Ketua Pembina Odesa, Kegiatan Pemberdayaan Harus dengan Model Pendampingan

Salahsatu persoalan bangsa Indonesia adalah ketidakmampuan mewujudkan keadilan sosial. Ketidakadilan yang wujudnya adalah ketimpangan tidak hanya terjadi pada bidang ekonomi, melainkan pada bidang kesehatan dan pendidikan, termasuk akses informasi.

Menurut Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia, Budhiana Kartawijaya, hal tersebut bukan semata karena lemahnya perhatian negara pada rakyat kecil, melainkan lebih pada proses perwujudkan program pemerintah di lapangan. Budhiana melanjutkan, sekalipun saat ini ada anggaran dana desa, ada banyak anggaran pertanian, dan juga ada solusi-solusi konseptual pembangunan untuk masyarakat desa tetapi pada implementasinya jarang yang menghasilkan target penyelesaian masalah.

“Masih banyak program negara, bahkan juga dari kalangan swasta yang sifatnya sporadis. Kebanyakan masih meletakkan prinsip berbuat baik, bukan target menghasilkan kebaikan. Misalnya, mengatasi kemiskinan dengan cukup berderma, atau sekadar mengajak kegiatan dengan alokasi waktu terbatas, sementara kebutuhan untuk sukses membutuhkan proses waktu yang panjang,” kata Budhiana kepada Odesa.id, Sabtu, 8 September 2018.

Tiga Bidang Pemberdayaan
Budhiana yang selama tiga tahun belakangan ini aktif menggerakkan kegiatan pendampingan untuk kalangan petani pra-sejahtera (sangat miskin) tersebut melihat ada tiga bidang garapan yang mendasar untuk digarap, yaitu, Pendidikan, Ekonomi, dan Kesehatan.




Di Yayasan Odesa Indonesia, ketiga bidang tersebuut digalakkan dengan beberapa program di antaranya, mendirikan sekolah Sabtu Minggu yang dikenal sekolah SAMIN. Kegiatan ini mengaktifkan lebih 100 anak-anak di Kawasan Pasir Impun Cimenyan dengan model Pembelajaran Media Aktif.

Sementara kegiatan ekonomi mengambil beberapa kegiatan antara lain pembibitan tanaman pangan dan tanaman herbal, memajukan peternakan petani kecil, dan membuka jaringan pasar bagi para petani. Sedangkan dalam bidang kesehatan menurut Budhiana, fokus utamanya adalah memperbaikan sanitasi rumah tangga miskin dengan membangun beberapa sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK), mengalirkan air untuk warga yang kesulitan air, mendorong mitra dari kota untuk memberikan penyuluhan dan pengobatan gratis di desa, dan juga membantu pelayanan transportasi warga yang sakit.

“Ini adalah problem lama yang belum di jawab negara. Kami mengambil peran tersebut karena sebelumnya tidak menyangka kalau di desa-desa yang jaraknya hanya sekitar 5-15 Km dari Pusat Kota Bandung masih ada kehidupan yang sangat terbelakang dan mengalami marjinalisasi. Dan itulah wujud ketidakadilan sosial yang nyata,” paparnya.

Dalam urusan strategi kegiatan, Budhiana menambahkan, penting saat ini dilakukan kegiatan pemberdayaan dengan menerapkan pola pendampingan. Sebab jika tanpa pendampingan dari hulu ke hilir hal akan sulit dicapai karena salahsatu problem mendasar dari kemiskinan adalah kelemahan pola pikir, mental dan etika.

“Ketiganya harus diperbaiki kalau ingin pemberdayaan yang kita lakukan berhasil,” paparnya.

Di Yayasan Odesa Indonesia, program kemitraan dengan kalangan swasta baik dari perusahaan, institusi pendidikan maupun pribadi semakin aktif berjalan, terutama sejak pertengahan tahun 2018. Salahsatu hal yang penting dari model kegiatan pendampingan yang ditawarkan Odesa Indonesia menurut Budhiana supaya program kegiatan dari mitra juga mendulang sukses. Jangan kita hanya menyerap anggaran dan berpuas pada terlaksana-nya pembangunan, apalagi hanya pembangunan fisik.

“Kita butuh serius dalam pembangunan sumberdaya manusia agar masyarakat korban ketidakadilan ini bisa mengurus diri mereka, memperbaiki rumah tangganya, dan memperbaiki lingkungan tempat mereka hidup,” jelasnya.-Mudris.

Menyalurkan Bantuan Tepat Sasaran

1 Trackback / Pingback

  1. Menyalurkan CSR: Tepat Sasaran dan Berkelanjutan – Odesa-Indonesia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*