Civic Journalism untuk Persoalan Warga Desa

BANDUNG: Wartawan Senior Budhiana Kartawijaya mengatakan, saat ini dunia pers perlu melangkah ke arah yang lebih maju dengan Civic-Journalism, atau jurnalisme yang berorientasi untuk warga masyarakat bawah. Civic-Journalism menurutnya identik dengan persoalan Akar Rumput sehingga konsentrasinya lebih pada warga bawah, terutama warga perdesaan yang tertinggal. Pandangan Budhiana tersebut disampaikan pada acara pelatihan jurnalistik bertema “ Wartawan Ngaprak Desa: Menggali Fakta, Membangun Empati” yang dihadiri puluhan wartawan dari Harian Umum Galamedia dan beberapa peserta delegasi, di Villa Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 27 Maret 2017.

“Jurnalisme yang melaporkan kehidupan masyarakat paling bawah. Reportase yang disuguhkan bersifat detail. Jurnalisme Akar Rumput bisa dilakukan warga negara lewat media sosial, maupun media mainstream,” kata Budhiana.

Fungsi lebih lanjut dari jurnalisme Akar Rumput atau yang dikenal Grassroots Journalism ini menurut Budhiana akan sangat berguna bagi perbaikan kehidupan masyarakat karena selain bisa menjadi menguak persoalan kemiskinan di suatu kawasan juga bisa digunakan untuk memverifikasi tentang konsep negara atau lembaga resmi. Verifikasi tersebut dilakukan pada tingkat paling bawah misalnya di desa-desa yang selama ini mengalami marginalisasi.

“Jurnalisme Akar Rumput juga berguna untuk mencari variable-variable yang bisa melengkapi kriteria resmi tentang kemiskinan. Dan dengan itu pula akan membantu negara dalam menerapkan kebijakan pengentasan kemiskinan dan persoalan kewarganegaraan lainnya,” terangnya.

Temuan lapangan Odesa

Budhiana Kartawijaya selama ini juga dikenal sebagai pegiat Odesa Indonesia yang aktif terjun ke lapangan di Kawasan Bandung Utara (KBU). Blusukannya yang aktif setiap pekan selama berbulan-bulan tersebut memberikan kesaksian lain tentang kemiskinan.

“Bisa jadi kita belum berpikir tentang beberapa indikator kemiskinan atau keterbelakangan yang menurut kami sangat penting diperhatikan,” katanya.

Beberapa indikator temuan lapangan tersebut menurut Budhiana antara lain, 1) Rumah tangga tidak memiliki sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) 2) Anak-anak kurang gizi dan kurang hiburan, 3) Imajinasi fatalis, 4) Tidak ada makam umum, 5) Dusun terisolasi karena blankspot, 6) Angka perkawinan dini tinggi, 7) Angka putus sekolah level SD/SMP tinggi, 8) Biaya transportasi tinggi sampai menggerus kebutuhan pangan, 9) Dominasi pemikiran mistis mempengaruhi waktu kerja dan acara-acara tertentu, 10) Monetisasi (komersialisasi) berbagai segi kehidupan. 11) Tidak mampu membuat skema atau perencanaan secara konkret dalam setiap pekerjaan, 12) Macetnya struktur formal lembaga negara dalam mengatasi problem hidup warga.- Khoiril Anwar

1 Trackback / Pingback

  1. Tanggungjawab Jurnalisme Terhadap Kemiskinan – ODESA INDONESIA

Tinggalkan Balasan