Orang Kota Kuasai Tanah Cimenyan, Banyak Mayat dikubur di Pekarangan

BANDUNG: Pembina Odesa Indonesia Budhiana Kartawijaya menyoroti kehidupan yang memprihatinkan di kampung-kampung Cimenyan Kabupaten Bandung. Di kawasan yang jarak tempuhnya hanya 15 sampai 30 menit dari perkotaan Bandung itu, Budhiana menemukan model kehidupan warga buruh tani yang tidak sehat dan jauh dari kesejahteraan. Di sana terdapat puluhan ribu keluarga buruh tani miskin yang hidup serba kesulitan. Harga beras bagi mereka cukup mahal. Jejaring jalan tidak beraturan dan kondisinya yang rusak, membuat ongkos transport cukup mahal. Tak banyak anak melanjutkan ke SMP.




“Memang ada sebagian keluarga yang punya tanah untuk makam, tapi hanya untuk keluarganya, bukan untuk semua warga. Kalau keluarganya miskin? Boro-boro tanah untuk orang mati, untuk yang hidup pun sulit. Akhirnya, jenazah itu dimakamkan di belakang rumahnya. Kalau di belakang rumahnya ada kandang ayam atau domba, ya dibongkarlah. Hilang mata pencaharian mereka karena salahsatu lahan ekonominya beralih menjadi kuburan. Hidup susah, mati pun susah,” jelas Budhiana kepada Odesa-Indonesia, Sabtu, 1 April 2017.

Menurut Budhiana di Cimenyan dan bahkan juga di Kecamatan Cilengkrang dan Cileunyi, sangat jarang ada tanah wakaf untuk pemakaman. Idealnya setiap kampung atau beberapa kampung terdekat mestinya ada Tempat Pemakaman Kolektif. Menurutnya, keadaan seperti ini harus menjadi bagian dari indikator kemiskinan.

Perilaku orang kota
Di luar persoalan makam umum, Budhiana juga menyaksikan kontradiksi antara orang Kaya dari Kota versus orang miskin asli Cimenyan. Warga Cimenyan begitu kesulitan mendapatkan sepetak tanah untuk keluarganya yang meninggal, namun ada puluhan ribu hektar tanah terlantar dan itu ternyata hampir semuanya dimiliki oleh orang-orang Kota. Sebagian milik orang Kota Bandung, sebagian milik orang Jakarta dan Bogor.




“Orang kota yang berduit banyak membeli tanah di kampung-kampung di Kecamatan Cimenyan. Ribuan hektar dikuasai. Puluhan tahun tidak dijadikan lahan produktif. Sementara hanya beberapa saja dari orang kota yang hibah tanah ke setiap kampung. Tidak ada usaha dari pemerintah untuk program pemakaman umum ini. Manusia itu sifatnya berlomba-lomba menumpuk aset. Negara harus berani membatasi nafsu ini,” terangnya,” jelasnya. –Mudris/Khoiril.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*