Yang Maju dan Yang Tergilas Oleh Modernisasi

Oleh Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia, Bandung
Seputar #kemiskinan #ilmusosial #ketidakadilan #sikapsosial #ketimpangan

Semakin modern semakin maju kehidupan manusia. Siapa yang maju? Ada yang maju pasti ada yang tertinggal. Siapa yang tertinggal?

Teknologi lahir dari pemikiran, memajukan masyarakat. Siapa yang maju? Siapa yang mendapat kemudahan? Siapa yang mendapat penghasilan cepat dari teknologi itu?

Teknologi besar dipakai oleh kaum bermodal, kemudian menyeret sekelompok golongan berpendidikan? Mereka yang lemah berpendidikan menjadi kuli rendahan bahkan tak terpakai. Modernisasi tidak selalu membawa berkah untuk rakyat kecil.

Lahirnya ilmu sosial tujuannya untuk mencegah terjadinya ketidakadilan. Misalnya ketidakadilan dalam akses teknologi. Petani kecil kita masih bekerja zaman majapahit. Cangkul dan arit. Pemerintah sampai kini tidak berpikir serius memodernkan petani kecil. Lihat India dan Cina yang kreatif.

Ilmu sosial belum menjadi panglima untuk mengatasi ketidakadilan sosial, kemajuan teknologi terus melaju. Siapa yang melaju? Segelintir kelompok. Anaknya orang makmur lebih bisa makmur. Generasi miskin pra sejahtera tetap di lapisan bawah.

Kemajuan ekonomi berbasis teknologi yang tidak adil selain melahirkan problem besar dunia, yaitu kesenjangan sosial, juga melahirkan problem baru, namanya problem lingkungan hidup. Banyak rakyat sengsara. Negara bangsa yang tak demokratis digugat. Indonesia bergolak 1998. Lahir reformasi.

Setelah reformasi? Lahir beragam kebijakan untuk memperbaiki. Lumayan. Siapa yang diuntungkan? Tetap lapisan atas, lalu menurun, sayang tidak sampai ke lapisan paling bawah. Bantuan-bantuan dari negara kaya untuk negara miskin untuk negara habis untuk urusan pejabat, sedikit sampai ke rakyat jelata.

Tahun 1980 Prof Selo Soemardjan menulis: “Negara-negara kaya mengirimkan bantuan. Bantuan-bantuan yang mereka berikan itu banyak menguntungkan golongan yang berkuasa-beruang, hanya sedikit sekali yang memberi manfaat pada golongan miskin; padahal lebih memerlukan bantuan.

Problem 40-50 tahun lalu masih terjadi. Lihat data BPS dari tahun ke tahun. Keadilan menyangkut hak-hak dasar kewarganegaraan untuk keluarga Pra-Sejahtera (sangat miskin) problemnya sama dengan masalah tahun 1970an. #pangan #air #sanitasi #pakaian #layanankesehatan #pendidikandasar #rumahtempattinggal

Pada era 1980an, LP3ES sudah banyak menggodok ilmu sosial untuk mengatasi persoalan ketimpangan sosial. Para ilmuwan seperti Gus Dur, Selo Soemardjan, Soejatmoko, Alwi Dahlan, J.I Tamba, Kartidjo dll sering membicarakan masalah ini.

Kita telah punya panduan keilmuwan, namanya cultural focus. Tujuannya untuk menajamkan cara penyelesaian pada masyarakat lapisan bawah. Yang global berpikir national focus, maka yang national focus inilah seharusnya serius pada cultural focus. Untuk apa? Menjawab problem kemsikinan struktural.

Ilmu tentang Kemiskinan Struktural ini rumusnya sederhana tapi sangat penting dijadikan standar kerja para sukarelawan sosial. Lawan dari kemiskinan struktural adalah kemiskinan individual.

Kemiskinan individual itu dialami oleh individu yang malas bekerja atau sakit-sakitan terus sehingga tidak berkembang maju. Sedangkam kemiskinan struktural adalah yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosialnya tidak dapat berpartisipasi memanfaatkan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya ada.

Kemiskinan struktural ini paling penting diselesaikan karena menyangkut hak hidup banyak orang. Sekali solusi dampaknya luar luas. Tentu tanpa meninggalkan pentingnya perhatian terhadap golongan kemiskinan individual.

Siapa yang miskin struktrutal? Ialah para petani kecil (peasant) bukan farmer. Peasant ini termasuk kuli kecil perdesaan yang sering kita temukan bermigrasi ke kota sebagai pekerja rendahan.Bung Karno menyebut golongan Marhaen. Mereka memang punya modal kecil, tanah kecil, teknologi kecil, ilmunya juga kecil. BKKBN Menyebut #Prasejahtera

Sampai detik ini, bangsa Indonesia menghadapi masalah ini. Lahirnya banyak kelas menengah maju berpendidikan ternyata tidak otomatis mampu menyelesaikan masalah. Banyak politisi baru dari golongan baru; bersekolah di PTN yang menyita banyak anggaran negara, tapi kontribusinya untuk rakyat kecil minim. #asosial

Pertumbuhan kelas menengah baru yang mengambil peran sosial di luar negara masih banyak yang #asosial. Ironinya, kelas menengah yang mengambil peran di struktur negara malah lebih parah, #asusila mencuri uang negara untuk memperkaya diri. Orang miskin terlantar.

Perhatian kita pada golongan miskin, terutama di desa-desa sudah tepat. Seperti memproduksi Undang-Undang Desa #danadesa. Yang lupa adalah bahwa kebijakan struktural ini dilakukan oleh kelas menengah yang #asosial bahkan #asusila politik. Itulah mengapa dana desa trilunan tidak banyak mengurangi orang miskin.

Dana desa kemana? Menteri Keuangan Sri Mulyani cemas. Muncul amarah positif: dana desa untuk rakyat desa, bukan pejabat desa. Perangkat desa mendengar tidak ungkapan ini? Kalau mendengar lalu sikapnya bagaimana?
Kita sudah hidup di era maju. Yang maju eranya. Realitas sosialnya sangat terpuruk. Namanya #ketidakadilansosial. Siapa yang pasti disalahkan? Ialah negara. Isinya pemerintah. Isinya politisi dan pejabat-pejabat yang bekerja sebagai PNS. Mereka menghabiskan banyak uang negara. Untuk apa?

Sebenarnya uang negara ya untuk menyelesaikan masalah-masalah dari beban negara. Namanya rakyat miskin.
Menyalahkan pemerintah, pejabat dan politisi yang tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah akar rumput itu boleh dan sah. Lakukan saja. Tapi kita mesti juga berperan aktif menyelesaikan masalah, dengan model dan cara yang kreatif. Uang?

Uang bukan segala-galanya. Apalagi kalau tidak memakai ilmu, ditambah lagi minim sikap kemanusiaan, miskin sikap empati. Realitas sosial kita lebih banyak yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Masalah kemiskinan yang harus diatasi misalnya, terkadang tidak sesulit apa yang dipikirkan sebelumnya. Terjun ke lapangaan.

Itulah mengapa Yayasan Odesa Indonesia bergiat serius ke lapangan, karena sering menemukan serendipity dalam menghadapi kelompok #prasejahtera #sangat miskin. Tidak semudah yang dibayangkan, tidak juga sesulit yang diasumsikan.

Dua tahun bekerja mengambil peran sosial di Kawasan Bandung Utara (KBU) dengan tiga bidang, ekonomi, pendidikan dan layanan kesehatan, memungkinkan Odesa Indonesia menemukan jalan pembaharuan dalam ilmu sosial. Mengatasi kemiskinan berbuah ilmu pengetahuan? Apa wujudnya?

Yang didapat oleh Odesa Indonesia dari galian akar rumput kemiskinan adalah istilah Kemiskinan Budaya. Ada budaya miskin. Itu bagian dari ilmu. Tapi kemiskinan budaya merupakan bagian penting yang harus dikaji dan Odesa Indonesia telah menyusun pengetahuan ini. Baru: untuk rakyat Indonesia yang lebih maju dengan ilmu.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *