Rumusan Masalah dan Solusi

EKSODUS: RUMUSAN MASALAH DAN SOLUSI
Modernisasi melahirkan banyak terobosan hidup untuk menjadi lebih baik. Namun tidak semua dari modernisasi itu mampu menjaga nilai-nilai ekologi sehingga ekosistem tidak berjalan baik. Perhatian negara atau masyarakat terhadap nilai-nilai kebaikan dalam lingkungan (rumah tangga, lahan pertanian, lahan industri, ruang publik masyarakat desa/dusun dan seterusnya) selalu mengalami pergeseran, dan tidak semua perubahan itu menimbulkan perbaikan. Perubahan kehidupan semakin cepat sementara respon negara sering tertinggal, bahkan tidak sealur dengan kebutuhan dalam menjawab problem yang muncul.

Desa (terdiri dari beberapa dusun) di negeri ini terus mengalami degradasi. Harapan perbaikan tidak cukup dengan program yang ternyata hanya berupa proyek (material) dari APBD dan Dana Desa . Banyak kemiskinan ekonomi, buruknya kesehatan dan rendahnya pendidikan di desa karena persoalan Sumber Daya Manusia (SDM) sering diabaikan dan negara hanya berkonsentrasi dalam urusan material/infrastruktur. Banyak tenaga kerja yang baik harus pindah ke kota karena desa tidak menyediakan kesempatan untuk proses belajar dan meraih nilai kerja di desa. Usaha perbaikan masyarakat perdesaan oleh negara ternyata juga masih jauh dari harapan. Salahsatunya disebabkan tidak punya fokus dalam mengatasi masalah pada level terendah, yaitu dusun.

Pemerintahan desa sebenarnya punya peluang untuk membenahi masyarakat dari sekup kecil desa, namun pada kenyataannya kebijakan desa masih harus terbagi-bagi pada urusan bergiliran membenahi satu persatu dusun. Tidak fokus adalah bagian dari persoalan yang harus kita selesaikan.

Karena alasan inilah organisasi Eksodus (Ekosistem Sosial Dusun) akan bergerak dengan memilih fokus gerakan (pendampingan) berbasis kewargaan pada sekup dusun. Gagasannya adalah menyelesaikan masalah dengan pendekatan ekosistem. Ekosistem Sosial Dusun (Eksodus) memiliki spirit perbaikan lingkungan hidup keluar dari keterbelakangan menuju kemajuan. Sasarannya adalah perbaikan Sumber Daya Manusia (SDM). Para penghuhi dusun harus bergotong-royong bukan semata urusan kerja bakti, tapi memiliki pemahaman dan kesadaran untuk berubah dengan kemampuan menggali akar persoalan, memahami dan mencari solusi sendiri di level internal mereka.

Problem kewargaan dusun harus mulai dipecahkan. Segenap potensi Sumber Daya Manusia (SDM) perdusunan (remaja, pemuda, ibu rumah tangga dan bapak-bapak) harus punya kesempatan untuk aktualisasi sosial menciptakan sebuah peluang-peluang baru dalam tiga bidang kehidupan yang pokok, yaitu ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Ketiga elemen ini wajib terus digulirkan karena merupakan kebutuhan hidup. Setiap individu yang hidup harus baik ekonominya, harus sehat pikiran dan fisiknya, dan harus mendapatkan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan.
Rumah tangga warga dusun harus terpenuhi air bersih. Lingkungan sekitar rumah harus bersih dan sehat sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ekonomi dengan tani pekarangan. Sarana penampungan air level rumah tangga harus terpenuhi. Sarana Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) harus memenuhi kelayakan karena selain alasan kesehatan juga ada kebutuhan spiritual sebagai umat beragama yang tertuntut untuk memenuhi kebersihan setiap hari.

Jalan, termasuk trotoar dan selokan dusun harus baik agar saat mereka berpergian maupun menerima tamu selalu dalam situasi nyaman dan meningkatkan kebahagiaan. Anak-anak dusun harus mendampatkan pendampingan tambahan pendidikan dengan kegiatan belajar agar tidak tertinggal dalam merespon perubahan hidup yang begitu cepat serta memiliki solusi atas nasib mereka di kemudian hari. Ibu rumah tangga harus terus mendapatkan pengetahuan baru untuk urusan pengasuhan anak, mengurus makanan yang sehat, memiliki kemampuan yang baik dalam pengaturan ekonomi dan lain sebagainya. Setiap individu sebelum mati harus juga terus mendapatkan pendidikan, sebab ilmu pengetahuan adalah kekuatan terbaik untuk mengatasi setiap masalah. Persoalan hidup bukan semata urusan ekonomi, apalagi semata duit. Ada urusan sakit encok hingga stroke yang menuntut pengetahuan bagi para penyandangnya agar bisa menyelesaikan masalah fisiknya seperti dengan kemampuan meramu herbal saat mereka sakit sehingga tidak perlu ke rumah sakit dan itu secara konkret akan mengurangi pemborosan rumah tangga, tidak merepotkan sanak-keluarga-tetangga dan juga akan menghemat beban keuangan kesehatan negara.

Warga penghuni negeri ini juga harus mendapatkan asupan oksigen yang sehat. Udara kita banyak tercemar terutama oleh industri, sementara warga desa yang tidak mendapatkan berkah industri juga harus menjadi korban. Dibalik keterpurukannya warga desa, pada level kewargaan dusun inilah saatnya kita memainkan aksi untuk solusi secara aktif. Misalnya, harus ada penguatan kesadaran di antara warga untuk mengurus pertanian agar ekologi tetap terjaga. Manual-manual kegiatan pertanian dari Food Organization Agriculture (FAO) yang bagus harus menjadi ilmu pengetahuan bagi petani di level dusun. Mobilisasi ilmu pengetahuan berbasis ekosistem harus dipahami. Pangan mereka harus sehat, ternak mereka harus bermanfaat (bukan menimbulkan penyakit), dan kegiatan pendidikan mereka harus menyenangkan, serta merta mereka harus mendapatkan teknologi baru yang tepat guna membantu penyelesaian masalah-masalah pertanian. Tak hanya lahan pertanian, warga dusun juga berpotensi mengurangi pemubadziran lahan kosong walaupaun hanya 1 meter persegi. Jangan ada tanah mubazir karena semuanya bisa menolong kehidupan mereka baik secara ekonomi, kesehatan maupun estetika. Perbaikan pertanian selain membutuhkan skill yang baru juga membutuhkan keberagaman jenis tanaman untuk menciptakan ekosistem yang laras. Konsep keanekaragaman hayati harus dimulai dengan mulai menanam banyak jenis tanaman baik tanaman pangan, tanaman obat, maupun tanaman penghijauan.

AKSI
Setiap dusun memiliki masalah masing-masing yang dipastikan akan berurusan dengan tiga bidang utama, yaitu ekonomi (kemiskinan/kesejahteraan), kesehatan (air, lingkungan, akses layanan kesehatan) dan pendidikan (sekolah, literasi/pendidikan, solidaritas sosial).

Untuk menyelesaikan masalah tersebut sangat sulit untuk langsung secara bersamaan. Biasanya memakai pendekatan skala prioritas dengan mengambil satu persoalan mendasar. Kami akan mengambil persoalan yang paling mendesak untuk diselesaikan kemudian dijadikan pintu masuk mengurus masalah-masalah lain yang menurut kesepakatan warga harus diatasi bersama. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *