Kopi untuk Lahan Kritis Bandung Utara

Oleh: Budhiana Kartawijaya. Pegiat Odesa-Indonesia.Wartawan Senior.

TULISAN Irma Tambunan di Kompas ( 28/11/2016) Kompas pagi ini bercerita tentang bagaimana tanaman kopi bisa menghijaukan kembali lahan kritis, sekaligus memberdayakan petani di Kabupaten Kerinci Jambi. Permintaan dunia akan kopi tak henti-hentinya. Jadi kopi bukan masalah marketing, tapi masalah produksi.


Lalu, mari kita lihat lahan kritis di Bandung utara. Bertahun-tahun petani di sini menanam sayur. Tanaman sayur menghendaki lahan terbuka sehingga petani harus menebang pohon. Ketika panen, harga sayur fluktuatif, dan umumnya tidak seimbang dengan biaya dan tenaga yang sudah dikeluarkan. Namun sayur adalah tanaman jangka pendek, sehingga petani bisa mendapatkan income jangka pendek. Tradisi menanam sayur sudah puluhan tahun.

Pertambahan penduduk di kawasan ini menyebabkan perlunya pembukaan hutan untuk tanam sayur. Alhasil, gunung gundul, lahan kritis, dan banjir menerjang Kota Bandung.Kehidupan petani pun tak pernah berubah menjadi baik dengan tanam sayur.

Sudah saatnya kita menyelamatkan hidup petani, salah satunya dengan mengalihkan budi daya sayur ke kopi. Tanaman kopi perlu pepohonan pelindung, sehingga tidak terlalu terpapar sinar matahari.Menanam kopi, juga perlu menanam pohon pelindung.

Tapi alih tanam sayur ke kopi bukan persoalan sederhana. Berikut beberapa hal yang kami temukan di lapangan.


  1. Bibit kopi: petani harus mendapatkan bibit berkualitas.
  2. Kopi baru menghasilkan sekitar 2,5 – 3 tahun ke depan. Lantas, darimana biaya hidup bulanan petani?

  3. Karena miskin itu, petani tidak mampu menyekolahkan anak. Di kawasan Cimenyan tidak ada SLTA, sehingga selepas SMP, anak-anak menganggur. Sebab SLTA yang ada, letaknya di di bawah, yaitu di Ujungberung. Untuk ongkos naik turun saja (ojek), plus bekal, mungkin perlu ongkos Rp 25.000- Rp 50.000 per anak. Kalau punya lebih dari satu anak yang sekolah di bawah, bisa kita bayangkan berapa pengeluaran mereka untuk pendidikan?

  4. Akibat tak mampu menyekolahkan, biasanya anak perempuan segera dinikahkan. Pernikahan dini semakin memperkeras struktur kemiskinan.

  5. Karena miskin, mereka tidak dapat mengakses kesehatan. Mereka punya Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tapi, kalau sakit, siapa yang bisa membawa mereka ke kota? Kendaraan tidak ada. Kalaupun ada, mereka tak mampu bayar sewanya. Lagi pula jalan sangat buruk. Kartu KIS menjadi percuma.

Solusi yang bisa dilakukan:
1. Beri petani bibit gratis namun berkualitas.
2. Negara menanggung biaya hidup selama 3 tahun para petani.
3. Membuat SMK Pertanian di wilayah itu, atau memberikan bea siswa kepada anak-anak petani untuk sekolah di luar kampung mereka atau di luar kota. Bisa juga kirim mereka ke sekolah yang berasrama seperti: pesantren, sekolah keperawatan, dll.
4. Kalau anak-anak remaja ini terserap di tingkat SLTA, angka pernikahan dini bisa berkurang. Anak-anak ini bisa membuka lembaran baru, tidak terperangkap dalam kemiskinan turun menurun.

  1. Dekatkan mereka dengan fasilitas kesehatan. Kalau perlu libatkan yayasan-yayasan sosial yang punya ambulans gratis. Perlu ada dokter-dokter militan yang mau “kukurusukan” (blusukan) tiap hari menyapa penduduk miskin di lembah-lembah, dan memeriksa kesehatan mereka.

Kalau kebutuhan dasar mereka terpenuhi, mereka akan fokus menanam kopi. Kopi ditanam, maka pohon pendamping pun ditanam. Lahan kritis pun terhijaukan. Banjir pun akan berkurang. Membuat program penghijauan tanpa memperhatikan hak-hak dasar petani itu, akan percuma.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*