Kemanusiaan, Kemiskinan dan Kiprah Musisi

Oleh BUDHIANA KARTAWIJAYA
Ketua Pembina Odesa Indonesia 
IG Budhiana Kartawijaya
IG Odesa Indonesia

Musisi yang baik adalah mereka yang sadar tanggungjawab kemanusiaan. Ikut serta berfilantropi dalam mengatasi kemiskinan.

Bulan Ramadan ini musisi Ferry Curtis dan Nissan Fortz menyatu dengan kegiatan Odesa Indonesia.

Ferry Curtis sudah puluhan tahun menjadi musisi bertemakan cinta universal dan literasi. Sedangkan Nisan adalah salah satu gitaris terbaik di Indonesia.

Mereka berdua menapaki jalan baru bersama Odesa Indonesia karena menyatu dengan tujuan memproduksi kebaikan melalui gerakan sosial.

Di tengah reka-reka kreativitas seni dan gerakan sosial itu, mereka juga bertemu dengan penyair Mathori A Elwa dan bersama-sama memproses kerja kesenian untuk menghasilkan karya.

Semangat kerjanya tentu saja berbasis filantropi, bukan tujuan ekonomi atau karir individual.

Perlu diingat, filantropi bukanlah sekadar aksi derma menyalurkan bantuan material, melainkan -sesuai semangat dasarnya yaitu membawa semangat philein=cinta dan antrhopos=manusia.

Karena alasan inilah musik juga bisa bekerja dengan wujud memproduksi lagu cinta-kasih yang tujuannya membangun dan meningkatkan kesadaran berempati bagi rakyat bawah.

Selama lima tahun Odesa Indonesia “bergaul” dengan masyarakat marjinal di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, kami melihat adanya kemiskinan lebih dari sekadar urusan ekonomi, melainkan adanya  “kemiskinan budaya”.

“Kemiskinan budaya” punya persoalan yang lebih kompleks dari kemiskinan ekonomi atau kemiskinan struktural sehingga strategi pemberdayaannya tidak akan cukup jika hanya memainkan strategi ekomomi atau pembangunan infrastruktur semata.

“Kemiskinan budaya,” demikian kata almarhum Jalaluddin Rakhmat harus dijawab dengan strategi yang lebih mendasar dengan menyertakan pembangunan manusia untuk tujuan menghasilkan pola hidup yang lebih berbudaya (strategi kebudayaan).

Odesa berkesimpulan, kemiskinan terjadi akibat manusia tecerabut dari kesimbangan ekologis. Kerusakan tanah, hutan dan gunung adalah awal mewabahnya malapetaka kemiskinan.

Eksploitasi tanah secara non-regenerative menyebabkan daya dukung tanah semakin berkurang. Akhirnya masyarakat terjebak dalam spiral kemiskinan, tanpa bisa dicegah negara.

Membutuhkan Aksi Kemanusiaan
Membutuhkan Aksi Kemanusiaan

Kemiskinan material pada akhirnya membawa “kemiskinan budaya”.

Lalu muncul kebiasaan mudah menyerah dan kebiasaan “tangan di bawah menadah” diam-diam menggejala di masyarakat dimulai dari orang tua hingga anak-anak.

“Kemiskinan budaya” juga bercirikan adanya sikap tidak merasa jadi bagian sistem politik, sistem ekonomi, atau sistem administrasi negara.

Pendek kata, orang yang mengindap “kemiskinan budaya” tak merasa sebagai penumpang kereta api yang sedang melaju menuju masa depan.

“Kemiskinan budaya” inilah yang membelenggu mereka secara turun temurun. Mereka akan melahirkan generasi yang fatalis; belum apa-apa sudah meyerah. Miskinnya infrastruktur pendidikan juga memperparah keadaan ini.

Odesa Indonesia berkesimpulan, rantai belenggu ini harus diakhiri!

“Kemiskinan budaya” tidak boleh lagi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salahsatu pengurus Odesa yang juga peneliti di Stanford University, Prof. Dr. Darjatmoko (Alm) berpendapat, kunci kebangkitan bangsa adalah literasi (membaca, memahami, menulis dan mempraktikan). dan inilah yang harus diselenggarakan pada anak-anak miskin di desa maupun di kota.

Karena itu Odesa membuka sekolah Sabtu Minggu (Samin) di belasan dusun.

Para sukarelawan mendatangi anak-anak setiap akhir pekan, membawa buku, membawa cerita-cerita imajinasi, serta menceritakan tentang kebaikan alam: lebah, bunga matahari, kelor, dan lain-lain.

Para sukarelawan juga mengajarkan pentingnya hidup bersih dan sehat dan memelihara sumber air.

Kecintaan terhadap alam, membaca, dan menuntut ilmu inilah yang oleh Odesa Indonesia ditanamkan pada anak-anak agar kecintaan ini tidak berhenti sebatas menjadi kebiasaan.

Kita mendorong gerakan menghasilkan manfaat lebih jauh ke arah pembangunan kebudayaan dengan hasil konkret kuat dalam urusan pangan, menemukan pekerjaan di desanya secara produktif dan syukur-syukur bisa menemukan jadi dirinya sebagai warga sipil yang berdikari.

Dengan penyelenggaraan literasi itu, gerakan cinta ekologi dan masa depan tidak cuma ada di aspek kognitif anak-anak, melainkan menjadi sebuah gerak psikomotorik yang melekat.

Inilah yang kami maksud sebagai cara kerja pendidikan berhaluan kebudayaan.

Kembali pada musik. Di sinilah pentingnya kesenian dalam membentuk tradisi baru agar kebudayaan muncul sehingga kita bisa berharap lahirnya praktik keadaan syukur-syukur menjadi peradaban di ruang lingkup lokal.

Produksi kesenian harus lebih produktif. Dalam diri Ferry Curtis dan Nissan yang sudah memiliki paham tentang pentingnya pendidikan tentu kerja kesenian ini bukan sekadar membuat lagu secara asal-asalan.

Ada mandat kemanusiaan sehingga pesan-pesan dari lagu tersebut terhubung dengan dua problem besar bangsa Indonesia, yaitu kemiskinan dan kerusakan alam.

Semuanya membutuhkan literasi dan musik bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pesan itu kepada anak-anak.

Dengan beberapa lagu Ferry Curtis ada banyak anak di Cimenyan yang semakin semangat membaca.

Dengan lagu-lagu riang gembira itu kegiatan belajarpun semakin lebih menyenangkan.

Dengan lagu itulah kegiatan literasi dalam dua pengertian yaitu membaca buku dan membaca alam akan lebih mudah mengantarkan anak-anak untuk paham peran setiap mahluk di dalam jejaring ekologi.

Mereka akan paham “tanpa alam manusia tak bisa hidup”, sedangkan “tanpa manusia alam bisa hidup.”

Kami meyakini ada korelasi antara kemajuan sebuah bangsa dengan produksi seni dan budaya, atau folklore.

Seni dan folkore yang tertanam dari sejak anak-anak telah menghasilkan anak-anak yang imajinatif, dan cinta pada ekologi.

Anak-anak ini yang kelak akan membangun keseimbangan manusia-kesejahteraan-kelestarian atau people-planet-prosperity.

Kehadiran Remy Sylado, Boy Worang (teater), Matori A Elwa (penyair), dan kemudian Ferry Curtis serta Nissan Fortz akan menambah kerja kesenian ini benar-benar memasuki ruang kerja kebudayaan yang sejati.

Saya optimis hal itu mewujud karena di Odesa Indonesia punya tradisi yang kuat berdialog dan berdeliberasi.

Segenap wacana bersumber dari pengalaman para pengurus yang beragam latar belakang itu mudah menemukan muara kekompakan karena prinsip berorganisasi adalah bekerja.

Siapapun yang aktif di Odesa wajib bekerja di lapangan karena dari alam dan kehidupan petani itulah benih-benih ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan terus lahir.

Aktualisasi dan Transformasi Kelas Menengah di Odesa

Para pelaku seni yang mau menyatu dengan Odesa ini kami anggap memiliki sikap rendah hati karena mau berfilantropi, membangun cinta kasih sesama dengan mendermakan karya dan waktunya untuk melayani orang-orang miskin.

Mereka menyatu dengan kesadaran untuk bersama-sama, bukan dalam rangka berbusung dada memamerkan kapasitas. Sikap rendah hati saling mendengar dan saling memahami satu sama lain inilah yang menjadi kekuatan Odesa.

Bagi para seniman, Odesa Indonesia adalah tempat yang pas karena organisasi ini memiliki tradisi yang kuat sebagai fasilitator pengembangan sumberdaya manusia dari kalangan kelas menengah agar tidak mengedepankan individualisme.

Dari kebijaksanaan macam inilah kita akan bisa menemukan tujuan yang lebih jelas dan manfaatnya akan dirasakan masyarakat.

Para seniman di Odesa Indonesia sadar seni bukan untuk seni (ars gratia artis), melainkan seni untuk  kepentingan yang lebih luhur, yakni menegakkan keadilan sosial.

Dengan visi yang jelas dan praktik gerakan yang konkret, misi meraih pencapaian perbaikan masyarakat itu bisa lebih jelas dibuktikan hasilnya. []

Odesa Produksi Musik untuk Literasi

Musik dari Syair Penyair Matho A Elwa

Musisi Ferry Curtis Belajar Kelor dan Gerakan Sosial di Odesa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja