bisa mengecam orang yang menebang pohon karena rasa sukanya. Tetapi ia sendiri tidak melakukan kontribusi guna memperbanyak pepohonan. Biasanya orang bisa keras mengecam penebangan atau pembalakan manakala terjadi bencana. Tetapi saat ada kesempatan menanam, misalnya pada musim penghujan, manusia tetap tidak bergerak melakukan tindakan menanam.

Ada apa dengan pikiran manusia? Mengapa kita butuh pohon untuk kenyamanan, perlindungan dan makanan tetapi malas menanam? Mengapa kita menjadi orang yang hobi makan tapi tak pernah mau menanam?

Pertanyaan mengapa kita suka pohon tetapi tidak mau menanam adalah urusan mendasar dalam otak manusia. Beberapa hal yang mudah kita lihat dari kecenderungan “ketidakminatan” manusia dalam urusan menanam antara lain.

Otak manusia cenderung memilih enak daripada tidak enak. Menikmati udara dan makanan dari pohon merupakan kenikmatan pragmatis. Adapun urusan menanam adalah urusan idealis yang membutuhkan kesadaran lebih lanjut. Manusia juga cenderung suka terhadap pemenuhan hasrat yang sifatnya privat daripada publik. Manakala hasrat untuk mendapat oksigen atau makanan telah terpenuhi tanpa harus menanam, manusia akan lepas tanggungjawab pada urusan yang lebih publik.

Lain dari itu, pada dasarnya, otak manusia lebih mewarisi nalar kepurbaan sebagai pemburu-pengumpul yang gemar survive melalui jalan pragmatis dengan perilaku ekstratif (konsumen) dan bukan mewarisi nalar agrikultur sebagai petani (produsen). Pertanian dianggap sebagai bidang ekonomi kemasyarakatan yang idealis dan memberatkan untuk memenuhi hasrat yang cepat. Itulah mengapa banyak orang tidak tertarik pada pertanian manakala ada peluang pekerjaan di luar non-pertanian.

Baca juga: Mengapa Semua Manusia Menyukai Tanaman?

Adapun orang-orang yang bertahan dalam urusan pertanian biasanya karena faktor ketidakmampuan mengambil pekerjaan di sektor non-pertanian. Sekalipun sebenarnya pertanian sangat menguntungkan dari sisi ekonomi, biasanya hanya akan berhasil manakala dilakukan dengan kemampuan akalbudi yang visioner, termasuk membutuhkan modal besar berupa tanah luas, teknologi canggih dan kemampuan leadership pelakunya dalam mengorganisasi serangkaian praktik pertanian.

Pada dimensi ekologis, minimnya manusia berhasrat menanam karena manusia terpisah dari kecenderungan mengurus tanah (pertanian). Pada mereka yang masih dekat dengan dunia pertanian terbukti masih bisa melakukan kegiatan menanam. Bahwa di kalangan petani punya kecenderungan merusak ekologi karena hanya memilih jenis tanaman tertentu dengan praktik monokultur misalnya, itu urusan lain.

Ketersediaan bibit pepohohan menjadi hal yang penting. Pengalaman kami berkegiatan di Yayasan Odesa Indonesia misalnya menjelaskan, para petani yang biasanya hanya menanam sayuran kini menjadi hobi menanam pohon setelah kami menggelontorkan bibit-bibit tanaman pangan besar seperti penghasil buah-buahan dan biji-bijian. Sementara ada bukti lain, orang-orang kota yang melek ilmu pengetahuan sekaligus sadar ekologi ternyata hanya memiliki kemampuan bicara tanpa tindakan nyata.

Mengapa Semua Manusia Menyukai Tanaman

Hanya sedikit dari orang kota bahkan yang berpendidikan mau berbuat baik menyebarkan pohon untuk ditanam oleh petani. Problem ini membutuhkan mediator berupa organisasi yang serius sekaligus terus mengampanyekan gerakan berbagi bibit pohon supaya orang kota yang tidak mampu menanam pohon lebih banyak menyumbang bibit pohon kepada para petani.

Di luar itu, manusia lebih suka mengabaikan atau menghindari problem daripada mengatasi problem. Makan enak atau menghirup udara segar adalah kebutuhan. Sementara menyemai, membibit, merawat pohon dianggap problem. Pada otak pemerintah yang punya tanggungjawab publik pun kecenderungan menghindari problem lebih dominan. Urusan pemetaan lahan kritis atau mengambil tindakan hukum pada perusak lingkungan adalah perkara yang sering dihindari. Bahkan untuk kegiatan yang tidak beresiko seperti menyediakan bibit pohon secara massal kepada para petani pun malas dilakukan.

Problem otak menjadi persoalan mendasar tentunya. Ada banyak negara yang telah berhasil melakukan perbaikan atas problem otak di atas. Tetapi pemerintah kita sepertinya telah mengalami kerusakan otak yang akut sehingga tidak sanggup berpikir apalagi merencanakan strategi perbaikan pangan dan ekologi.[]

Admin: Alma Maulida

Keranjang Belanja