Sorgum Cimenyan Banyak Diminati, Banyak Petani Semangat Menanam Lagi

Mulanya ia khawatir tak menemukan konsumen, karena masyarakat tidak terbiasa dengan sorgum. Konsumen di perkotaan pun tidak diketahui peminatnya.

Hal inilah yang terpikirkan oleh Yayan Hadian, 23 tahun, seorang petani muda yang belakangan menggeluti budidaya sorgum di Pasir Impun, Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Belakangan setelah 1 tahun berjalan membudidayakan, jalan usahanya bersama teman-temannya di Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan menemukan jalan keluar.


“Peminat sorgum ternyata banyak. Ada yang suka karena berguna mengganti beras dalam rangka menghindari gula. Ada yang butuh karena alergi makan beras. Rata-rata yang minat itu karena tahu manfaat kesehatannya,” kata Yayan yang telah berhasil memproduksi beras putih sorgum dan beras merah sorgum itu kepada SHnet, Minggu 29 Desember 2019 saat membagikan benih sorgum kepada puluhan petani di Desa Mekarmanik dan Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Yayan mengakui kalau tadinya mengembangkan sorgum hanya karena dorongan dari pengurus Yayasan Odesa Indonesia di mana organisasi Taoci bernaung di bawahnya. Setelah berjalan hampir 2 tahun, produk-produk sorgum, terutama beras dan popsorgumnya ternyata diminati banyak orang.

Karena pertaniannya yang diurus tersebut dijalankan secara kolektif, ia bersama 4 pemuda tani dan beberapa mahasiswa yang sering menjadi fasilitator kegiatan pendidikan minggu Yayasan Odesa Indonesia semakin intensif mensosialisasikan sorgum kepada para petani. Tujuannya supaya pada musim kemarau petani tetap bisa bekerja dan mendapatkan hasil ekonomi. Lain dari itu, sudah terbukti daun sorgum berguna untuk pakan ternak petani, batangnya juga berguna untuk kompos organik guna menyehatkan lahan pertanian yang telah banyak keracunan kimia.

sorgum cisanggarung bandung odesa
Di musim kemarau, Petani punya peluang tetap bekerja karena sorgum bisa berkembang di lahan kering Cimenyan Kab.Bandung

“Kita galang puluhan petani supaya semakin baik ekonominya, dan juga memperbaiki lingkungan. Dan tantangan kami adalah supaya petani juga rutin mengonsumsi sorgum,” kata pemuda yang sebelum bertani pernah bekerja sebagai kernet truk tersebut.

Tahun 2018 hingga 2019 lalu, Yayan Hadian mengembangkan sorgum putih. Pada akhir tahun 2019 ini benih sorgum merah sudah mulai berkembang dan bahkan ada 2 petani yang berhasil memanen sorgum merah. Pada tahun lalu grup pertanian Tanaman Obat Cimenyan telah berhasil menanen 8 ton sorgum, diolah menjadi beras, sebagian juga untuk produk olahan seperti tepung untuk kue, roti. Dan yang diminati para petani adalah bubur sorgum untuk sarapan pagi.
kue sorgum odesa bandung
“Bulan april hingga juni mendatang kami punya target lebih massif karena para petani banyak yang minat. Selain itu pasar sorgum juga masih memungkinkan berkembang. Bahkan kami menjual langsung ke konsumen pun banyak yang minat,” terang Yayan.

Selain mengembangkan sorgum, Yayan dan 6 orang petani di Grup pertanian Tanaman Obat Cimenyan tersebut juga memperluas tanaman Hanjeli (Coix Lacryma Jobi), dan juga tanaman kelor serta kopi. Ia berharap para pemuda bisa mengembangkan tanaman-tanaman pangan bergizi dan juga herbal karena membuka peluang usaha yang baik untuk warga perdesaan.[abdul hamid]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*