fbpx

Banjir Bandung, Karena Air Tak Lagi Kerasan di Bukit Cimenyan

Di Hutan Arcamanik Kawasan Utara Bandung pohon-pohon tinggi terawat secara baik. Di bawahnya pohon-pohon pinus itu, tanaman kopi sudah beberapakali menghasilkan panen. Petani bisa menggarap lahan perhutani. Sementara di bawah hutan itu, perbukitan yang zaman dahulu kaya akan pohon tinggi ditebangi karena sayuran tumbuh tidak bisa laras dengan pohon tinggi.Pemandangan pada Video ini lumayan hijau karena saat ini musim hujan berlangsung. Namun setiapkali musim kemarau panjang, tanah-tanah merah nampak mengenaskan; kering kerontang oleh tajamnya terik matahari.Resikonya, banyak air yang “tidak kerasan” di perbukitan itu, dan buru-buru mengalir ke dataran rendah, membanjiri Kota Bandung. Ratusan hektar tanaman sayuran ini kebanyakan dimiliki oleh orang Kota, digarap oleh buruh tani. Orang-orang kota sebagian menyewakan tanah itu kepada petani, sebagian lagi membiarkan petani menggarap tanpa perlu menyetor kepada pemilik.Rata-rata, orang Kota memiliki tanah karena dorongan penguasaan dengan rumus investasi. Tetapi sebenarnya tidak cukup membuat hasil ekonomi memiliki progress karena bertani sayur juga tidak bisa membuktikan hasil yang baik. Bertani sayuran tanpa kekuatan yang memadai dari sisi kolektivitas, teknologi dan marketing, pada kenyataannya hanya mendorong para petani terjebak pada siklus “perjudian.”Budidaya bibit dan model bercocok tanam mungkin sudah bisa disebut sedikit modern, tetapi hubungannya dengan pasar sangat barbarian. Saat petani belanja modal untuk pertanian begitu mencekik. Tiba musim panen harga rontok. Petani lumpuh. Mereka tidak punya bargaining dengan harga. Mahalnya ongkos transport karena medan yang sulit mengakibatkan nilai panen sayuran begitu rendah. Bahkan saking rendahnya seringkali hasil panen ditinggal begitu saja; tomat dan kubis seringkali menjadi kompos.Setiapkali kami bertemu petani dan berbicara tentang kepemilikan tanah, ada nama “Bu Yoga Orang Lippo”. Nama ini begitu popular dikenal para petani dari Cibanteng hingga Parabonan. Ada nama Pak Moko yang dikenal warga sebagai orang baik sampai bukit di Puncak Bintang itu disebut Bukit Moko. Ada juga nama pejabat (menteri Pariwisata, Arif Yahya) yang memiliki tanah beberapa hektar di sana. Bu Yoga atau Pak Menpar itu dikenal orang baik. Tidak memasang tarif khusus terkait dengan bagi hasil. Sementara beberapa orang kota Bandung lainnya memiliki tanah dengan status sewa, rata-rata per-hektar tarifnya Rp 1,2 juta.Pohonan tinggi yang habis ditelan domestifikasi tanaman sayuran itu pada akhirnya membawa sial banyak orang. Banjir di Kota Bandung tidak lepas dari faktor perbukitan di Cimenyan ini. Tanah-tanah terbawa hanyut air. Pepohonan yang minim membuat curah hujan yang deras itu memilih cepat pergi ke daratan yang rendah.Bupati Kabupaten Bandung Dadang Nasir sudah memasuki masa dua periode kepemimpinan. Tidak punya perhatian sama sekali terhadap masalah ini. Apalagi Aher. Mungkin saja Aher belum pernah masuk kawasan ini. Jika pun lewat paling hanya melihat sebagai pemandangan. Seperti para wisatawan yang gemar cuci mata. Lalu kemudian saat banjir melanda, maka yang terpenting bagi Aher adalah berdoa.Dadang Nasir dan Aher telah membuktikan, bahwa kekuasaan yang dipegangnya tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Ini karena tidak ada kemauan yang serius untuk bermusyawarah bersama, memberikan solusi satu persatu kepada para petani, melibatkan para pemilik tanah. Apa yang mereka lakukan tidak lebih sekadar memberikan bantuan bibit melalui anggaran milik rakyat yang sering dikapitalisasi sebagai bantuan (kebaikan personal) pada musim kampanye. Dan celakanya bibit pun seringkali meleset dari kebutuhan petani. Bahkan bibit-bibit kopi Ateng yang dibagikan kepada petani hutan mati dalam masa panen dua kali.Kami (Odesa-Indonesia) mencoba menawarkan formulasi baru untuk penghijauan. Rumus dasarnya adalah ramah terhadap lingkungan yang juga menghasilkan nilai lebih ekonomi kaum tani. Di masa awal, ada dua dosen ITB yang “agak gila” dalam urusan pendampingan petani; Basuki Suhardiman dan Didik Harjogi aktif keluar masuk kampung-kampung petani Cimenyan utara yang hidupnya begitu tertinggal dari modernisasi. Didi Sugandi alumi ITB ahli pemetaan juga terlibat di dalamnya. Satu persatu tanaman sayuran beralih ke kopi dengan tumpeng sari dan solusi ekonomi modern lain. Tiga jurnalis, Budhiana Kartawijaya, Hawe Setiawan dan Enton Supriyatna juga proses bersama dalam Odesa-Indonesia. Dan yang menentukan dalam gerakan ini adalah peran Teguh Sucipta, Mudris, dan Khoiril Anwar, Agung Prihadi yang bisa menerjemahkan prinsip-prinsip gerakan Odesa-Indonesia; “membumi dalam kebersamaan”; mengorganisir petani!Tanaman kopi (tentu dengan konsep integrated farming tumpang sari) akan bisa menjawab problem ini karena dengan kopi akan ada kebutuhan menanam pohon tinggi. Sedangkan penghasilan rutin petani bisa memanfaatkan tanaman lain yang laras dengan kopi seperti tanaman obat, pisang, dan lain sebagainya. Masa awal perintisan mungkin agak terkendala karena soal pemahaman rumus ekonomi baru selalu membutuhkan waktu. Tapi di situlah juga terdapat makna pentingnya edukasi dengan semangat “membumi dalam kebersamaan” melalui pendampingan panjang bertahun-tahun.Proses perubahan harus dilakukan! Sudah puluhan ribu bibit kopi menyebar di beberapa tempat pertanian sayuran. Sampai akhir tahun 2017 nanti akan ada 350.000 bibit pohon kopi dengan tumpangsarinya. Asal petani kita dekati dan kita jadikan sahabat, urusan perubahan bukan hal yang sulit. Biasanya yang sulit itu pejabatnya. Selama ini tidak ada perubahan karena pejabat atau intelektual kota hanya melewati, memandangi dan gerundelan tiada henti.-Faiz Manshur.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Hubungi Odesa
Mengubah Keadaan Bersama