Tragis. Puluhan Rumah Tangga ini Hidup tanpa Air Bersih

Bagaimana seandainya dalam satu hari aliran air mati? Apa yang Anda rasakan? Bagaimana kita membayangkan hidup berpuluh-puluh tahun tanpa aliran air di rumah?

Suatu hari di akhir Oktober 2017. Saya bersama Enton Supriyatna (Pemimpin Redaksi Galamedia) masuk ke sebuah kampung. Sentak Dulang namanya.Puluhan rumah berdiri acak di lereng bukit. Masih banyak pohon di sekitar kampung ini. Orang-orang Kota yang saya ajak datang di Kampung ini biasanya merasa nyaman karena mereka menghirup oksigen yang melimpah.Jarak antar rumah yang berjauhan membuat suasana begitu hening. Pada siang hari nyaris tak ada suara bising. Kampung yang masuk wilayah Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung ini berada di perbatasan dengan Desa Cikadut.

Satu agenda khusus sama bersama Enton di Kampung itu adalah membuktikan detail-detail fakta lapangan terkait dengan masalah air. Khusus soal air, pada beberapa bulan sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di dua RT di Kampung Sentak Dulang itu ada masalah air. Kalau di kampung-kampung lain persoalan lebih fokus pada kekurangan air pada musim kemarau dan sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK), di Sentak Dulang justru kesulitan air tidak mengenal musim. Kemarau kekeringan, musim penghujan orang-orang kesulitan berjalan karena licin. Tidak memiliki akses air bersih di rumah. Inilah yang menjadi masalah.





“Sumber air jauh-jauh, dan tidak ada sumur bersama,” kata Ujang Rahmat, seorang guru ngaji yang biasa menjadi guide kami dalam berkegiatan di sekitar Cimenyan.

Bahkan menurut Rahmat, ketika musim penghujan masuk seperti bulan Oktober tahun ini, air bersih tetap bermasalah di Sentak Dulang, khususnya pada 80 keluarga. Terutama pada 42 Keluarga di lereng bukit, kebutuhan air bersih menjadi masalah.

Pada siang itu, kami memeriksa sumber air yang ada. Letaknya di bagian bawah bukit, jaraknya hanya 100 meter dari Kuburan Syekh Abdul Teger (Situs Cagar Budaya Pemkab Bandung). Sumber air yang tak terlindungi itu dibagi menjadi dua. Satu untuk mandi warga dan satunya untuk mengambil air minum. Selain itu terdapat informasi adanya sumber air dari balik bukit.

Kami pun melihat keadaan di puncak bukit. Di sana ditemukan selang dari sumber air perbukitan. Naas, ketika batu penutup dibuka oleh Enton, tak tampak air mengalir. Lalu kami periksa pada penampung di jarak sekitar 50 meter. Terlihat bagian dalam bak tersebut hanya lumpur becek bekas tersiram hujan beberapa hari sebelumnya.

“Air yang itu bukan untuk mandi. Itu air kotor,” kata Pak Umar seorang warga Sentak Dulang.

“Air Kotor buat apa?” tanya saya.

“Ya buat cuci-cuci piring,” jawabnya.

Saya dan Enton saling bertatap muka. Air kotor buat cuci piring? Kami sama-sama maklum untuk tidak mempersoalkan terlebih dahulu. Kita terbiasa mengecek informasi sampai tahap sahih ke beberapa pihak. Dan siangnya kami mendapatkan lebih empat informasi bahwa memang kampung ini bermasalah besar dengan air:




“Sudah, diotak-atik apapun urusan air di Sentak Dulang ini tidak ada. Intinya sanitasi buruk dan warga tidak mungkin bisa melaksanakan ibadah secara baik, piring tidak mungkin bersih, pakaian jarang dicuci, dan mandi tidak tertib,” begitu kesimpulan saya kepada Enton.

Fakta buruk kemiskinan

Dari fakta tersebut menunjukkan bahwa puluhan rumah tangga di kampung Sentak Dulang ini masuk variable kemiskinan sebagaimana yang disebutkan Badan Pusat Statistik karena 1) warga mengambil air minum berasal dari sumur/mataair/ yang tidak terlindungi. 2) tidak memiliki fasilitas buang air karena kebanyakan warga buang hajat di kali dekat tempat pengambilan mata air minum.

Dua keadaan air ini masih akan lebih mengenaskan kalau dikaitkan dengan variable kemiskinan lain karena memang terdapat puluhan rumah tangga yang jauh dari parameter kesejahteraan seperti rumah sempit dihuni 3-4 anggota keluarga dengan situasi rusak dan hampir ambruk, sumber ekonomi buruh tani yang pendapatannya di bawah Rp 600.000 per bulan, pendidikan terakhir kepala rumah tangga sebagian tidak bersekolah, tidak tamat SD atau hanya tamatan SD.

Di bukit bebatuan yang tanahnya subur itu. Di zaman modern serba teknologi canggih ini. Di era politik desentralisasi. Di wilayah Kecamatan hasil pemekaran ini. Di kampung yang jaraknya dari Kantor Gubernur Jawa Barat hanya sekitar 7 Km. Pada masa ketika pemerintahan telah memiliki Anggaran Desa. Kenyataannya, ini bukan lagi soal keluarga pra-sejahtera, melainkan kampung pra-sejahtera yang berada di bawah Desa Tertinggal Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Presiden Jokowi tentu tidak tahu masalah ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mati-matian membela anggaran kebutuhan air dan memangkas triliuan biaya dinas pejabat pun tidak tahu masih ada masalah seperti ini. Gubernur Jawa Barat tak akan tahu kawasan Bandung Utara punya masalah memalukan seperti ini karena tidak ada informasi yang masuk. Bahkan kalaupun sudah dipublikasikan di koran Galamedia akhir oktober lalu, barangkali Gubernur tidak membaca. Atau kalau membaca ia punya alasan tidak bertindak karena menganggap kewenangan pada Bupati Bandung. Jangan pula tanya pada Bupati Dadang Nasir. Apakah Camat Cimenyan juga tahu keadaan seperti ini? Lalu bagaimana Kepala Desanya memberikan prioritas dana desa untuk air?

Sengkarut persoalan desa seperti ini tidak banyak diketahui oleh pejabat, bahkan selevel Camat Sekalipun. Mengapa sampai hari ini urusan hidup yang paling mendasar tidak diprioritaskan sejak dulu?




Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) mencanangkan standar kebutuhan manusia atas air paling tidak 70 liter setiap hari. Bagaimana dengan warga yang sebagian hidup di bangunan rumah tidak layak huni itu seharusnya mendapatkan pasokan air 70 liter setiap hari?

Kami melihat langsung, satu orang membawa dua ember mengambil air dari sumber air tradisional bertutup kain bekas spanduk itu. Ember tersebut mampu memuat 3,5 liter air. Airnya setiap sekali mengambil warga hanya bisa mendapatkan 7 liter air. Itu pun didapat dengan “ngos-ngoson” karena menempuh jarak cukup jauh dengan jalan menanjak bukit. Ada yang berjarak 50 meter, ada yang 100 meter dan ada pula yang berjarak lebih 300 meter.

Jalan kaki disertai beban di perbukitan bisa dianggap olahraga. Tapi niat orang mengambil air untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dengan cara olahraga mungkin itu hanya ada dalam pertunjukan drama. Dagelan hidup yang tak perlu ditayangkan berulang-ulang karena tidak logis untuk ukuran hidup di zaman sekarang ini. Beban hidup mereka sebagai pekerja fisik sudah berat, masih harus ditambah dengan beban memenuhi air saban hari dengan cara yang berat. Apalagi kalau bukan tragedi?

Kita punya negara, kita punya agama. Negara tidak berhasil mewujudkan adil makmur bagi setiap warganya bahkan yang tinggal di tanah subur. Agama (Islam) tak mungkin bisa diamalkan dalam hal ibadah wajibnya manakala air bersih tidak tersedia. Bagaimana mungkin mereka bisa menjalankan shalat subuh manakala antrean air untuk wudlu dan buang hajat terkadang dimulai dari jam 1:00 malam?

Itu baru satu sisi. Lalu bagaimana dengan ibu yang memiliki anak bayi? Betapa berat beban hidup keseharian mereka. Suami harus menyediakan air yang terbatas diambil dengan hanya mendapatkan 7 liter sekali perjalanan. Pada urusan pakaian tak usah ditanya lebih jauh. Ada warga yang mengaku dengan malu-malu mencuci pakaian seminggu sekali. Kaos atau celana kerja di ladang bahkan tidak pernah dicuci kecuali sudah menebal tanahnya.




Mendengar laporan akhir dari pengecekan akhir ini, Budhiana Kartawijaya menyatakan, “Tugas jurnalis menyuarakan persoalan warga akar rumput itu baik, namun lebih baik lagi kalau kita bisa bertindak menyelesaikan masalah itu sampai tuntas. Tuntasnya apa? Minimal menyediakan sumber air, membangun bak penampung dan membangun sarana MCK komunal yang bisa memudahkan warga mendapatkan pasokan air tercukupi.”

Tahapan Solusi

Setelah pemetaan lapangan tersimpulkan usaha yang harus dilakukan adalah:

1) Mengusahakan sumber air dengan pengeboran model sumur artesis karena kemungkinan dari perbukitan itu perlu menembus lapisan tanah bebatuan hingga 100 meter. Sebab sumber air selama ini sangat jauh melewati lebih dua kilometer ladang yang rawan persoalan saat musim kemarau karena banyak petani yang juga tidak memiliki sarana irigrasi yang memadai. Di kampung tetangga Sentak Dulang yang mengambil sumber air dari kampung singkur berjarak lebih 3 kilometer sampai saat ini juga dirundung masalah seretnya aliran air.

2) Perlu survei ahli pengeboran sebelum dilakukan tindakan mengebor bukit bebatuan itu.

3) Membangun bak penampung air dan dibangun pula sarana Mandi Cuci dan Kakus (MCK) komunal selagi belum bisa menyalurkan air satu persatu ke setiap warga. Dengan MCK komunal yang baik di salahsatu deretan kampung bagian atas tersebut paling tidak 28 rumah akan mendapatkan pasokan air minum dan kebutuhan air rumah tangga lebih layak.

4) Sumber air galian sumur itu nantinya juga bisa dimanfaatkan warga di bagian bawah bukit, kampung Cisanggarung yang selama ini masih kekurangan pasokan air yang didapat dari kampung Singkur. -Faiz Manshur. Ketua Yayasan Odesa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *