Empat Anak Tidak Sekolah SD dan Buta Huruf

PONDOK BUAHBATU Odesa. Tiga kali mengajar anak-anak di Kampung Pondok Buahbatu, Mekarmanik Cimenyan, saya dibuat kaget oleh sebuah persoalan. Dari beberapa anak-anak kampung pinggir hutan yang saya dampingi dengan program pelajaran mingguan itu, empat di antaranya adalah buta huruf; 1 anak pernah sekolah SD sampai kelas satu, tiga anak lagi tidak bersekolah SD.




Saya baru tahu pada 3 pertemuan ini karena dua pertemuan sebelumnya saya lebih memilih mendengarkan, melihat praktik yang diajarkan guru sebelumnya (Istri Ustad Nanang Yusuf). Pada pertemuan ketiga inilah saya mulai mengenal satu persatu anak dengan kemampuan dan kelemahannya. Tadinya saya mau mengajar dasar-dasar bahasa Inggris dan materi sejarah (keduanya sebagai materi tambahan ngaji harian yang diprogramkan dua kali seminggu), agaknya nanti harus diubah atau ditambah, yaitu belajar membaca dan menulis secara khusus untuk empat anak yang belum mengenal angka dan tulisan itu.

Keempat anak ini masih berusia 11, 12 dan 13 tahun.

Sekarang saya tanya kepada Anda. Di zaman seperti sekarang ini, di sebuah kampung yang jaraknya hanya sekitar 8 Km dari Jalan Nasional A.H Nasution Kota Bandung, atau sekitar 14 Km dari Gedung Gubernur Jawa Barat, ada fenomena seperti itu.
Apa yang Anda pikirkan?

Keempat anak itu tidak bersekolah karena alasan yang belum sepenuhnya saya percayai. Sementara jawabannya sederhana, tidak mau sekolah. Pokoknya tidak mau. Hasil usut sementara, orangtuanya juga tidak mau memaksa.

Oke, soal di balik penyebab tidak mau sekolah itu, sebenarnya di kampung-kampung Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung bukan hal yang asing. Banyak kenyataan seperti itu. Rata-rata pendidikan warganya rendah, kebanyakan lulusan SD.




Melalui tulisan ini saya tidak akan banyak beropini. Justru saya ingin mendapatkan masukan-masukan. Tentang bagaimana mengajar yang baik untuk anak-anak desa yang tidak bersekolah. Kedua, mendorong orangtuanya agar anaknya kembali bersekolah, ketiga apa sikap Anda manakala suatu hari nanti, kami melalui Odesa-Indonesia memberikan data, misalnya terdapat 300 anak-anak desa tidak bersekolah SD di beberapa kampung utara Kabupaten Bandung? Terdapat 2.000 anak-anak desa yang hanya lulusan SD? Mari berpikir, dan mari kita bergerak.-Khoiril Anwar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*