Di Bandung Utara, Ada Kesenjangan dan Perampokan Tanah

SHNet, BANDUNG – Masalah kesenjangan menjadi salahsatu perhatian Organisasi Odesa-Indonesia. Di basis-basis desa garapannya, kawasan Bandung Utara, Odesa-Indonesia melihat kenyataan yang memprihatinkan tentang keluarga-keluarga buruh tani yang hidupnya tidak layak. Hal itu diutarakan oleh Khoiril Anwar, Ketua Divisi Kebijakan Publik Odesa-Indonesia.




“Kalau pak Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun lalu mewanti-wanti kesenjangan sudah pada titik rawan sebenarnya sudah banyak terjadi. Ada tragedi yang diam-diam terjadi di petani-petani desa, bahkan yang lokasinya hanya berjarak 10 Kilometer dari Metropolitan Bandung,” kata Khoiril sebagaimana disampaikan melalui siaran persnya kepada SHNet, seusai menyalurkan bantuan alat-alat tulis dan pakaian dari bantuan Alumni Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung Angkatan 86, Minggu 12 Maret 2016.

Alumni Elektro ITB Minggu sebelumnya, 5 Maret 2017 melaksanakan kegiatan Bakti sosial di Kampung Cadas Gantung, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Sebagian donasi alat tulis dan pakaian yang tersisa disalurkan di Waas, kawasan Wisata Alam Oray Tapa Kabupaten Bandung.

Menurut Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Kebijakan Publik Universitas Pasundan itu, masalah-masalah krusial akibat kesenjangan ekonomi itu berdampak pada masalah ketertinggalan pendidikan, infrastruktur, modernisasi pertanian, dan bahkan perampokan tanah secara perlahan-lahan.

Saya bilang perampokan tanah karena keluarga petani miskin itu dibiarkan terlantar oleh Pemkab Bandung dalam hal pertanian. Hasil investigasi kami di lapangan membuktikan kemiskinan akut mulai melanda sejak 20 tahun lalu. Para petani yang rendah pendidikan dan sulit membendung arus konsumsi model perkotaan itu kelimpungan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Tidak mampu sekolah, tidak mampu berwirausaha, dan tidak bisa mengembangkan pertanian karena ketidaaan modal serta ilmu pengetahuan. Karena terdesak mereka lantas mengambil jalan pintas menjual tanah warisan,” kata Khoiril.




Hal yang paling parah menurut Khoiril adalah sikap orang kota yang suka berburu tanah ke desa-desa, membeli dengan harga murah. Saat petani sedang terpepet kebutuhan, tanah dijual dengan harga murah. Khoiril mengatakan, orang-orang kota mengejar harga murah. Dan harga murah tanah itu bisa didapat saat petani kepepet kebutuhan. Di situlah transaksi jual beli tanah terjadi.

“Tanah diambil orang kota dan kebanyakan dibiarkan karena untuk tujuan investasi. Kemudian para petani berubah menjadi buruh-tani. Mereka menjadi kuli di tanah sendiri,” paparnya. (Teguh Sucipta)
Sumber: Sinar Harapan.net

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*