Memperbaiki Politik untuk Memperbaiki Ekologi

You are currently viewing Memperbaiki Politik untuk Memperbaiki Ekologi

Oleh FAIZ MANSHUR. 
Ketua Yayasan Odesa Indonesia
IG Faiz Manshur
IG Odesa Indonesia

POLITIK SADAR EKOLOGI

Artikel Ekologi Odesa
Artikel Ekologi Odesa

Demokrasi berjalan ngadat. Kerusakan lingkungan berjalan cepat.  Ini nyata terjadi di Indonesia. Kesadaran kita merespons problem masih pada tataran rasa; perasaan semakin panas, perasaan cuaca kurang stabil, perasaan air semakin buruk. Kita belum membekali pengetahuan secara sainstifik berbasis data tentang perubahan iklim. Akibatnya, perbincangan kita selalu berhenti pada keluh-kesah.

Sementara pada fakta empirik nyata terjadi kerusakan akut. Apa yang dirasakan panas dari suhu bumi itu konsekuensinya bertalian erat dengan kesengsaraan jutaan rakyat kecil di perdesaan. Ekonomi mereka semakin sulit karena kegagalan panen lebih banyak terjadi. Kekeringan semakin lama berarti menyusutkan peternakan, itu artinya pula  menurun produksi pupuk, susu dan daging.

Semakin banyak hari kerja berkurang lalu menyandang status semi pengangguran. Pada kawasan-kawasan tertentu, perubahan iklim telah merusak tatanan hidup bermasyarakat karena banjir semakin sering terjadi.

Eksploitasi lahan

Kita harus memulai membuka diri terhadap pengetahuan baru untuk merespons terjadinya keburukan-keburukan di planet ini. Apapun usaha kita, terutama inovasi, tiada guna manakala bukan untuk menjawab problem yang terjadi. Pintu pengetahuan perubahan iklim ini nantinya juga harus menjadi perhatian utama kelompok politik, kelopok sosial dan yang lebih penting lagi harus menjadi bagian kurikulum wajib untuk siswa sekolah.

Apa itu yang penting dibaca dari persoalan ekologi saat ini?

Langkah pertama yang paling tepat adalah menghubungkan dengan pangan karena hal ini berurusan dengan budidaya pertanian, konsumsi, pasar, industri dan limbah. Pangan dan ekologi mesti dijadikan doktrin dalam perbincangan karena pangan berarti urusannya “usaha bertahan hidup”, dan kerusakan lingkungan berarti berurusan dengan keselamatan jiwa manusia dan satwa.

Kita juga belum menyadari bahwa urusan pertanian merupakan kontributor terbanyak dalam kerusakan lingkungan hidup. Pada pertanian berbasis industri mudah disaksikan fakta-faktanya, dan pada pertanian kecil, sekalipun tampak sepele, namun jika  dikumpulkan jumlahnya juga menggurita. Khusus pada praktik petani kecil memang tidak semuanya merusak alam. Tetapi pada golongan petani monokultur seperti sayuran sangat besar kontribusi perusakannya.

Di Pulau Jawa misalnya, para petani mengembangkan sayuran secara monokultur di lereng-lereng bukit/gunung dan menjauhi praktik wanatani/agroforestri. Naas, ketika petani terbawa kepada sikap pragmatis mengeksploitasi lahan untuk menghasilkan panen cepat, pemerintah dari Dinas Pertanian Kabupaten dan Kementerian Pertanian sering bangga dengan hasil panen raya-nya. Adapun saat terjadi banjir lumpur atau petani didera kekeringan panjang pemerintah tak punya solusi.

Jalan pikir

Keprihatinan ini kemudian menuntut para ilmuwan berpikir keras mengusahakan pertanian berorientasi usaha penyelamatan lingkungan. Dari doktrin relasional pangan dan ekologi ini, muncul pertanyaan ideal, bagaimana dunia memiliki sistem pangan berkelanjutan?

Dari hasil pembacaan penulis pada manuskrip-manuskrip organisasi pangan dunia, ada tiga bidang yang harus dibicarakan dalam satu paket, 1) keadaan bumi dengan perubahan-perubahan internal dan eksternalnya, 2) Keadaan hidup masyarakat dalam urusan ekonomi, 3) Keadaan sosial terkait dengan keadilan.

Idealnya, bumi harus tetap terawat alias sehat, ekonomi harus berjalan dengan pencapaian yang cukup, dan keadilan sosial juga harus tercapai. Jika salahsatunya diabaikan niscaya tidak akan tercipta gerak perbaikan berkelanjutan karena rusaknya bumi telah nyata didominasi oleh kegiatan ekonomi; baik dilakukan kapitalis swasta, persekutuan kapitalis-politisi maupun oleh rakyat biasa. Praktik buruk itu bisa dibuka dalam lembar sejarah tentang apa yang disebut ekonomi ekstratif, atau eksploitasi terhadap alam.

Ekonomi lekat dengan dua unsur, yang pertama karena dominasinya hasrat berbasis homo economicus yang lakunya dicerminkan pada pragmatis dan serakah. Sedangkan pada kelompok rakyat biasa –karena keterdesakannya– juga melahirkan praktik pragmatis, yang kita tidak bisa menutut mereka untuk bersikap ekologis karena imajinasi hidup mereka “asal dapat makan”.

Agroekologi Odesa

Menarik adalah pandangan Stephen R. Gliessman, ahli agroekologi dari Universitas California Santa Cruz. Pada  acara “Proceedings of the FAO International Symposium” (2014) yang di selenggarakan organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO). Ia membuat deskripsi, bahwa orang yang menumbuhkan makanan, memakan dan memindahkan makanan antara keduanya, semuanya harus terhubung dalam gerakan sosial yang menghormati secara mendalam hubungan antar budaya dan lingkungan.

Di sinilah kemudian Gliessman mendudukkan pertanian sebagai kajian pokok. Ia juga melihat globalisasi yang berjalan selama ini cenderung bertentangan dengan keseimbangan dan keberlanjutan, dan salahsatu persoalan itu adalah praktik pertanian monokultur yang merajalela sejak tahun 1970an—berlangsung di seluruh dunia.

Pertanian monokultur menurut Gliessman, selain melahirkan kerusakan lingkungan juga menimbulkan kemiskinan, termasuk masalah malnutrisi. Itu persoalan pertama yang patut mendapat perhatian kita semua sehingga perlulah kita berpikir menegakkan pertanian baru berbasis polikultur.

Persoalan ekologi selanjutnya menurut Gliessman, adalah merajalelanya praktik hidup dengan menggunakan bahan baku fosil dan yang tak kalah merusaknnya adalah model ekonomi bersandar pada pertumbuhan yang konstan.

Kerusakan bukanlah kehilangan. Masih ada wujudnya. Energi matahari harus ditampung pada materi yang produktif, yakni dedaunan agar foto-sintesis bekerja. Tanah tanpa pepohonan berarti kita merelakan karbon menguap ke langit, itu sama dengan mengusir rezeki.

Politik dan gerakan sosial kita mau tidak mau harus mengambil peran perbaikan pangan dan ekologi. Pendidikan pun harus semakin kontekstual berlaku pada generasi baru dan juga diterapkan pada para petani. [Sumber Opini Harian Pikiran Rakyat, Selasa 2 November 2021]

MINAT BERDONASI UNTUK GERAKAN EKOLOGI? AYO SUMBANG BIBIT

This Post Has One Comment

Tinggalkan Balasan