Kenangan Si Salim, Nama Jin Usil Itu…(3)

Ilustrasi. Penulis Enton Supriyatna

NENEK saya, dari pihak ibu, punya kakak bernama Haji Munir. Kami menyebutnya Aki Haji Munir. Kalau saya melihat wajah Buya HAMKA, maka berkelebatan juga wajah Aki Haji Munir. Mungkin wajah keduanya tidak persis benar. Tetapi cara senyumnya, serban yang melingkar di leher dan menjuntai ke dada, serta selalu mengenakan tutup kepala, telah mengikat keduanya dalam ingatan saya.

Namun ada yang lebih kuat lagi membekas dalam memori jika berbicara tentang Aki Haji Munir, yaitu tentang jin yang bernama Salim. Keberadaan makhluk tidak kasat mata ini sudah biasa jadi pembicaraan di tengah keluarga besar kami. “Ah itu mah mungkin kelakuan Si Salim saja yang lagi usil,” begitu seloroh muncul jika ada sesuatu yang aneh terjadi, di luar kelaziman. Percaya boleh, tidak pun enggak masalah.

Salim yang konon berasal dari Baghdad, Irak, itu sudah lama menjadi khadam (pembantu, pendamping)-nya Aki Haji Munir. Saya tidak tidak tahu, untuk apa Aki berteman dengan jin yang konon gemar berbuat iseng tersebut. Terkadang dia muncul dalam bentuk makhluk hitam menakutkan, duduk santai di teras rumah Aki di malam hari. Atau seenaknya memindah-mindahkan barang yang membuat pusing orang.

Suatu kali, saat masih duduk di bangku SD, saya diajak Bapa bersilaturahmi ke rumah Aki Haji Munir di Karawang. Sebetulnya hati saya senang-senang cemas. Senang bisa jalan-jalan ke luar kota, tapi cemas jadi korban keisengan Si Salim. Sepanjang malam saya tidak bisa memejamkan mata. Rasanya saya jadi “paranoid”. Setiap ada bunyi apa saja, segera membenamkan kepala ke samping tubuh Bapa yang sudah terlelap. Alhamdulillah, hingga sura azan subuh tidak terjadi apa-apa.

Mamah pernah bercerita, Si Salim meskipun suka iseng tapi ada manfaatnya juga. Jika Aki akan pulang ke rumah, terkadang ada pemberitahuan atau tanda-tanda. Misalnya, ada bunyi ketukan di pintu atau bunyi orang berjalan di teras rumah. Padahal tidak ada seorang pun yang tampak. Istrinya sudah maklum, itu berarti Aki sebentar lagi datang. Jadi, Si Salim ini tak ubahnya bagai petugas bagian protokoler.

Kami pernah mengalami hal serupa itu. Seperti biasa, setiap sehabis subuh Bapa mengajari kami mengaji. Ketika sedang asyik menghafalkan surat-surat pendek, tiba-tiba kain gorden di ruang tamu bergeser sendiri beberapa kali. Kami melihatnya dengan jelas. Dalam hitungan detik ingatan langsung melayang kepada Si Salim, lalu kami berloncatan ke arah Bapa yang tampak tenang dan senyum-senyum saja. Kegiatan ngaji subuh itu seketika berhenti.

Dan benar saja, tidak lama kemudian Aki Haji Munir datang. Mengucapkan salam dengan senyum khas yang menurut saya mirip Buya HAMKA itu. Kami menyalami dan mencium tangannya, dengan degup jantung yang masih belum normal. Saya kira Aki tahu apa yang terjadi, tapi beliau tidak ingin mengatakannya pada anak-anak seperti kami.

Uwak Endang, kakak Bapa, pernah menjadi korban keisengan Si Salim. Uwak kami yang satu ini memang dikenal memiliki kemampuan dalam hal-hal “dunia aheng”. Suatu kali saya dan kakak tidur di kamar Uwak Endang. Pada tengah malam, tiba Si Salim datang dan masuk kamar. Jin nakal itu berusaha mengganggu, ingin menggelitiki kami yang tengah terlelap. Uwak dengan sigap melindungi kami dengan cara menangkisnya. “Uwak tadi malam ‘pakupis’, capek. Sudah diusir, datang lagi. Berusaha ganggu kalian lagi,” ujar Mamah. Uwak memang tidak bicara langsung pada kami ihwal keusilan Si Salim itu.

Pada suatu waktu, saya menemukan selembar kertas bertuliskan huruf Arab. Saya tanyakan artinya kepada Bapa. “Itu amalan yang kalau dibacakan terus menerus akan menjadikan kita punya hubungan khusus dengan jin. Aki Haji Munir memang pernah meminta agar Si Salim ikut Bapa saja. Tapi Bapa tidak mau. Apalagi Mamah juga tidak setuju. Lembaran tadi itu yang tersisa, yang lainnya sudah dibakar Mamah. Dia khawatir Bapa benar-benar menerima tawaran Aki,” tuturnya.

Kata Bapa, gengsi jin akan terangkat di tengah warganya kalau dia menjadi khadam manusia. Karena itu mereka sangat ingin terus-menerus berinteraksi dengan manusia. Konon, ketika tuannya meninggal dunia dia akan mencari tuan yang baru dan menjadi khadamnya. Ketika Aki Haji Munir meninggal dunia, saya tidak tahu kepada siapa Si Salim “mengabdi”. Memang sekarang sudah jarang terdengar nama itu disebut. Namun pada suatu masa, kami begitu akrab dengan nama Si Salim. –Enton Supriyatna Sind.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan