Saya dan Pak Toha

Didik Harjogi dan Pak Toha

OLEH Ir. Didik Harjogi, M.Eng. Dosen Politeknik ITB.

Tadi siang setelah dari kampus saya menemui peternak sapi, bernama Pak Toha yang tinggal di perbukitan kawasan Oray Tapa Kabupaten Bandung. Di sana, Pak Toha dan empat temannya sedang membangun kandang sapi. Rencananya peternakan sapi itu akan dikelola secara modern, terintegrasi dengan urusan pertanian kopi, kumis-kucing, pisang, dan lain sebagainya.

Selain hasil penggemukan sapinya juga diharapkan menghasilkan pupuk untuk tanaman pertanian tersebut, dan yang tak kalah penting juga adalah memproduksi biogas yang kami harapkan bisa menjadi sumber energi rumah tangga desa. Biogas yang murah dan ramah lingkungan tentu saja sangat dibutuhkan masyarakat, karena selain masalah kelangkaan gas elpiji banyak rumah tangga desa yang tidak lagi bisa memanfaatkan kayu bakar untuk urusan dapur sehari-hari.

Pada Pak Toha saya banyak bertanya tentang ternak, pertanian dan yang paling menarik tentang persoalan hidup masyarakat desa. Pak Toha dikenal oleh teman-teman Odesa-Indonesia sebagai salahsatu seorang peternak pilihan. Perjalanan hidupnya sebagai petani dan peternak kaya akan pengalaman.

Selain itu, Pak Toha juga memiliki kelebihan kemahiran menghitung rancangan usaha. Oleh teman-teman, ia juga dianggap memiliki etos kerja yang baik. Pagi hingga sore hari mampu melakukan banyak pekerjaan. Sekalipun ia tergolong keluarga petani yang pas-pasan, tetapi ia tekun dan gigih berjuang dengan modal amanah dan tidak banyak berkeluh kesah.

Dengan sosok berkarakter seperti itulah saya pun merasa mendapat banyak pengetahuan tentang sisi-sisi kehidupan petani desa yang tak lulus Sekolah Dasar seperti Pak Toha. Dan yang lebih penting dari pertemuan itu adalah begitu mudahnya saya menyampaikan pandangan-pandangan tentang seluk-beluk modernisasi peternakan dan pertanian.

Pemikiran Pak Toha yang open-minded itu begitu percaya diri bisa menerapkan konsep yang saya tawarkan. Misalnya, dia begitu paham dengan maksud close loop cycle, termaktub dalam rumus reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (daur ulang)–dengan memanfaatkan kotoran sapi tersebut akan diubah menjadi biogas. Dari limbah biogas tersebut akan dimanfaatkan untuk pupuk. Pupuk tersebut untuk menyuburkan tanaman pertanian. Dari limbah pertanian seperti kulit kopi digunakan kembali untuk pakan sapi sehingga tidak ada limbah yang mubazir).

Pak Toha bisa menerima pandangan itu, dan tanpa sekolah pun rupanya ia sudah punya cara pandang itu tentu dengan kadar pengetahuan yang berbeda dengan saya. Berbeda dalam mengartikulasikan pemikiran, tetapi sama dalam imajinasi untuk sebuah terobosan bisnis yang efisien dalam urusan permodalan, efektif dilakukan, bisa berguna untuk praktikum mahasiswa, menyerap tenaga kerja, ramah lingkungan dan tentu saja akan menjadi pilar kesuksesan pertanian.

Kesamaan pandangan ini pada akhirnya akan menolong kita untuk menghasilkan tindakan. Sebab tanpa kesamaan pandang, pak toha selama ini mampu mewujudkan itu karena belum punya modal. Sedangkann saya sendiri yang selama ini menguasai pengetahuan itu juga tidak berhasil mewujudkan. Semuanya karena jalan sendiri-sendiri.Dan antara saya, teman-teman dan Toha yang berhasil menyatukan pandangan itu pada akhirnya merasa lebih mudah mewujudkan tindakan.

Kandang telah dimulai dibangun. Beberapa minggu ke depan sapi dan peralatan biogas akan segera mengisi kandang. Dengan program ini saja, saya semakin kaya akan pengalaman, inspirasi dan optimisme untuk membangun kebaikan hidup di perdesaan. Ternyata berurusan dengan petani seperti Pak Toha juga merupakan sumber energi hidup.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*