Arjuna Desa dan Sembilan Bidadari

Ilustrasi polygamystop.org

Oleh Enton Supriyatna Sind. Wartawan dan Pegiat Odesa-Indonesia.

SUATU pagi di perbukitan yang sejuk, saya menemukan pemandangan tidak biasa. Pada hari-hari sebelumnya, yang membersihkan ladang dari rerumputan liar itu hanya dua orang: Mang Sujang (sebut saja demikian) bersama istrinya. Tapi kali ini ada perempuan lain yang melakukan kegiatan serupa. Tentu saja saya tidak mengenalnya.

“Saha eta?” bisik saya pada Sujang.

“Pamajikan, Pak,” jawabnya sambil tersenyum.

“Maneh nyandung?” saya tanya lagi. Lelaki usia 40-an itu kembali tersenyum.

Saya bengong. Baru tahu kalau dia beristri lebih dari satu. Dari istri keduanya itu lahir anak perempuan, yang pagi itu bercengkrama akrab dengan anak lelaki Sujang di ladang. Pada hari-hari berikutnya, dua perempuan itu berada dalam satu rumah. Diam-diam saya salut kepada Sujang, yang bisa membuat rukun kedua istrinya.

Tetapi hati perempuan bisa ditebak dalam soal seperti ini. Karena sepanjang yang saya lihat, tidak pernah ada komunikasi di antara kedua perempuan itu. Di ladang mereka sama-sama bungkam.

Di rumah juga tidak ada sapaan ramah. Keduanya seperti asyik dengan dunianya sendiri. Jika istri pertama Sujang duduk di kursi ruang keluarga. Istri kedua berada di ruang tamu. Masing-masing mematung. Sujang biasa-biasa saja, menjalankan aktivitasnya.

Suatu hari saya menyambangi rumahnya. Tampak sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Seorang tetangga memberi tahu, “Istri Sujang minggat ke rumah orangtuanya tadi malam. Mereka berdua bertengkar”.

Saya maklum dan tahu ke mana arah pembicaraan itu. Sementara keberadaan Si Sujang juga tidak jelas. Pertengkaran itu memang menjadi urusan dalam negeri mereka. Tetapi siapa yang mengurusi tanaman bawang saya di ladang itu?

Beberapa hari kemudian Sujang datang ke rumah saya. Wajahnya kusut. Tidak segagah ketika bertemu hari-hari sebelumnya.

“Saya pulangkan dulu istri kedua saya. Lama-lama suasana rumah jadi panas,” katanya. Kekaguman saya memang sudah luntur lebih cepat, ketika menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi di rumah itu.

Saya menduga, kisah poligami itu akan berakhir. Tetapi saya salah. Beberapa waktu kemudian, Sujang bertandang ke rumah saya bersama perempuan usia 20-an tahun. “Ini keponakan saya. Kebetulan mau ke Ujungberung, ya sekalian mampir ke sini”.

Saya tidak percaya begitu saja. Dan benar, beberapa waktu kemudian Sujang mengaku perempuan muda itu adalah istrinya yang ketiga. Mereka berkenalan di dekat Lapangan Gasibu, di tempat ABG tersebut berjualan pakaian di tempat itu tiap hari Minggu.

“Kamu belum puas dengan beristri dua?” tanya saya suatu ketika.

“Ya bagaimana lagi, Pak. Dia sangat cinta sama saya. Orangtuanya juga setuju dan minta saya segera menikahinya. Ya nikahlah,” jawabnya ringan, tanpa beban.

Saya tak habis pikir, bagaimana manajamen poligami yang dia terapkan. Sebab jika dilihat dari sisi kemampuan ekonomi, jauh dari memadai dan layak untuk meyejahterakan ketiganya.
Pada sebuah kesempatan mencari sapi untuk kurban, Sujang mengajak saya ke sebuah kampung tidak jauh dari Ujungberung, di atas Cilengkrang. Kami masuk ke sebuah rumah.

Seorang perempuan menyambut kami dan mempersilakan masuk.

“Nih Si Bapak kasih teh manis,” ujar Sujang sambil masuk ke bagian dalam rumah. Saya mulai bertanya-tanya, siapa lagi perempuan ini?. “Istri saya, Pak. Dia mah banyak sapinya. Saya juga tidak repot ngurus keperluan sehari-harinya. Ini motor juga punya dia,” tuturnya saat kembali mengantar saya pulang. Istri keempat.

Akhirnya saya tidak tahan, ingin tahu apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran Sujang tentang poligami. Dari obrolan di rumahnya, tentu saat istrinya di ladang, saya lebih dikejutkan lagi. Ternyata Sujang sudah sembilan kali menikah, sembilan orang istri. Tapi sebagian sudah diceraikan, sebagian masih bertahan. Mereka tersebar di Cimenyan, Ujungberung, Majalaya, Sumedang, Subang dan Kota Bandung.

“Saya menikahi mereka tidak karena harta mereka. Buktinya semua istri saya, dibikinkan rumah. Saya hanya mengamalkan petuah orang yang saya percayai ilmunya, orang pintar. Dia menasihati saya, jika kehidupan ingin maju secara ekonomi maka harus menjalani sembilan kali nikah, sembilan istri. Itu saya jalani,” ungkapnya.

“Lalu terbukti mujarab saat petuah itu dilaksanakan?” saya penasaran.

“Gini, Pak. Walaupun saya tidak punya pekerjaan tetap, serabutan, rezeki saya mengalir.

Semua kebutuhan istri-istri saya terpenuhi. Tapi sekarang setelah saya ceraikan satu per satu, terasa malah rezeki seret. Istri saya kini tinggal dua orang,” ucapnya.

Sesederhana itukah alasan dia berpoligami? Wallahu ‘alam.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*