Landasan Pemikiran Pergerakan Odesa Indonesia

faiz manshur Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia.
Empat Pilar Peradaban: Pangan, Ternak, Literasi, Teknologi

Tulisan ini merupakan garis dasar pergerakan Odesa Indonesia. Ketika kami telah memahami realitas masyarakat lapisan bawah yang mengalami kemiskinan budaya, kami terdorong untuk lebih memahami persoalan perbaikan hidup, dan kebaikan hidup masyarakat yang paling ideal adalah peradaban. Maka penting di sini kita sampaikan garis-garis pemikiran dasar pergerakan yang kami lakukan.

Peradaban adalah idealitas paling tinggi dari imajinasi umat manusia. Di sana terdapat nilai, value, virtue dan sejumlah gambaran tentang harapan hidup manusia yang paling indah di dalam batin manusia. Ia mewakili imajinasi manusia tentang “surga-bumi” yang dibayangkan.

Dalam ruang lingkup sainstifik, peradaban merupakan hal yang konkret dan bisa dilihat dari model-model pemikiran ilmiah. Basis keilmiahannya bahkan sudah banyak dilihat dari sisi ontologis sehingga mudah kita menarik ke dalam takaran-takaran yang objektif. Takaran-takaran yang pernah maujud dalam dunia semuanya bisa diukur dari tinggi dan rendahnya, kemerosotan dan kebangkitan ulang, dan seterusnya.

Peradaban itu selevel pengertian dengan civilization. Di bawah peradaban ini terdapat tamadun/kebudayaan/kultur (culture) dan di lapis bawahnya lagi terdapat tradisi.

Peradaban ini merupakan sebuah capaian luhur homo erectus. Dalam peradaban, terdapat sebuah nilai-nilai ketinggian derajat kemanusiaan. Nilai-nilai yang termaktub dalam peradaban itu cakupannya meluas pada aspek-aspek ekonomi,sosial, politik, seni, sastra dan moralitas yang bisa kita ringkas dalam pengertian virtue (bukan semata value).

Di antara nilai-nilai tersebut kita menyebut beberapa istilah yang menjadi kandungan peradaban. Budayawan Remy Sylado pernah memberikan catatan kepada saya (saat saya mendorongnya menulis kajian kebudayaan) dengan catatan ringkasnya antara lain; arkaisme (dalam ruang karya seni), letterisme/keaksaraan dan tekstualisme (produksi tekstual untuk penafsiran sejarah), Medievalisme (peradaban Eropa abad pertengahan), westernisme (peradaban pasca abad pertengahan renaissance, auflkarung hingga postmodernisme), materialism (paham radikal pasca agama rasionalisme dan teknologi), brahmanisme (hindu ortodoks tentang spiritualitas manusia), wen ming ( peradaban Cina) dan lain sebagainya yang terlalu panjang untuk disebut satu persatu.

Empat Pilar
Istilah-istilah yang saya sampaikan tadi merupakan sebuah cermin besar tentang kehidupan umat manusia sesungguhnya memang kuat berorientasi pada virtue-ethic. Ilmuwan Jared Diamond dengan tulisannya “The Power of Farmer” (2005) memberikan modal kajian dasar yang kemudian saya kembangkan nantinya. Tulisan Jared Diamond itu menyiratkan bahwa sebuah bangsa yang kuat itu sangat ditentukan oleh empat hal, 1) Kekuatan budidaya Pangan, 2) Kekuatan Ternak, 3) Kekuatan Literasi dan 4) Kekuatan Teknologi.

Memahami empat pilar tersebut sesungguhnya wacana peradaban tiada bisa lepas dari urusan pertanian.Tautan realisme historisnya yang paling mendasar pada kebudayaan di mana culture (budaya) dan agriculture (budidaya) merupakan senyawa sosiologisnya. Argumentasi yang perlu saya sampaikan dalam kajian peradaban ini tentu saja harus menyertakan pandangan tentang kebudayaan, sebab budaya itulah yang menjadi pijakan hidup masyarakat, dan dari kebudayaan ini nanti pembicaraan tentang peradaban akan lebih mudah didapatkan.

Barangkali inilah cara yang paling tepat dalam membaca sendi ontologisnya. Pemikir klasik Ibnu Khaldun dan pemikir kontemporer seperti Jared Diamond, punya segudang kajian ilmiah dalam urusan ini. Bahkan kalau kita membaca beberapa novel karya Tolstoy, di sana tergambar jelas urusan hidup manusia sangat lekat dengan urusan pertanian. Tentang budaya, saya mendapatkan sebuah deskripsi yang singkat dari Remy Sylado yang mampu mendeskripsikan secara apik dan ringkas dalam bukunya Kamus Isme-Isme (2013). Ia tuliskan sebuah pengertian historis tentang kebudayaan:

“Kebudayaan tidak bisa dibaca tanpa kaitannya dengan makan, dan makan tidak bisa juga lepas dari kemampuan berpikir mengatur pertanian. Ingat, ‘kultur’ yang berarti kebudayaan, sangat berkaitan dengan ‘agrikultur’ yang berarti pertanian. Dalam sejarah peradaban Cina, selalu dicatat progres-progresnya. Misalnya, pada 2350 tahun sebelum Masehi, di zaman Raja Yao Ti, dibuatlah kanal-kanal untuk mengalirkan air. Selain itu di zaman ini pula ditemukan pengetahuan eksak soal astronomi. Lalu, pada masa pemerintahan Raja Shun, sekitar tahun 2310 sebelum Masehi, dibuat juga bendungan-bendungan. Selanjutnya pada 2200 tahun sebelum Masehi, melalui Raja Yu sebagai pendiri Dinasti Xia, dibuat peta untuk mengantisipasi banjir. Itu penting sekali. Sebab, kalau banjir tidak bisa diatasi, otomatis pertanian rusak, dan kembali ke masalah utama: makan terganggu.”

Memperkuat pandangan Remy Sylado, sebuah tulisan dari Lembaga Pillars of Agricultural Literacy Amerika Serikat sangat penting saya sertakan di sini. Kita tahu Amerika Serikat termasuk negara yang sangat baik dalam memberikan perhatian pada pertanian, bukan hanya dalam hal kebijakan politik negaranya, melainkan juga sampai pada urusan pendidikan sehingga pada setiap kegiatan pendidikan pertanian selalu menyertakan pemahaman tentang sejarah.

Dalam tulisan “Understanding of Intersection Between Agriculture and Society” (2012) tersebut ditekankan bahwa pendidikan pertanian harus memberikan pemahaman kepada setiap siswa tentang:

1) Semua peradaban besar dibangun di atas fondasi pertanian yang kuat. 2) Berawal dari penanaman lahan subur di antara Sungai Tigris dan Eufrat, berdirinya Mesopotamia merupakan contoh kebutuhan dasar produksi pertanian dalam peradaban mana pun. 3) Pertanian memainkan peran penting dalam perkembangan Amerika Serikat. Para penjajah membawa serta keterampilan mereka bercocok tanam di lahan dengan tujuan tertentu. 4)Peristiwa-peristiwa penting terkait pertanian telah membentuk perjalanan Amerika Serikat, termasuk Revolusi Industri, Depresi Besar, Badai Debu, dan Revolusi Hijau.

Fakta-fakta bangunan peradaban:
1) Budidaya-Pangan 2) Ternak, 3) literasi, 4) Teknologi
Dari keempat istilah ini kita bisa melihat sebuah fakta masyarakat pasca pemburu dan pengumpul (nomad) yang sudah melakukan kegiatan domestifikasi tanaman dan ternak. Tetapi masyarakat domestik (komune) belum layak disebut berperadaban karena basis dasar peradaban adalah literasi (minimal karya tulis). Sedangkan masyarakat yang memiliki kemajuan lebih, dipastikan selain kuat dalam hal literasi, juga memiliki kekuatan dalam hal senjata. Kata senjata ini merujuk pada kemampuan masyarakat memproduksi peralatan, bukan hanya untuk produksi dan penaklukan hewan, melainkan juga untuk pertahanan dan perang, bahkan hingga urusan industri dan perdagangan alat-alat teknologi. Dan senjata/teknologi ini saat ini sedemikian pesat melayani kehidupan masyarakat, termasuk teknologi informasi dan komunikasi.

Sebuah masyarakat itu akan kuat memiliki unsur budaya (modal dasar peradaban) jika masing-masing pada empat item tersebut memiliki 12 elemen pendukung yang pada masing-masing itemnya memiliki tiga unsur dasar. Tiga unsur itu berurutan, saling sambung menyambung satu sama lain.

Pada BUDIDAYA-PANGAN terdapat tiga elemen (1) ilmu pengetahuan, (2)Ketersediaan lahan, (3) kolektivitas.
Pada TERNAK tiga elemennya adalah (4) penghasil gizi, (5) pupuk, (6) Transportasi (kini sudah beralih pada teknologi)

Pada LITERASI tiga elemennya adalah (7) membaca, (8) menulis, (9) penyebaran gagasan.

Pada SENJATA/TEKNOLOGI tiga elemennya adalah (10) pertahanan, 11) agresi, 12) industri.

12 istilah yang saya tempatkan itu bukan sesuatu yang terpisah, melainkan tetap seperti itu alurnya. Namun fungsi dari masing-masing istilah itu multiguna, yang terhubung ke 4 konsep dasar sekaligus masing-masing terhubung pada 11 konsep dasar lain.

Berikut penjelasannya:

Masyarakat berkualitas (peradaban) akan selalu ditentukan oleh kekuatan budidaya pangan. Kuatnya budidaya pangan itu ditentukan oleh pengetahuan. Istilah “Knowlogde Is Power” dari Francis Bacon abad 15 tetap berlaku hingga sekarang ini karena fakta-fakta sejarah mendukung. Hal itu juga menandaskan pembuktian spiritual (akal-budi) manusia bisa mengatur materi. Beragam sejarah bangsa-bangsa yang maju pada mulanya bisa dideteksi dari unsur masyarakat komune-nya yang memiliki kemajuan ilmu pengetahuan dalam domestifikasi tanaman pangan.

Stabilitas kehidupan mereka lebih baik daripada kaum pemburu-pengumpul. Masyarakat domestik itu sendiri sudah cukup menjadi bukti, karena memiliki kemampuan pengetahuan budidaya tanaman pangan mereka kemudian menjadi kuat dalam domestifikasi dan meninggalkan pola kehidupan pemburu-pengumpul. Ilmu pengetahuan ini juga berlaku bagi perburuan lahan. Masyarakat yang maju selalu ditentukan oleh pengetahuan mencari lahan yang cocok, yang baik, atau jika tidak mendapatkan lahan yang baik mereka berinovasi menolah alam, dan itu sangat ditentukan oleh kadar kemampuan ilmu pengetahuan, kadar kualitas berpikir manusia dalam menyerap pengalaman. Demikian juga dalam hal kolektivitas. Masyarakat yang maju akan ditentukan oleh kolektivitas, gotong-royong, dan di sana ada pengetahuan juga tentang kepemimpinan.

Beranjak pada ternak, “Knowlogde Is Power” ilmu pengetahuan juga berlaku. Bukan sekadar bisa memilah ternak yang cocok dan yang tidak, melainkan harus memiliki kemampuan pengetahuan yang baik untuk menghasilkan gizi/daging, pupuk dan menjadikan ternak sebagai sarana transportasi (sekarang sudah berganti mobil, motor, pesawat, kereta).

Lebih lanjut, ilmu pengetahuan dalam literasi juga sangat menentukan kemajuan sebuah masyarakat. Kita sudah tidak bisa lagi hanya bicara tentang pentingnya membaca. Masyarakat yang beradab membutuhkan kesadaran penuh untuk memperkuat ilmu pengetahuannya dengan membaca (termasuk menghitung) kemudian juga kemampuan menulis, dan juga mahir dalam menyebarkan gagasan.

Ketika elemen ini tidak bisa dipisahkan. Jika masyarakat/individu hanya mampu membaca terang akan tertinggal karena otomatis hanya jadi masyarakat konsumen dari produk tulisan. Jika hanya mampu membaca dan menulis itu juga belum cukup karena tulisan tanpa kemampuan penyebaran gagasan niscaya akan tergilas pada kompetisi dengan kelompok bangsa lain yang mampu menyebarkan gagasan secara canggih.

Kemudian pada sisi lebih jauh, ilmu pengetahuan dalam urusan senjata (produk dasar manusia) untuk pertahanan pada akhirnya juga menentukan kemajuan sebuah negara/bangsa. Senjata yang tertulis di sini bisa jadi lebih tepat dipahami secara kontekstual dengan istilah teknologi. Artinya senjata merupakan simbol dari sebuah peralatan, dan bukan merujuk pada pengertian alat perang semata. Tanpa pengetahuan “persenjataan” (teknologi) yang memadai, budidaya pangan, ternak, dan juga literasi, niscaya akan mudah dikalahkan oleh bangsa lain yang menguasai kekuatan senjata.

Atas dasar pertimbangan historis maupun sosiologis di atas, kami memiliki keyakinan bahwa jalan perjuangan pembebasan masyarakat yang mengalami kemiskinan budaya menuntut kita untuk bergerak di atas empat pilar tersebut. Kerja kebudayaan, kesenian, politikkeagamaan, bahkan amal sosial hanya akan mendapatkan makna berkualitas kalau usahanya ditautkan dengan usaha membangun peradaban melalui empat pilar tersebut.

Odesa Indonesia merasa perlu menyampaikan rumusan-rumusan ilmiah atau framework of thinking seperti ini karena dalam berorganisasi kami bergerak atas dasar kesadaran sebagai subjek pergerakan (orang pergerakan) dan bukan sekadar kegiatan para aktivis yang sebatas melakukan aktivitas sosial tanpa pola (aktivisme).[]

1 Trackback / Pingback

  1. Sehari Bersama Pak Kiayi di Kebun Taoci – Odesa Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*