Sekolah Agroekologi Temanggung

Oleh Andy Yoes Nugroho. Pendamping Gerakan Agroekologi, Yayasan Odesa Indonesia.

Potensi apapun di level dusun harus dikelola kemudian dioptimalkan sebagai basis gerakan menuju kemajuan. Dusun Kesur di Desa Ngropoh Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung terdapat kegiatan pertanian ramah lingkungan yang terhubung dengan hutan.

Ada praktik agroforestry atau wanatani di sana. Masyarakatnya memiliki modal gotong-royong sehingga potensi gerakan untuk perbaikan lingkungan hidup berpeluang digerakkan. Jadilah kami dari Yayasan Odesa Indonesia berpikir perlu untuk mendaratkan pergerakan. Pilihan kami jatuh pada agroekologi dengan mobilisasi warga dusun Kesur. Rabu, 10 September 2020, kami akan memulai tahapan dengan perencanaan dan langkah-langkah awal guna mengawal gerakan agroekologi ini.

Mengapa ini perlu dilakukan?

Kehidupan di hampir semua masyarakat punya problem ekonomi dan lingkungan. Perbaikan pada level dusun penting dilakukan karena dusun merupakan unit paling efektif menjadi agen sosial perubahan ekologi. Berbicara dusun, tak lepas dari urusan petani dan pertanian.

Terdapat tiga subjek utama dalam usaha perubahan sosial ke arah yang lebih baik, yakni 1) perbaikan pada manusia, 2) perbaikan pada tanaman, 3) perbaikan pada satwa. Manusia dengan flora dan faunanya harus hidup secara berdampingan dan mendapatkan hak hidup secara adil. Tanpa keadilan akan muncul ketimpangan. Ketimpangan adalah sumber bencana.

Dengan landasan pemikiran ini, kita mendudukkan pertanian bukan semata urusan ekonomisme. Kita tahu, kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh praktik pertanian maupun disebabkan oleh industrialisasi melanda di hampir setiap masyarakat. Kerusakan lingkungan terjadi karena ketidakseimbangan antara kegiatan ekonomi dengan perawatan lingkungan.

Ketika praktik pertanian hanya mengejar nilai ekonomi, banyak tanaman yang dianggap kurang bernilai secara ekonomi itu dimusnahkah. Ketika pupuk kimia merajalela, tanah mengalami pesakitan dan susah menumbuhkan tanaman. Tanaman besar hancur karena praktik monoculture. Bumi semakin kering, air susut, dan kemudian kualitas udara pun semakin menurun. Alam pun rusak sementara masalah ekonomi ternyata juga tak kunjung mensejahterakan kehidupan warga.

Kita mesti bertindak untuk perubahan yang lebih baik. Ekonomi adalah kegiatan masyarakat dan bisa mendorong kualitas manusia pada peradaban. Karena itulah mengapa ekonomi selalu diletakkan sebagai prioritas. Namun jika berekonomi dengan merusak alam, tentu kegiatan itu jauh dari nilai peradaban, bahkan bisa digolongkan barbarian.

Pertanyaannya, bagaimana kita berekonomi tanpa merusak lingkungan? Bagaimana seandainya kita menerapkan usaha itu menguntungkan secara ekonomi sekaligus menguntungkan secara sosial dan bahkan menguntungkan dari sisi pendidikan dan spiritual?

Ada banyak ilmu pengetahuan yang selama 20 tahun terakhir berkembang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan organisasinya Food Agriculture and Organization (FAO) memiliki beragam solusi dari praktik di berbagai kawasan dari berbagai negara. Misalnya praktik agroforestry yang pro ekologi ternyata banyak yang mampu memberi kesejahteraan hidup bagi warga sekitarnya. Kita bisa mencoba melakukan hal ini.

Kualitas hidup manusia itu sendiri ditentukan oleh unsur kesejahteraan sosial. Ada tiga dimensi kualitatif sebuah masyarakat yang harus diwujudkan secara bersama, yakni kualitas ekonomi, kualitas kesehatan, dan kualitas ilmu pengetahuan. Maka, serangkaian program menuju ketiga hal tersebut mesti menyertakan sebuah organisasi. Tindakan organisasi komunitas ini pada awalnya harus bekerja pada wilayah edukasi.

Berangkat dari konteks inilah Sekolah Agrofoekologi digulirkan oleh Yayasan Odesa Indonesia. Mengambil lokasi di pertanian kawasan Hutan Desa Ngropoh Kecamatan Kranggan. Program utamanya adalah menegakkan agroforestry, pertanian berbasis kehutanan atau yang disebut wanatani.

Mengapa hutan pertanian di Ngropoh perlu didirikan gerakan agroekologi?

Karena di sana sudah ada modal dari kebaikan masyarakat. Para petani sudah mengembangkan keanekaragaman hayati. Para petani bercocok tanam tumpang sari mulai dari tanaman pangan, tanaman obat hingga tanaman hutan. Tanaman obat telah banyak berkembang mengisi bagian bawah hutan di sana. Bahkan budidaya durian telah menjadi salahsatu prestasi besar dari hasil kerja nyata para petani.

Ini adalah peluang besar. Ketika banyak pertanian tidak menemukan solusi bagi kekuatan pangan dan juga kewirausahaan sekaligus solusi bagi lingkungan, para petani di Ngropoh Temanggung telah melakukan tindakan nyata selama lebih 20 tahun.

Sosok sepuh Mbah Waluyo patut disebut sebagai pelopor. Dengan keterbatasan ilmunya ia memilih kebijaksanan mengurus lahan dengan memperhatikan lingkungan hidup. Secara tekun dan konsisten ia mengembangkan pertanian anekaragam tanaman. Kebaikannya meluas pada warga lain sehingga kini warga bisa memanen kebaikan dari praktik pertanian ramah lingkungan tersebut.

Ringkas kata, di Ngropoh, memiliki kelebihan dari sisi sumber daya manusia dan lingkungannya. Sudah ada kecenderungan petani bisa hidup berdampingan dengan alam sekalipun di zona beberapa kilometer industrialisasi mulai mewabah. Dan yang terpenting dalam proses pemilihan zona awal ini adalah karena kesediaan warga, terutama kaum mudanya untuk bersolidaritas bersama dalam menerima program ini.

Di sinilah pentingnya kita menangkap peluang kebaikan untuk dijadikan sebuah gagasan transformasi sosial ke arah perbaikan berkelanjutan. Untuk melakukan tindakan kebaikan itu, tradisi kebaikan harus dibumikan sampai level kesadaran yang melibatkan banyak orang, apalagi jika kita ingin meluaskan gerakan seperti ini di daerah lain. Ilmu pengetahuan harus ditegakkan; praktik literasi berorientasi agroekologi harus ditanamkan di masyarakat dengan pendekatan yang kontekstual.

Untuk menegakkan ilmu pengetahuan yang terpraktikkan, dibutuhkanlah sebuah mesin gerakan yang bisa mengawal kegiatan tersebut. Sekolah informal adalah pilihan yang paling tepat untuk pelayanan pendidikan pertanian bagi warga dusun Kesur dan sekitarnya.

Pada anak-anak petani didirikan kegiatan literasi setiap hari sabtu dan minggu. Pada pemuda tani dan mahasiswa akan diadakan kegiatan pembibitan, jurnalistik berhaluan civic, kegiatan amal sosial dan pelayanan wisata edukasi. Sementara untuk para petani basis kegiatan utamanya adalah pendampingan pertanian ramah lingkungan dan wirausaha pasca panen.

Agroekologi di Dusun Kesur ini dijalankan oleh Grup Pertanian Eksodus (Ekosistem Sosial Dusun) yang berada di bawah pendampingan Organisasi Odesa Indonesia.

Kita bisa berharap sebuah komunitas yang tumbuh dengan kekuatan membangun ekonomi secara baik dengan mencanangkan program gerakan pangan sehat bergizi, sanitasi yang sehat dan pendidikan yang berkelanjutan dalam wadah “budaya belajar”. [odesa.id]

TENTANG EKSODUS TEMANGGUNG

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*